[Vol. 2] Love Story

Love Story

Title : Love Story

Author : Winaasri

Cast : Cho Kyuhyun | Choi Sooyoung | Choi SeungHyun

Genre : Romance

Rating : G

Length : Series

*******

Kyuhyun POV

sudah lebih dari tiga tahun semenjak Sooyoung meninggal, dan sudah selama itu pula aku berpacaran dengan Victoria. Sejujurnya, aku belum bisa memberikan sepenuhnya hatiku pada Victoria. Perlu kau tahu saja, aku masih mencintai Sooyoung.

“Kyuhyun, sepulang sekolah nanti boleh tidak kalau aku mampir ke rumahmu.” Tanya Victoria,

“Ke rumahku?” tanyaku serentak.

“Iya, ke rumahmu. Aku hanya ingin mampir saja kok.” Ucapnya sambil tersenyum memohon.

“Oh, baiklah.” Aku mendesah kesal.

“Oke, aku tunggu kau di lapangan parkir seusai sekolah.” Victoria melambaikan tangan padaku, aku hanya membalasnya dengan senyum, senyum penuh kepalsuan.

Aku tersaruk-saruk menuju kantin, dan berhenti di depan konter makanan.

“Ahjumma, aku pesan Paliseream – Strawberry Rose Chocolate satu.” Pesanku – nadaku seperti orang yang tidak punya tujuan hidup.

“Ahjumma, aku juga pesan Paliseream – Strawberry Azuki Beans.” Ucap seseorang – suaranya tak asing bagiku.

“Oh, baiklah. Tunggu sebentar.” kata Ahjumma meninggalkan kami berdua yang masih menunggu pesanan.

“Hai, SeungHyun.” Sapaku.

“Kyuhyun? Kukira siapa.” Ucapnya ramah. “Bagaimana kabarmu?” tanyanya, memecah keheningan yang sempat terjadi.

“Baik, kau sendiri?” tanyaku balik.

“Sama sepertimu.” Jawabnya.

“Ini pesanan kalian.” Kata Ahjumma tiba-tiba dan menyodorkan dua buah cup ice cream pesanan kami.

“Nee, Gomawo, Ahjumma.” Ucapku dan SeungHyun berbarengan. Dan pergi meninggalkan konter makanan.

“SeungHyun, keberatankah jika aku bergabung denganmu?” tanyaku hati-hati. Saat SeungHyun duduk di salah satu tempat yang disediakan oleh kantin.

“Tidak,” ucapnya, mulai memakan ice creamnya sedikit-sedikit. Aku hanya mengangguk dan duduk di seberang SeungHyun – saling berhadapan.

“Oh ya, Kyuhyun. Kudengar-dengar kau sekarang berpacaran dengan Victoria ya?” tanyanya, memecah keheningan. Aku sedikit tersentak.

“Begitulah,” suaraku kembali parau.

Mendengar kata-kataku yang singkat , jelas dan padat, SeungHyun yang hanya  menatap ice cream miliknya sambil menyendoknya langsung mendongak, menatapku dan berusaha mencerna kata-kataku.

“Jangan bilang kalau kau tidak mencintai Victoria.” Ucapnya pelan dan melihat sekeliling – memastikan tidak ada yang mendengarkan kata-katanya barusan. “Itu hanya akan membuatmu tersiksa, Kyuhyun.” Lanjutnya.

“Ya, aku tahu itu.” Ucapku sambil menyendokkan ice cream milikku dan melahapnya.

“Kenapa kau tidak mengakhiri hubunganmu dengan Victoria saja.” SeungHyun semakin mengecilkan volume suaranya. “Eh, itu hanya saran. Kalau tidak mau juga tak apa-apa.”

“Aku selalu berusaha dalam hal itu.” Mulutku penuh dengan ice cream.

“Maksudnya?” Tanya SeungHyun penasaran.

Aku menelan ice creamku, menghirup udara dan menghembuskannya. “Sudah berkali-kali aku memintanya tapi ia selalu menolak.”

“Ya, apa boleh buat.” SeungHyun mendesah, dan menambahkan, “Berarti, jodohmu itu Victoria.”

Aku tersentak dan membelalakkan mataku selebar mungkin (?) saat mendengar kata-kata yang keluar dari mulut SeungHyun.

“Hahahaha, aku hanya bercanda, Kyu.” Tawa SeungHyun seketika meledak saat melihat ekspresi wajahku.

“Teengg.. Teengg.. Teengg..”

Kupandangi SeungHyun dengan sikap tak percaya waktu ia tertawa sampai terbungkuk-bungkuk.

“Aku harus kembali ke kelas.” Aku bangkit berdiri dari kursi dan meninggalkan SeungHyun yang masih tertawa terbahak-bahak.

Aku berjalan melewati koridor-koridor menuju kelas Bahasa Inggris, saat akan berbelok memasuki kelas, aku menabrak seseorang wanita.

“Maaf,” kata wanita itu sambil memunguti buku-bukunya yang berserakan di lantai akibat kejadian tadi.

Refleks, aku langsung membantu membereskan buku-bukunya. Wanita itu bangkit berdiri setelah memungut habis buku-bukunya yang berserakan.

“Maaf,” kata wanita itu lagi sambil membungkukkan badan dan membetulkan posisi kacamata yang ia kenakan.

“Oh, tak apa-apa, apa kau baik-baik saja?” tanyaku. aku memandangi wajahnya sesaat dan menyadariku akan sesuatu, wajah itu sangat familier bagiku.

“Apa aku pernah bertemu denganmu?” tanyaku penasaran.

“Maaf?” ucap wanita itu lagi, aku baru menyadari kalau wajahnya sangat manis.

“Oh, mungkin aku mengalami déjà vu.” Ucapku sedikit tersenyum.

“Nee, aku kembali ke kelas dulu.” Ucap wanita itu ramah, membungkukkan badannya lagi dan pergi ke kelasnya.

Aku berjalan memasuki kelasku dan bergegas ke kursiku. Semenjak Sooyoung meninggal, aku selalu duduk di sebelah Donghae.

“Hai, Donghae.” Sapaku saat melihat Donghae sudah duduk manis di kursinya.

“Eh, Kyuhyun. Apa kau tadi berpapasan dengan Naomi?” Tanya Donghae.

“Naomi?”

“Nee, Choi Naomi. Ia baru saja keluar dari kelas ini.” Ucapnya.

“Oh, wanita yang pakai kacamata itu bukan?” tanyaku berusaha mengingat-ingat.

“Nah, menurutmu ia manis tidak?” tanyanya dengan ekspresi cute-nya yang gagal total, aku sedikit terkekeh dan menggangguk setuju.

“Apa ia anak baru di sekolah ini?” tanyaku pada Donghae.

“Nee, sudah seminggu lebih ia di sini……” ucap Donghae  dan kembali terfokus pada handphone-nya yang daritadi ia mainkan.

“Kyu, temani aku ke kantin.” Ucap Donghae lagi.

“Kantin? Bukannya ini jam pelajaran Bahasa Inggris?” tanyaku.

“Nