[Vol. 1] Love Story

[Vol. 1] Love Story

Title : [Vol. 1] Love Story

Author : winaasri

Cast : Cho Kyuhyun | Choi Sooyoung | Choi SeungHyun

Genre : Romance

Rating : G

Length : Series

****

Kyuhyun POV

Sepanjang musim panas yang sempurna – musim panas paling membahagiakan yang pernah kualami, musim panas paling membahagiakan yang pernah dialami siapa pun di mana pun.

Aku melewatkan sarapan, terburu-buru ingin meninggalkan rumah secepat mungkin – agar tidak terlambat ke sekolah *Kampus*.

Aku mengendarai Volvo-ku menuju ke sekolah, berbelok memasuki lapangan parkir di belakang gedung sekolahku dan melihat Sooyoung bersandar di mobilnya. Sudah satu tahun aku berpacaran dengannya, aku masih belum percaya aku pantas memperoleh keberuntungan sebesar ini.

Kubanting pintu Volvo milikku dan berjalan lambat-lambat menghampiri Sooyoung. Dan saat ia melihat kedatanganku ia melambai-lambaikan tangan, aku membalasnya dengan senyum.

“Hai, Kyuhyun” Sooyoung berlari menghampiriku, wajah mungilnya berseri-seri di bawah rambut cokelatnya yang tergurai.

“Hai!. Ayo, kita bisa terlambat masuk kelas.”

Tidak ada yang repot-repot memandangi kami, saat kami seperti biasa mengambil tempat di belakang kelas.

Kyuhyun POV end

Sooyoung POV

Siang berlalu dengan cepat. Sekolah usai, dan seperti biasa, Kyuhyun mengantarku ke mobilku. Tapi kali ini, ia membukakan pintu penumpang.

“Aku, well, bukankah kau tadi membawa mobil?” tanyaku pelan, berusaha tidak menyinggungnya.

“Ya. Itu benar.” Kyuhyun tersenyum.

“Lalu?” tanyaku.

“Well, aku menyuruh Sungmin membawa mobilku setelah sekolah usai.” Katanya, ia menambahkan. “Aku ingin mengajakmu nonton film.”

Aku menerima ajakannya. Aku naik melewati pintu yang sudah terbuka, dan Kyuhyun menutup pintu dan berjalan untuk membuka pintu pengemudi – Kali ini Kyuhyun yang menyetir.

Setelah Kyuhyun memarkir mobilku di depan Grand 21 – seperti tujuan awal, ingin nonton film. Kyuhyun turun dari mobil, dan berjalan untuk membukakanku pintu dan menutupnya kembali setelah aku turun dari mobil. (?)

“Apakah ada film yang ingin kau tonton?” tanyaku, aku memang tidak tahu film apa yang sedang diputar saat ini.

“Well, aku ingin menonton Resident Evil.” Ucap Kyuhyun tersenyum.

Aku langsung tertarik pada judulnya. “Cerita tentang apa?”

“Zombie dan semacamnya. Aku lebih suka berurusan dengan zombie daripada nonton film cinta-cintaan.” Kata Kyuhyun.

“Kedengarannya menarik.” Ucapku setuju.

Filmnya main lebih awal, jadi Kyuhyun mengusulkan supaya kami nonton pertunjukkan sore dan sesudah itu baru makan.

“Aku mau beli Popcorn dulu. Kau mau juga, Sooyoung?” Tanya Kyuhyun.

“Tidak, terima kasih.” Kataku.

Kyuhyun berjalan melewatiku dan menuju konter makanan, tak lama kemudian Kyuhyun menghampiriku dan menarikku.

“Ayo, Sooyoung. Filmnya akan dimulai.” Kata Kyuhyun, aku terkekeh melihat tingkahnya.

Kyuhyun mendekapku ke dadanya selama preview film-film baru. Tapi aku gugup waktu filmnya dimulai. Sepasang suami-istri yang sedang bermesraan di ranjang, berpelukan, dan mendiskusikan perasaan mereka dengan ekspresi penuh cinta yang memuakkan dan palsu.

“Katanya film zombie” desisku pada Kyuhyun.

Kyuhyun tertawa kecil mendengar perkataanku. “Memang film zombie kok.” Ia menyodorkan popcorn-nya. Aku mengambil segenggam.

Aku kembali fokus pada film. Pasutri tersebut masih bermesraan di ranjang, tiba-tiba mereka mendengar bunyi ketukan yang berasal dari pintu kamar mereka. Si suami bangkit dan turun dari tempat tidur, membukakan pintu kamar yang terkunci rapat. Mereka mendapati putri mereka di depan pintu kamar dan menyerang si suami dengan tiba-tiba. Si istri yang menyadari putrinya bertingkah aneh dan menyerang suaminya hingga berlumuran darah, menjerit-jerit ketakutan. *Resident Evil versi terbaru ^o^.

Film itu dipenuhi adegan serangan zombie serta jeritan tanpa henti segelintir orang yang masih hidup, jumlah mereka menyusut cepat. Baru setelah menjelang akhir cerita, saat memandangi wajah si zombie yang kurus cekung, terseok-seok menghampiri manusia terakhir yang menjerit-jerit ketakutan. Adegannya berganti-ganti antara wajah ketakutan si tokoh wanita, dengan wajah mati tanpa ekspresi makhluk yang mengejarnya, semakin lama semakin dekat.

Dua menit kemudian. Filmnya habis. Aku dan Kyuhyun bergegas dan berjalan ke pintu keluar – sambil bergandengan tangan.

“Kau mau makan di mana, Sooyoung?” tanyanya, memecah keheningan yang berlangsung.

“Terserah.” Kataku, suaraku pecah.

“Oke.”

Aku tidak terlalu memperhatikan ke mana Kyuhyun mengajakku. Sosok zombie tadi – aku tidak mau berpikir itu lagi – sulit dienyahkan dari kepalaku. Aku baru mengetahui ke mana  Kyuhyun mengajakku, saat kami berjalan memasuki McDonald’s.

“Kau mau pesan apa, Sooyoung?” Tanya Kyuhyun.

“Ehm.. oh, aku pesan hamburger saja.”

“Ok! Well, aku pesan hamburgernya dua, sama… root beernya dua.” Kata Kyuhyun saat memesan makanan, dan merogoh dompet dari saku celana – mengeluarkan sejumlah uang yang tertera di mesin kasir.

Selesai makan, kami kembali ke mobilku. Kyuhyun mengotak-atik radio sementara aku menyetir, menggeleng sebal.

“Sinyal radiomu jelek sekali.” Ejek Kyuhyun.

“Kepingin stereo yang bagus? naik mobilmu saja.” Kataku dengan nada yang ketus membuat Kyuhyun mengatupkan bibir rapat-rapat menahan senyum.

Setelah aku memarkir mobilku di depan rumahku, Kyuhyun merengkuh wajahku dengan kedua tangan. Ia memegangku sangat hati-hati. Kyuhyun mendekatkan kepalanya ke wajahku dan menempelkan bibirnya ke bibirku. Aku membiarkan diriku hanyut dalam ciumannya dan berkonsentrasi untuk ingat menghirup napas dan mengeluarkannya.

Kyuhyun melepaskan wajahku dan melepaskan tanganku yang mendekap tengkuknya erat-erat.

“Ehm.. Sooyoung.” Kata Kyuhyun ragu-ragu.

“Ada apa, Kyuhyun?” tanyaku penasaran.

“Hidungmu…..” Kyuhyun tidak melanjutkan kata-katanya.

“Ada apa dengan hidungku?” tanyaku was-was, aku meraba hidungku dengan jari-jariku. Aku melihat jari-jariku penuh dengan bercak-bercak darah.

Sooyoung POV end

Kyuhyun POV

Aku terkejut melihat darah mengalir dari hidung Sooyoung. “Ehm.. Sooyoung.” Kataku ragu-ragu.

“Ada apa, Kyuhyun?” tanyanya.

“Hidungmu…..” aku tidak melanjutkan kata-kataku.

“Ada apa dengan hidungku?” tanyanya, Sooyoung meraba hidungnya dengan jari-jarinya. Darah itu tidak berhenti mengalir dari hidungnya yang mungil. Aku menangkap ekspresi kaget dari wajah Sooyoung  – saat melihat jari-jarinya penuh dengan bercak darah.

“Sooyoung !!” bentakku, merasa khawatir.

“Ah… ini.. pasti aku terlalu kelelahan.” Katanya, sambil berusaha menghentikan pendarahan di hidungnya.

“Aku akan membawamu ke rumah sakit.” Kataku, mengambil ahli kemudi dan melesat menuju rumah sakit.

Kyuhyun POV end.

Sooyoung POV

Selain merasa shock, aku juga merasa kesakitan, pusing, dan linglung. Tapi aku berusaha menutupi rasa sakit dan berusaha tenang – tidak ingin membuat Kyuhyun merasa khawatir dengan keadaanku saat ini.

Aku mendongakkan kepalaku, berusaha menghentikan darah yang tiada henti mengalir dari hidungku.

***

Aku dan Kyuhyun menunggu giliranku untuk diperiksa – di ruang tunggu. Aku melihat Kyuhyun sibuk mengotak-atik handphone-nya.

“Kyu, apa yang kau lakukan?” tanyaku penasaran.

“Aku memberitahukan keadaanmu kepada ayahmu, Sooyoung. Aku tidak mau ia khawatir, karena kau belum berada di rumah.” Jelasnya.

Tak lama kemudian,“Sooyoung, sayang, kau baik-baik saja?”

Itu suara yang pasti kukenali di mana pun – bahkan saat suaranya sarat oleh perasaan khawatir seperti sekarang ini.

“Ayah?” suaraku terdengar kecil, menoleh mencari datangnya suara itu.

“Aku di sini, sayang.” Kata ayahku, memelukku erat-erat.

“Apa yang telah terjadi, Sooyoung?” Tanya ayahku.

“Oh, aku.. aku hanya mengalami pendarahan di hidung, kau tidak perlu merasa khawatir, yah.” Kataku mencoba santai.

“Tapi… oh baiklah.” Gerutu ayahku.

Tak lama kemudian, seorang suster menghampiri kami dan menyuruh kami untuk diperiksa. ‘giliranku’ batinku – mempersiapkan mental, entah mengapa aku selalu merasa canggung bila berurusan dengan kata diperiksa dan dokter.

“Kyuhyun, kau tunggu di sini saja.” Kataku sedikit canggung.

“Baiklah.” Kata Kyuhyun, aku menangkap ekspresi khawatir dari wajah Kyuhyun.

“Tenanglah, Kyu. Aku hanya di periksa.” Kataku menenangkannya, tolol memang – berusaha menenangkan Kyuhyun, tapi aku sendiri merasa canggung yang berlebihan.

Ayahku membuka pintu ruang periksa, dan membiarkanku masuk lebih dahulu.

“Dr. Hyukjae?” gumamku.

“Benar, sayang,” jawab lelaki itu. “Apa yang terjadi padamu?” tanyanya, nadanya biasa-biasa saja.

Aku membeku dalam genggaman tanganku, kurasakan perasaan panik di pangkal tenggorokanku.

“ehm, aku hanya mengalami sedikit pendarahan di hidungku.” Aku berusaha tenang. Aku menambahkan, “Dan… aku merasa sedikit pusing.”

“well, sepertinya Sooyoung hanya kelelahan, tapi untuk pemeriksaan lebih lanjut …” Dr. Hyukjae menghentikan kata-katanya. “Dia terpaksa harus di rontgen (?)” .

‘di rontgen(?) apa penyakitku separah itu ?’ pikirku. Akhirnya aku hanya menggangguk pasrah ketika diharuskan untuk di rontgen(?) – untuk memastikan keadaanku.

Aku dan ayahku menunggu hasil rontgen di ruang periksa, sementara Kyuhyun masih menunggu di ruang tunggu.  Tak lama kemudian, Dr. Hyukjae atau bisa dibilang Eunhyuk datang membawa amplop yang sangat mencurigakan.

“ehm, Tn.Choi, bisa kita ke ruanganku? Ada yang ingin aku omongkan padamu Tn. Choi.” Kata Eunhyuk was-was.

“Baiklah, Dr.Hyukjae.” kata ayahku, “Apakah ini ada hubungannya dengan hasil pemeriksaan?” lanjut ayahku.

“Iya, Tn.Choi.” kata Eunhyuk.

Eunhyuk dan ayahku meninggalkanku di ruang periksa – sendirian. Aku sangat penasaran apa yang ingin Eunhyuk sampaikan kepada ayahku. Aku mencari kesempatan – diam-diam untuk mendengarkan percakapan mereka.

“ Itu tidak mungkin, Dr. Hyukjae ! tidak mungkin!”

“Itu semua bisa terjadi, Tn. Choi. Jika tuhan menghendakinya.”

“Tapi… mana mungkin Sooyoung mengalami Kanker otak? Dan…. Sudah stadium 3.”

Aku sangat shock mendengarkannya, kakiku terkulai lemas. Aku gemetaran, meski tidak kedinginan. Aku mendengar ayahku menangis tersendu-sendu. Aku harus menerima kenyataan ini walaupun berat rasanya, Cinta, hidup, makna … semua akan berakhir pada waktunya.

Aku meninggalkan ruangan Eunhyuk diam-diam dan kembali ke ruang periksa. Aku tidak ingin ayah melihatku di sana dan tahu kalau aku sudah mengetahui-nya. Aku tidak mau menambah kesedihannya.

Aku melihat ayahku dan Eunhyuk menghampiriku. Aku bisa menangkap ekspresi kesedihan di wajah ayahku.

“Ayah? Bagaimana hasilnya? Apa aku baik-baik saja?” aku berusaha tenang saat mengucapkan kata-kata itu.

“Sooyoung…” ayahku menghentikan kata-katanya, berusaha menyembunyikan kesedihan di wajahnya. “Kau hanya kelelahan, sayang.” Lanjutnya.

“Iya, Sooyoung. Kau hanya kelelahan.” Ucap Eunhyuk santai. Aku hanya menggangguk pelan.

Aku dan ayah berpamitan dengan Eunhyuk. Aku langsung keluar dari ruangan dan Kyuhyun langsung memelukku.

“Sooyoung, bagaimana hasil rontgen-nya? Apa kau baik-baik saja?” Tanya Kyuhyun khawatir.

“ehm, aku baik-baik saja, Kyu. Aku.. aku hanya kelelahan.” Aku terpaksa berbohong, aku tidak mau Kyuhyun mengetahui keadaanku yang sebenarnya. Ia pasti sangat terpukul kalau mengetahui keadaanku.

“Kyuhyun, kau bisa mengantar Sooyoung pulang?” Ucap ayahku, aku bisa menangkap nadanya yang sedikit sedih.

“Baiklah, aku akan mengantarnya pulang.” Kata Kyuhyun sedikit hormat.

“Aku akan membelikan obat untuk Sooyoung di apotek.” Jelas Ayahku.

Sooyoung POV end.

***

Kyuhyun POV

Sepulang sekolah, seperti biasa, aku mengantar Sooyoung ke mobilnya.

“Keberatan tidak kalau aku mengajakmu makan siang ke Yeolbong Restaurant hari ini?” Tanya Sooyoung sebelum kami sampai ke mobilnya.

“Tentu saja tidak.”

“Sekarang?” Tanya Sooyoung lagi, aku membukakan pintu untuknya.

“Tentu,” aku menjaga suaraku tetap datar, walaupun tidak menyukai nada mendesak dalam suaranya. Aku menutup pintu, lalu berjalan ke mobilku.

Sooyoung sudah sampai lebih dulu di Yeolbong Restaurant. Ia sudah memakir mobilnya di tempat parkir Yeolbong restaurant. Aku menghentikan Volvo-ku di depan mobilnya. Aku menghela napas dalam-dalam.

Sooyoung turun dari mobil waktu aku keluar dari mobilku, lalu berjalan menghampiriku. Ia mengulurkan tangan dan mengajakku masuk ke dalam Yeolbong Restaurant.

“ Kyu, kau mau pesan apa?” Tanya Sooyoung, memulai pembicaraan.

“Ehm… aku pesan jus strawberry saja, aku tidak lapar.” Kataku pelan.

“Ahjushi, aku pesan jus strawberry sama….  Jus apel saja.” Kata Sooyoung memesan.

“Oke. Ayo kita bicara.” Kataku. Nada suaraku terdengar lebih berani daripada yang sebenarnya kurasakan.

“Kyuhyun… aku ingin mengakhiri hubungan kita ini.” Kata Sooyoung – to the point.

Sunyi sejenak saat aku mengulangi kata-kata itu berkali-kali dalam pikiranku.

“Kau.. tidak menginginkanku?” aku mencoba mengucapkan kata-kata itu.

“Tidak.”

“ Well, itu mengubah semuanya.” Aku terkejut mendengar nada suaraku yang kalem dan tenang. Pasti karena perasaanku sudah mati rasa.

Sooyoung mengalihkan pandangan ke Jus Apelnya saat bicara lagi. “Tentu saja, aku akan selalu mencintaimu…Tapi, aku… lelah berpura-pura mencintaimu. Aku minta maaf untuk itu.”

“jangan lakukan ini.” Bisikku lemas

Sooyoung hanya menatapku, dan kelihatan dari matanya kata-kataku sudah terlambat. Ia sudah melakukannya.

“Kau tidak baik untukku, Kyu.” Kata Sooyoung datar.

“Kalau… kalau itu yang kauinginkan.”

Sooyoung menggangguk satu kali. Tangannya mencengkeram pergelangan tanganku. Ia bangkit berdiri, membungkuk dan menempelkan bibirnya sekilas ke bibirku, sangat sebentar. Mataku terpejam.

Terasa tiupan angin sekilas yang tidak wajar. Mataku terbuka. Dan bau masakan yang berasal dari dapur menandai kepergiannya.

Semua telah berakhir, orang yang satu-satunya kucintai, yang dulu kumiliki sekarang bukan milikku lagi.

Kyuhyun POV end

***

Sooyoung POV

“Sooyoung, aku … oh, sebaiknya kau berhenti melanjutkan sekolah.” Ayahku memandang putus asa saat aku lambat laun mencerna maksudnya.

“Apa salahku?” kurasakan wajahku mengernyit. Benar-benar tidak adil.

“Kau tidak melakukan apa-apa, hanya saja… aku tidak ingin terjadi apa-apa yang menimpa dirimu, Sooyoung.”

“Aku baik-baik saja kok.”

“Sooyoung.“  Suaranya berat

“Ayah, aku harus berangkat sekolah,” selaku, berdiri dan merenggut sarapanku yang belum disentuh dari meja.

Karena begitu terburu-buru ingin secepatnya menyingkir dari hadapan ayahku, aku termasuk orang pertama yang sampai di sekolah. Keuntungannya adalah, aku mendapat tempat parkir yang bagus sekali.

Waktu berlalu tanpa terasa bila aku di sekolah. Sebentar saja, lonceng sudah berbunyi. Aku mulai memasukkan buku-buku ke tas.

“Sooyoung?”

Aku mengenali suara Choi SeungHyun. Aku mendongak untuk melihatnya. Ia berdiri di hadapanku persis.

“Ya?”

“ehm, well, sebenarnya aku ingin tahu apakah kau mau….. pergi nonton film bersamaku?” ucap SeungHyun ragu-ragu.

“Kenapa kau mengajakku?” tanyaku dengan ramah.

“Kau orang pertama yang terpikir olehku bila aku sedang ingin kumpul-kumpul dengan teman cewek.” Seunghyun tersenyum.

“Well, entahlah.” Ucapku berpikir. “Bagaimana, kalau kita pergi ke alun-alun kota?” aku menambahkan, “Aku tidak ingin nonton film.”

“Baiklah, kalau itu yang kau mau.” Ucapnya tersenyum. “Bagaimana kalau aku menjemputmu sepulang sekolah nanti?” SeungHyun menawarkan diri.

“Tentu.”

“Sampai ketemu nanti, Sooyoung.” Ia melambai satu kali sebelum berbalik memunggungiku.

Aku tersaruk-saruk menuju kelas matematika dengan ekspresi muram. Di kelas ini aku duduk di sebelah Kyuhyun. Aku masih berdiri di luar kelas, sengaja berlama-lama.

Sambil mendesah, kudorong pintu hingga terbuka.

Tn. Lee melayangkan tatapan galak – ia sudah memulai pelajaran. Aku bergegas ke kursiku. Kyuhyun sama sekali tidak mendongak waktu aku duduk di sebelahnya.

Kelas ini lebih cepat berlalu, mungkin waktu akan selalu berjalan cepat bila aku harus menghadapi sesuatu yang tidak menyenangkan.

“Sooyoung?” gumam Kyuhyun.

Aku berbalik di kursi untuk menatapnya tak percaya, “ Kau bicara padaku, Kyu?”

“Tentu saja.”

“Apa?” nadaku sinis.

“Sebenarnya, nanti malam aku ingin datang ke rumahmu. Kau ada acara?”tanyanya.

“Aku sudah ada janji, well, lain kali saja.” Kataku, masih tidak ramah.

“ Oh, baiklah.” Kyuhyun menyunggingkan senyum terlihat sedikit ragu sebelum beranjak pergi.

***

Pikiranku terfokus pada acara malam ini. Kulirik diriku di cermin kamar tidurku – aku hanya ingin berpenampilan, well, menarik.

Aku mendengar suara klakson. Cepat-cepat kukeluarkan dompetku dari tas sekolah, dan obat yang diberi ayahku – aku khawatir kejadian lalu terulang, dan kumasukkan ke tas yang kusentakkan dari lemariku. Aku bergegas menuju luar.

“Hai, SeungHyun!” ucapku, tersenyum.

“Hai, oh, terima kasih sudah mau pergi denganku malam ini.” Katanya padaku, aku naik ke kursi penumpang.

“Tentu.” Kataku berusaha ramah.

Sooyoung POV end

***

Kyuhyun POV

Sepulang sekolah, aku langsung bergegas pulang ke rumah – semenjak Sooyoung memutuskanku, aku tidak pernah pergi ke luar rumah – kecuali sekolah.

Aku sangat lelah – tepar di ranjangku yang empuk. Aku memejamkan mata berusaha menyingkirkan Sooyoung dari pikiranku, aku memang berusaha untuk tidak memikirkannya tapi aku tidak berusaha untuk melupakannya.

Tiba-tiba handphone-ku bergetar, dan itu cukup mengusikku. Aku merogoh handphone-ku di saku celanaku – menggerutu kesal. ‘sebuah pesan’ pikirku. Aku membuka handphone-ku dan membacanya.

Yo, Kyuhyun-ah. Berhentilah bermuram durja! Lupakanlah Sooyoung dan cari cewek yang lebih dari Sooyoung! ^o^ . – Donghae. ‘Aiisshh… memangnya semudah itu melupakannya’ desisku.

Handphone-ku bergetar lagi.

Kutunggu kau di alun-alun kota, Sepulang sekolah! – Donghae. Belum sempat aku membalas pesan darinya, Handphone-ku bergetar lagi, lagi, dan lagi.

Jangan terlambat, Kyu. Atau .. atau kau akan kehilangan muka tampanmu itu. Hahahaha. – Donghae. ‘menyebalkan’ gerutuku – memaki-maki Donghae dalam hati.

Aku mempertimbangkan ajakan Donghae – sengaja berlama-lama di kamar. Sambil mendesah, aku bergegas ke alun-alun kota.

Aku terkejut saat mendapati diriku sudah di halaman parkir alun-alun kota, tidak begitu ingat perjalanan menuju ke sini. Aku justru bersyukur bila waktu berjalan tanpa terasa.

Aku sengaja berdiam diri di dalam Volvo-ku – mempersiapkan mental. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Aku sedang memejamkan mata saat seseorang mengetuk jendela mobilku. Aku mendongak kaget.

“Kyu, keluarlah!” teriak Donghae.

Aku keluar dari mobilku, “Hyung, kau.. kau sangat menyebalkan!” desisku sedikit mengerang.

“Hahahaha, apa aku begitu menyebalkan, Kyu?” Donghae terkekeh.

“Ya, kau sangat menyebalkan. Ada apa kau mengajakku kemari?” ucapku sedikit ketus.

“Aku hanya ingin mengajakmu, well.. berkeliling alun-alun kota.”

“Yang benar saja.” Aku memutarkan bola mata, “berkeliling alun-alun kota.” Aku menirukan cara Donghae berbicara, tapi gagal total. Donghae tertawa.

“Ayolah, Kyu. Kau jangan bermuram durja terus.” Ucapnya.

“Siapa yang bermuram durja?” kataku sedikit kesal.

“Kau. Cho Kyuhyun.”

“Terserah kau saja.” Aku mengalah.  Donghae menarik tanganku dan beranjak pergi (?) dari lapangan parkir.

Aku tidak terlalu memerhatikan ke mana Donghae mengajakku. Aku masih saja memikirkannya – Sooyoung. Entah kenapa, aku tidak bisa tidak memikirkannya, aku mengacak-acak rambutku dengan tanganku.

“Oh, Kyuhyun…. Apakah itu Sooyoung?” Tanya Donghae tiba-tiba, ia berhenti berjalan.

Mataku jelalatan ke kanan, ke kiri, ke seberang jalan, lalu melihat ke arah depan lagi, berulang kali. ‘PLAAKK’ Donghae memukul kepalaku. Aku meringis kesakitan.

“Aish kau ini, Kyu. itu Sooyoung bukan?” Donghae menunjuk ke arah seberang jalan. Aku masih belum mendapati sosok Sooyoung. Tak lama kemudian, aku telah menemukan sosok Sooyoung – memastikan kalau itu benar Sooyoung.

“Dan…. Astaga, Sooyoung kencan dengan SeungHyun.” Donghae sedikit terkejut. “Seleranya jelek sekali.” Gumamnya. Aku bisa mendengar kalimat terakhir yang diucapkannya. Tapi aku tidak menggubrisnya.

Aku hanya terdiam, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Jujur, aku merasa cemburu.

“Kyu, lihatlah….” Ucap Donghae lagi, menunjuk ke arah Sooyoung.

Kyuhyun POV end

Sooyoung POV

Kami berbelok memasuki lapangan parkir alun-alun kota, perasaanku kini merasa tidak enak. Seunghyun keluar dari mobil, menutup pintu pengemudi dan berjalan untuk membukakan pintu penumpang agar aku bisa turun.

“Terima kasih.” Ucapku.

“Sama-sama.” SeungHyun tersenyum. Ia menggenggam tanganku dan menarikku – mengikutinya menuju salah satu taman di alun-alun kota.

SeungHyun melepaskan tanganku yang dari tadi digenggamnya. Ia mendesah.

“Well, aku… aku tahu kau sudah tidak ada hubungan lagi dengan Kyuhyun.” Ia mengalihkan pandangan – untuk tidak menatapku, tangan kanannya menggenggam tanganku kembali dan mengelusnya dengan hati-hati – seakan-akan tanganku sangat rapuh.

“Aku … aku hanya ingin memberimu ini.” SeungHyun memakaikan cincin di jari manisku. Aku terdiam sejenak, aku tidak tahu jalan pikiran SeungHyun.

Tangan kirinya membelai rambutku dengan lembut. Aku melepaskan tanganku dari genggamannya.

“Maaf, SeungHyun. Aku tidak bermaksud untuk menyakiti hatimu.” Ucapku lirih. Aku melepaskan cincin yang melingkar manis di jari manisku. Dan mengembalikannya pada SeungHyun.

“Aku… aku tidak bisa menerima ini semua, maafkan aku SeungHyun.” Aku mendesah, “Aku.. aku masih mencintai Kyuhyun.” Aku terpaksa mengucapkan kata-kata itu. Aku tidak ingin ia mengetahui kondisiku saat ini. Aku tidak ingin membuat orang-orang yang kusayangi menjadi sedih karenaku.

“tapi, Sooyoung..” SeungHyun tidak melanjutkan kata-katanya.

“Aku harus pergi.” Selaku, lalu beranjak pergi.

“Oh,” desisku, aku teringat sesuatu – seketika berhenti berjalan. ‘Mengapa aku pergi meninggalkan SeungHyun? aku kan tidak membawa mobil’ aku bergumam kesal. Aku kembali berjalan, memutuskan untuk menunggu SeungHyun di lapangan parkir.

Sooyoung POV end

Kyuhyun POV

Aku sedikit terkejut melihat pandangan yang tidak enak di seberang jalan. Sooyoung dan SeungHyun, berduaan, bergandengan tangan dan itu sungguh memuakkan.

Aku sudah tidak tahan melihat itu semua, aku meninggalkan Donghae, matanya masih terpaku pada Sooyoung dan SeungHyun – untuk menghampiri mereka.

Mataku terpaku pada Sooyoung. Aku tidak ingin SeungHyun memilikinya, Sooyoung hanya untuk aku seorang. Bila aku tidak bisa memiliki Sooyoung kembali, maka SeungHyun juga tidak boleh memilikinya. Aku mempercepat jalanku.

Aku seketika berhenti berjalan, otot-ototku langsung mengejang, membeku kaku di tempatku berdiri. Bukan karena Donghae menarikku tapi, SeungHyun memakaikan cincin ke jari manis Sooyoung. aku mendapati Donghae sudah berada di sampingku.

“Kyu, kau berjalan sangat cepat.” Kata Donghae, ia terengah-engah.

Donghae mulai ngoceh kesal karena aku meninggalkannya. Aku tidak menggubrisnya. Agak lama baru aku tersadar mengapa Donghae berhenti mengoceh. Kupandangi Donghae dengan sikap minta maaf tapi Donghae tidak sedang melihat ke arahku.

Aku sedikit mengerang saat melihat SeungHyun membelai rambut Sooyoung.

“Kyu, tenanglah.” Ucap Donghae, mungkin ia mendengarku mengerang.

Aku sedikit merasa lega saat Sooyoung menolak cincin pemberian SeungHyun dan pergi meninggalkannya tapi, aku masih tidak terima dengan sikap SeungHyun. Aku menghampiri SeungHyun tanpa sepengetahuan Sooyoung.

“Hai, Kyuhyun.” Ucap SeungHyun dengan nada sinis – memunggungiku sambil berjalan lambat-lambat seakan ia mencoba menyusul Sooyoung. Ternyata ia mengetahui kehadiranku.

“Argh… SeungHyun, kau…” nadaku sedikit mengerang.

“Kenapa, Kyu? kau tidak terima atas sikapku tadi?” suara SeungHyun sedikit menantang – ia mendorongku.

“Tidak, kenapa?” aku membalas mendorongnya. Donghae ternyata tidak tinggal diam, ia berusaha melerai kami.

“Kenapa kau harus marah? Bukankah kau sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi dengan Sooyoung?” SeungHyun sedikit tersenyum.

“Kenapa aku harus marah?” aku menirukan gaya bicara SeungHyun.

“Ya, kenapa kau harus marah? Sudahlah aku tidak ingin bertengkar denganmu.” Ucap SeungHyun santai, ia pergi meninggalkanku. Dasar tidak tahu malu.

“Hei, SeungHyun. Urusan kita belum selesai!” aku sedikit berteriak, ia membalikkan badannya dan menghampiriku.

“Urusan katamu? Aku tidak mau berurusan denganmu.”

“Iya, urusan kita belum selesai.” Nadaku sedikit sinis. Aku menghampirinya, mendekatkan wajahku di depan wajahnya. “Kau tahu apa yang kau lakukan tadi?” bisikku.

“yang kulakukan tadi? Aku hanya meminta Sooyoung menjadi kekasihku.” Ucap SeungHyun santai.

“Dan kau tahu akibat dari perbuatanmu, SeungHyun?”

“Tidak, kurasa itu tidak berakibat apa-apa.” Perkataan SeungHyun membuat kemarahanku menjadi-jadi.

“Itu menurutmu, aku akan membuat badan dan nyawamu terpisah, SeungHyun.” Nadaku sedikit menantang.

SeungHyun sepertinya tidak terima atas perkataanku barusan, ia mendorongku dan itu cukup membuatku terenyak ke belakang, ia menghampiriku dengan tampang yang menyeramkan. Aku tidak mau kalah, aku maju menantangnya. Donghae tidak tinggal diam, ia menarik SeungHyun dan mendorongku.

Aku menghampiri SeungHyun, melihatku menghampirinya, ia mendorong Donghae membuat Donghae terenyak ke belakang melepaskan SeungHyun (?).

“Kau tahu? Sooyoung tidak mencintaimu lagi. Dan kau tidak mempunyai hak untuk melarangku mencintai Sooyoung.” ucap SeungHyun, mendorongku sangat keras, aku terenyak cukup jauh kali ini, membuat badanku membentur  batang pohon.

Aku tidak mau kalah, aku melayangkan kepalan tanganku dan mendarat mulus di wajahnya. Lagi, lagi ia tak mau kalah juga. Ia juga melayangkan kepalannya dan mendarat agak mulus di wajahku, dan meninggalkan memar biru yang sangat sempurna.

Reflek, lagi, lagi kepalanku mendarat di wajahnya – pukulanku kali ini sangat keras, membuat SeungHyun terenyak jatuh ke jalan beraspal. Aku menarik kerah bajunya dan membuatnya sedikit terangkat. Tidak terima dengan sikapku, ia melepaskan tanganku dan bangkit berusaha memukulku.

Melihat SeungHyun akan memukulku lagi, Donghae merangkul SeungHyun dari belakang dan kakinya mendorong tubuhku cukup keras, membuatku terenyak membentur tembok pembatas taman yang cukup tinggi (?).

“Arrrggghhh…” teriakku kesal, aku menendang Tong sampah yang ada di sampingku, dan pergi meninggalkan Donghae yang masih merangkul SeungHyun. SeungHyun melepas paksa rangkulan Donghae. Sejenak, SeungHyun menatapku dengan sinis.

Donghae menatap SeungHyun sebentar kemudian meninggalkannya dan berlari kecil untuk menyusulku (?).

“Kyu, tunggu aku!” teriak Donghae.

Kyuhyun POV end.

Sooyoung POV

Aku sudah bosan berlama-lama di lapangan parkir. Sesekali, aku melirik handphone-ku untuk melihat jam. Aku mendesah, sudah setengah jam aku menunggu SeungHyun di sini.

Tak lama kemudian, aku bisa melihat SeungHyun dari kejauhan. “Akhirnya datang juga.” Gumamku.

“Sooyoung?  kenapa kau bisa berada di sini?” nadanya sedikit terkejut.

“Well, aku menunggumu, SeungHyun.”ucapku bernada minta maaf.

“Oh, kalau begitu masuklah ke dalam mobil.” Kata SeungHyun sambil membukakan pintu penumpang untukku.

“SeungHyun, aku minta maaf soal tadi,” kataku, setelah SeungHyun masuk mobil.

“Lupakanlah, Sooyoung.”

Aku menatapnya dengan tatapan minta maaf, aku sangat terkejut, aku melihat memar-memar keunguan di wajah SeungHyun.

“SeungHyun, apa yang terjadi?” tanyaku khawatir.

“Aku … aku hanya berkelahi dengan seseorang. Well, itu tidak penting Sooyoung.”

“Tidak penting katamu? Apa memar- memar itu tidak penting?” nadaku sedikit kesal.

SeungHyun tidak menggubris perkataanku, kali ini keheningan terjadi jauh lebih panjang. SeungHyun mendesah.

“Sooyoung, sebenarnya apa yang terjadi antara kau dan Kyuhyun? Kau masih menyukainyakan?”  tanyanya tiba-tiba.

Aku mengembuskan napas

“Ya, aku masih menyukainya.” Kataku berusaha datar.

“Lalu? Kenapa kau memutuskannya dan meninggalkannya?”

“well, karena aku…. Menderita kanker otak.” Aku menahan sedih saat mengucapkannya.

Mendengar perkataanku barusan, SeungHyun membalikkan badan dan menatapku tidak percaya.

“Kau bilang apa? kanker otak?” katanya tidak percaya.

“Ya, aku menderita kanker otak. Itu sebabnya aku memutuskannya, aku tidak ingin membuatnya terpukul dan sedih mengetahui kondisiku.” Kataku mencoba tegar.

“Oh, sebenarnya… aku tadi sempat berkelahi dengan Kyuhyun.”

“Apa?” aku tidak percaya dengan kata-katanya barusan.

“Iya, Kyuhyun. Tapi, lupakanlah. Ini tidak seberapa.” Ia memegang memar-memar di wajahnya dan meringis kesakitan.

Aku merasa bersalah padanya, walaupun Kyuhyun yang melakukannya tapi, pasti semua ini gara-gara aku.

Dengan sangat hati-hati aku meletakkan tanganku di atas memar-memar di wajahnya, satu demi satu.

“Oh,” ucapnya.

“Aku.. aku sangat menyesal, SeungHyun.” Aku memeluknya sangat erat. “Aku sangat menyesal, lebih dari yang kuungkapkan, SeungHyun.”

“Sudahlah, Sooyoung.” ia melepaskan pelukanku. “Aku akan mengantarkanmu pulang.”

***

Ayahku menungguku di ruang tengah, kedua lengannya terlihat rapi di dada dengan telapak tangan mengepal.

“Hai, yah.”

“Dari mana saja kau?” tuntut ayahku.

Kupandangi ayahku, terkejut. “Aku pergi ke alun-alun kota bersama SeungHyun, teman sekelasku.”

“Syukurlah, kukira sesuatu telah menimpamu, Sooyoung.” Ucapnya, seketika, ia memelukku dan mengelus rambutku.

“Sooyoung…” Ayahku menghentikan kata-katanya, melepaskan pelukannya dan melihat telapak tangannya. Mataku kini tertuju pada telapak tangannya, dan aku mendapati telapaknya penuh dengan rambutku yang rontok.

Air mata meleleh begitu saja dari mataku, mengalir deras di wajahku.

“Ayah, apakah hidupku sudah tidak akan lama lagi?” Air mataku tak kunjung berhenti.

“Sooyoung!” seru ayahku – nadanya begitu cemas. “Kau tidak boleh bicara begitu.”

“Tapi, ini begitu nyata, ayah! Semua akan berakhir pada waktunya. Aku akan kehilangan a..” aku belum sempat menyelesaikan kata-kataku, Jari telunjuknya membungkam bibirku.

Aku memeluk ayahku lebih erat lagi, mungkin ini terakhir kalinya aku bisa memeluk ayahku. Aku tidak boleh menyia-nyiakannya.

“Ayah, aku harus ke kamar.” Aku melepaskan ayahku dari pelukanku. Dan berjalan melewatinya, menaiki anak tangga.

“Sooyoung, apa kita tidak ke rumah sakit saja? Aku sangat mengkhawatirkanmu.” Tanya ayahku.

Aku terhenti di salah satu anak tangga, “Rumah sakit? Aku baik-baik saja kok, mungkin aku akan kehilangan rambutku perlahan-lahan.” Kataku berusaha santai, aku tidak ingin menambah kesedihan.

Aku mendengar ayahku sedikit mendesah, mungkin karena kecewa atas perkataanku barusan. “Baiklah, kalau itu yang kau mau.”

Ayahku langsung memunggungi dan meninggalkanku yang masih berdiri di salah satu anak tangga, menuju kamarnya.

“Maafkan aku, yah.” Gumamku pelan. Lalu, aku menuju ke kamar.

Aku menghempaskan tubuhku di ranjangku yang empuk dan kecil. Entah mengapa, air mataku meleleh dari mataku, mengalir deras di wajahku.

‘Tuhan, apakah ini sudah takdirku? Kenapa aku harus diberi cobaan seberat ini?’ air mataku tak kunjung berhenti mengalir.

Aku bangkit dari tidurku dan terduduk di ranjangku dan mengusapkan air mataku yang hampir turun lagi dengan punggung telapak tanganku.

Beberapa langkah di sisi kiri tempat tidurku ada cermin berukuran cukup besar, yang saat ini tepat berada di depanku.

Aku menatap diriku di cermin, tanganku menyusup masuk ke rambutku. menggenggam dan menariknya perlahan-lahan. Aku melihat tanganku dengan tatapan tak percaya.

Kali ini air mataku meleleh lagi, aku tak bisa menahan air mataku agar tidak tumpah lagi. Rasa pusing kembali melanda kepalaku, tapi kali ini rasa pusing sungguh tidak tertahankan (?).

Aku mendekapkan kepalaku di bawah bantal, berusaha mengurangi rasa sakit di kepalaku,tapi itu tak berpengaruh sedikit pun. Rasa sakit membuat air mataku mengalir lebih deras di wajahku.

Aku mendekapkan mulutku di bantal dan berteriak sekuat tenaga karena tidak kuat menahan sakit. Entah, aku sedikit merasakan tubuhku mengejang.

‘Ayah, aku sudah tidak tahan’ batinku, ‘Kyuhyun, tolong aku….’ Seketika pandanganku mulai agak kabur (?) dan sakitku mulai mereda.

Aku sedikit melihat bayangan ayahku dan mendengar suaranya yang tidak begitu jelas,

“Sooyoung!! sadarlah.” Teriak ayahku, tapi pandanganku berubah menjadi cahaya pekat yang menyilaukan mata dan aku tidak merasakan apa-apa, rasa sakit, bahkan suara ayahku yang hilang ditelan keheningan. (?)

Sooyoung POV end

***

Kyuhyun POV

“Kyu, tunggu aku!” teriak Donghae.

“Hyung, pergilah. Aku ingin sendiri.” teriakku, aku tidak membalikkan badan dan memandang Donghae.

“Tidak, aku tidak akan meninggalkanmu sendiri.”

“Terserah kau saja.” Kataku pasrah. “Hyung, aku akan pulang ke rumah.” Ucapku tak memandanginya sama sekali.

Aku membuka pintu pengemudi, menyalakan mesin Volvo-ku, menutup pintu dan langsung pergi meninggalkan Donghae yang melongo melihat tingkahku.

Bodoh, memang. Menyetir dalam keadaan seperti ini, aku menambah kecepatan mobilku. Yang sangat mengherankan, air mata  mengaburkan pandanganku. ‘Argh, bodoh! Kenapa aku menangis.’ Batinku.

Air mataku semakin deras mengalir. Saat membelokkan Volvo-ku ke halaman rumahku pun, air mataku masih mengalir dengan mulus.

‘sialan, kenapa aku jadi lemah begini.’ Batinku saat menendang ban mobilku saking kesalnya.

Aku membanting pintu kamarku, aku sengaja berdiam  menenangkan diri dengan bersandar di pintu kamar. Aku mendesah kesal.

Aku berjalan menuju sofa kecil yang ada di kamarku dan terduduk di situ. Kejadian tadi masih terbayang di pikiranku dan itu membuat emosiku semakin menjadi-jadi.

“BRUK!” aku merebahkan tubuhku dengan kasar di ranjangku, lagi-lagi aku mendesah, memejamkan mata dan tertidur. Yeah, aku berharap aku bisa melupakan kejadian hari ini.

‘Kyuhyun, tolong aku….’ . aku terbangun dalam keadaan shock. Mimpiku begitu nyata, suara itu… terdengar sangat nyata dan menggugah pancaindera.

Aku yakin itu suara Sooyoung. aku merogoh handphone-ku. Aku menemukan nomor yang kuinginkan, nomor yang tidak pernah kuhubungi semenjak peristiwa yang tidak diinginkan di Yeolbong’s Restaurant.

Kutekan tombol “Send”.

“Nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi cobalah beberapa saat lagi.”

‘Damn’ pikirku. Mungkin itu tadi hanya halusinasi yang berlebihan saja, tak mungkin Sooyoung meminta tolong bahkan memikirkanku saja tidak pernah.

Aku membanting handphone-ku ke ranjang dan merebahkan tubuhku lagi di ranjang, mengacak-acak rambutku. Tidak mungkin Sooyoung membutuhkanku lagi. Aku meyakinkan diriku.(?)

Kyuhyun POV end.

***

Sooyoung POV

Sudah seminggu aku tidak masuk sekolah dan terbaring lemah di rumah sakit. Aku memandang ke luar jendela rumah sakit dan melihat jelas pemandangan kota Seoul. Mungkin ini juga terakhir kalinya bisa melihat kota Seoul.

“Tookk… Tookk.. Tookk…”

“Masuklah, pintunya tidak dikunci.” Kataku dengan nada sedikit keras.

“Donghae?” aku sedikit terkejut, saat seseorang membuka pintu dan masuk ke ruangan tempat aku dirawat. (?)

“Nee, Sooyoung.” Donghae tersenyum kepadaku.

“Kau… bagaimana kau tahu kalau aku di sini?” tanyaku penasaran. Aku sempat berpikir, yang tahu aku di sini kan hanya Ayah dan SeungHyun.

“Aku tahu dari SeungHyun, tapi kau jangan salahkan SeungHyun.” Ucapnya. Sudah kukira SeungHyun yang memberitahunya.

“Kenapa?”

“Karena aku yang memaksanya untuk memberitahu keberadaanmu, kau tahu? Kyuhyun sekarang sedang bermuram durja.”

“Apa hubungannya padaku?” kataku cuek.

“Kau tidak bisa membohongiku, Sooyoung. Kau masih menyukai Kyuhyun kan?” ucap Donghae dengan raut evilnya. Sungguh memuakkan.

“Tidak, aku t-tidak menyukainya.” Aku mengalihkan pandanganku ke luar jendela.

“Masih mengelak juga rupanya.”

“Aku tidak mengelak.” Belaku.

“Hei, ada apa ini?” aku kenal suara ini, aku menoleh ke ambang pintu.

“SeungHyun?”

“Hai, Sooyoung. bagaimana keadaanmu?” Tanya SeungHyun.

“Baik,”

“ehm, Sooyoung. Kau tampak cantik jika memakai tutup kepala ini.” Ucap Seunghyun saat ia memegang tutup kepala yang kukenakan.

“Kau bisa saja, SeungHyun. Tapi di balik tutup kepala ini, aku sangat jelek.”

“Jelek?” gumam SeungHyun.

“Ya, Sooyoung dari dulu memang jelek.” Ejek Donghae.

“Benar, aku memang jelek kok. lihat saja, aku sudah tidak punya rambut, Sehelai saja tidak ada.” Kata-kata yang keluar dari mulutku membuat tawa Donghae meledak.

“Kau bisa mengejekku sepuasmu, Donghae.” Aku mengernyitkan kening.

“Keterlaluan,” gumam SeungHyun, dan itu membuat Donghae semakin meledak.

“Sudahlah, SeungHyun.” Aku tersenyum melihat wajah SeungHyun jika sedang marah.

“oh ya, Sooyoung. Operasinya jadi dilakukan tidak?” Tanya SeungHyun mendengarnya, Donghae berhenti tertawa.

“Jadi, hari ini. Doakan aku ya.” Ucapku semangat.

“Apa sebaiknya kau tidak memberitahu Kyuhyun?” Tanya Donghae

“Aku tidak mau memberitahunya.” Ucapku lirih.

“Why?”

“Karena aku tidak mau membuatnya sedih.” Kataku. SeungHyun dan Donghae hanya terdiam, tidak bisa berkata apa-apa.

“Oh, aku lupa.” Aku melepaskan cincin yang melingkar manis di jariku. “Aku titip ini,”

Aku memberikan cincin itu kepada SeungHyun, ia mengernyitkan kening.

“Cincin?” Tanya SeungHyun penasaran.

“Iya, itu cincin pemberian Kyuhyun. Tolong berikan cincin itu jika kau bertemu dengan Kyuhyun.”

“Oh, baiklah. Akan aku berikan jika bertemu.”  Kata SeungHyun, aku hanya menggangguk pelan. Suasana menjadi hening sekarang.

“Ehm, Sooyoung. aku permisi pulang dulu.” Kata Donghae, memecah keheningan yang berlangsung agak lama.

“Eh, kenapa cepat sekali?” tanyaku.

“Well, aku ada janji.” Ucap Donghae.

“Oh, baiklah. Hati-hati.” Ucapku saat Donghae sudah keluar ruangan.

Sooyoung POV end.

Donghae POV

….

“Eh, kenapa cepat sekali?” Tanya Sooyoung.

“Well, aku ada janji.” Ucapku berbohong.

“Oh, baiklah. Hati-hati.” Ucapnya,

Aku keluar dari ruangan Sooyoung, berjalan melewati koridor-koridor rumah sakit.

“aku tidak bisa membiarkan ini terjadi.” Gumamku. Aku merogoh handphone-ku dari saku jaketku, dan mencari nomor yang kuinginkan.

“Halo?” suara yang parau itu menjawab.

“Kyuhyun?” bisikku, “Ini aku, Donghae. Ada yang ingin aku bicarakan, ini masalah Sooyoung.”

Donghae POV end.

Kyuhyun POV

Tn. Lee menyudahi pelajaran Matematika saat lonceng tanda pelajaran berakhir belum berbunyi. Tapi Aku sudah membereskan perlengkapan Matematika-ku dan memasukkan ke tas sekolah. Aku bangkit dari tempat dudukku dan beranjak pergi.

Sebelum sampai di ambang pintu, aku mendapati satu bangku kosong. Sudah satu minggu lebih Sooyoung absen masuk kuliah.

Aku tersaruk-saruk menuju lapangan parkir. Aku sengaja berdiam diri di dalam Volvo-ku dan menyenderkan kepalaku di kemudi, aku sedikit membenturkannya berkali-kali.

Aku mendesah saat handphone-ku berbunyi, dengan malas aku merogohnya dari kantong saku celanaku.

“Halo?” suaraku sangat parau.

“Kyuhyun?” bisik seseorang di telepon, aku mengenal pasti suaranya. “Ini aku, Donghae. Ada yang ingin aku bicarakan, ini masalah Sooyoung.” mendengar perkataannya mataku sedikit membelalak.

“Ada apa dengan Sooyoung?”

“Ia….” Donghae tidak melanjutkan kata-katanya.

“Ya ! ada apa dengan Sooyoung?” nadaku sedikit keras di telepon.

“Sooyoung…. ia ada di rumah sakit.” Aku bisa mendengar Donghae mendesah, “Sebenarnya aku tak mau memberitahumu tentang ini, tapi aku tak bisa melihatmu begini terus.” Lanjut Donghae.

“Di rumah sakit? Apa maksudmu?” tanyaku tak sabaran.

“Sebenarnya, Sooyoung menderita kanker otak dan hari ini akan menjalankan operasi.” Donghae mendesah lagi, desahannya cukup panjang.

“Kenapa hanya aku yang tidak tahu masalah ini?” ucapku lirih.

“Hei, kau jangan salah sangka dulu, Sooyoung tidak ingin kau tahu tentang ini semua karena..” lagi-lagi Donghae tidak melanjutkan perkataannya membuatku penasaran, “Karena ia tidak mau kau sedih.”

Aku langsung mematikan telepon, dengan cepat aku menyalakan mesin mobil dan melaju pergi menuju rumah sakit.

Kyuhyun POV end

Sooyoung POV

“SeungHyun, apa aku bisa bertahan hidup?” tanyaku, suaraku parau.

“Ssstt…” SeungHyun menempelkan jari telunjuknya ke bibirku, “Kau tidak boleh berbicara seperti itu,”

Aku hanya terdiam. Aku tidak bisa merasa yakin pada diriku sendiri.

“Kau kuat, Sooyoung. kau harus kuat!.” SeungHyun menyemangatiku.

“Ya, kau benar, SeungHyun.”

“Sooyoung, apa kau siap sekarang?” Tanya seseorang yang ternyata Dr. Hyukjae aka Eunhyuk.

“Ya, aku siap.” Suaraku terdengar sangat yakin.

“Baiklah, kalau begitu.” Kata Eunhyuk. Aku hanya mengangguk pelan.

“SeungHyun, bisakah kau menemaniku?” tanyaku lirih.

“Ya, aku akan menemanimu sampai operasinya berhasil.” Jawabnya.

Eunhyuk dan beberapa suster membawaku ke ruangan operasi, aku melihat SeungHyun mengikutiku dari belakang dan berhenti di luar ruang operasi.

“Sooyoung, berjuanglah.” Kata SeungHyun, aku masih bisa mendengarnya.

Di ruang operasi, air mataku mengalir untuk kesekian kalinya, aku melihat para dokter yang akan menanganiku sedang sibuk mempersiapkan peralatan.

Aku mengalihkan pandanganku ke atas, melihat lampu-lampu yang akan digunakan untuk mengoperasiku(?), aku bisa merasakan jantungku yang berdetak tidak karuan. Seketika lampu-lampu itu menyala dan cukup menyilaukan mata.

‘Kau harus kuat, Sooyoung. kau harus kuat, banyak orang yang masih membutuhkanmu, Ayah, Kyuhyun, SeungHyun. Mereka semua masih membutuhkanmu.’ Batinku.

Aku bisa merasakan saat mereka membiusku, tak membutuhkan waktu lama, pandanganku sesaat kabur dan aku berada di tempat paling indah, sangat indah. (?)

Sooyoung POV end.

Kyuhyun POV.

Aku mempercepat laju mobilku saat memasuki lapangan parkir rumah sakit. Tak membutuhkan waktu lama, aku langsung keluar dari Volvo-ku dan berlari.

Aku merasa bagai terperangkap dalam mimpi buruk mengerikan. Dalam mimpi itu kau harus berlari, berlari terus sampai paru-parumu pecah, tapi kau tak sanggup memacu tubuhmu untuk bergerak lebih cepat. Kakiku rasanya makin lama makin lambat sementara aku berjuang menembus kerumunan orang dan menaiki begitu banyak anak tangga.

Tapi ini bukan mimpi dan tidak seperti mimpi buruk. Aku tidak berlari menyelamatkan nyawaku, aku berlari untuk menyelamatkan sesuatu yang jauh lebih berharga.

Aku telah menaiki puluhan anak tangga, bahkan bisa ratusan jumlahnya. Berlari melewati koridor-koridor rumah sakit , sementara mataku sibuk mencari letak ruang operasi.

Aku terus mencari sampai pandanganku berhenti pada satu titik, aku melihat SeungHyun berjalan pelan di koridor. Aku langsung menghentikan langkahku, menundukkan kepala – menatap lantai dan berjalan pelan-pelan.

Aku berhasil melewati SeungHyun tanpa menatapnya. Saat melewatinya, tiba-tiba SeungHyun menarik tanganku, membuat langkahku terhenti. Aku menoleh untuk menatapnya saat SeungHyun memberiku sesuatu yang tak asing bagiku. Aku menatap benda itu dengan tatapan tidak percaya.

“Ia hanya menitip ini untukmu, Kyuhyun.” Ucapnya. Aku masih membisu, tidak bisa mengatakan apa-apa.

“Dan asal kau tahu saja, ia akan selalu mencintaimu, Kyuhyun.” Lanjutnya lagi, dan pergi meninggalkanku.

Kakiku mulai gemetaran tidak karuan, aku juga sudah tidak bisa berpikir dengan jernih. Mataku menatap cincin itu dan mengingatkanku saat aku memberi cincin itu…..

Flashback POV

“Kyu, aku sudah bosan seharian di alun-alun.” Ucap Sooyoung, sambil menguap.

“Bagaimana kalau kita foto-foto?” usulku, tapi ia menggeleng.

“Bagaimana kalau kita berlomba?” usulku lagi.

“Berlomba?” ucapnya penasaran.

“Iya, Berlomba.” Kataku. “berlomba melewati itu.” Tunjukku pada sebuah kali kecil yang terdapat kumpulan batu dan membentuk sebuah jalan.

“Baik, siapa takut.” Tantang Sooyoung.

“Baiklah, kita mulai sekarang.” Ucapku, aku sudah berlari meninggalkan Sooyoung.

“Hei, kau curang!” Teriak Sooyoung.

“Itu sebuah taktik.” Teriakku.

“Kyu, tunggu aku. Aku tidak bisa menjaga keseimbangan.”

“aish, kau lambat sekali, Sooyoung.” aku berbalik dan menghampiri Sooyoung, ia kesulitan saat berjalan di batu.

“Sini, aku bantu.” Aku menawarkan diri dan mengulurkan tangan, Sooyoung menerima uluran tanganku. Dan kami sampai di tepi bersama-sama.

“Aku lelah,” eluh Sooyoung.

“Baiklah, ayo kita istirahat.” Ajakku. Kami duduk di bawah pohon yang sejuk.

“Ehm, Sooyoung, aku punya sesuatu untukmu.” Kataku.

“Apa itu, Kyu?” tanyanya penasaran.

“Kau pilih tangan yang mana?” aku menyodorkan kedua tanganku yang sama-sama menggenggam sesuatu.

“Aku pilih tangan yang kanan.” Ucapnya dan aku membuka genggaman tanganku yang kanan.

“Cincin? Kau memberiku cincin?” Tanyanya, aku hanya mengangguk.

“Lalu, tangan yang kiri itu apa?” tanyanya penasaran, aku pun membuka tanganku yang kiri.

“Cincin juga?”

“Ya, cincin ini untukku dan cincin itu untukmu, pakailah.” Kataku sambil tersenyum, kami memakainya.

….

Flashback POV end.

Aku tersadar dalam lamunanku, aku harus memastikan Sooyoung, ya, Sooyoung harus selamat. Aku berlari di koridor dan berhenti di depan ruang operasi.

Melihat kedatanganku, Donghae – yang juga berada di ruang tunggu langsung bangkit dan menenangkanku.

“Kyu, sabarlah. Kau harus yakin Sooyoung selamat.” Bisiknya.

Tak lama kemudian, aku menoleh saat pintu ruang operasi terbuka dan Dr. Hyukjae keluar dari ruangan. Aku langsung menghampirinya.

“Bagaimana keadaan Sooyoung?” tanyaku tak sabar.

“Operasinya berhasil…” Eunhyuk tidak melanjutkan kata-katanya, mendengarnya, hatiku merasa lega.

“Hanya saja, Sooyoung tidak bisa diselamatkan.” Lanjut Eunhyuk.

Kakiku langsung gemetaran dan tubuhku terkulai jatuh ke lantai *posisi duduk. SeungHyun menghampiriku dan menepuk pundakku. Sementara Donghae hanya bisa menatapku dengan tatapan peduli dan penuh belas kasih.

“Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi tuhan berkata lain.” Lanjut Eunhyuk dan meninggalkan kami.

ToBeContinued

=.=

Fyuh… akhirnya selesai juga ^^

Oh ya, maaf kalau ceritanya ga nyambung, terlalu ruwet sama kata-katanya yang membingungkan. *harap maklum

Karna ff ini selesai dalam semalam, jadi author ga tau hasilnya kaya gimana.

Oh ya kayak biasa kutunggu commentnya ^o^

Yasud, selama membaca ya ^o^


Iklan

23 thoughts on “[Vol. 1] Love Story

  1. awal’a aku seneng bgt kyuyoung mesra bgt eh lama2 jd menyedihkan gitu cerita’a sebel deh..aku suka pas kyu blng soo hanya untukku keren bgt…buat lg chingu tp jgn sad end dong kyuyoung jjang…

    • keren? hahaha jidat guwe lebar -,-”
      iya eon, dibuat dalam semalam dan hasilnyaaa taraaa… jadi panda…
      baiklah selamat membaca

  2. T_TT_TT_TT_TT_TT_TT_TT_TT_TT_TT_TT_TT_TT_TT_TT_TT_TT_TT_TT_TT_TT_TT_TT_TT_TT_TT_TT_TT_TT_TT_TT_TT_TT_TT_TT_TT_TT_TT_TT_TT_TT_TT_TT_TT_TT_TT_TT_TT_TT_TT_TT_TT_TT_TT_TT_TT_TT_TT_TT_TT_TT_TT_Tsedihhhhhhhhhh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s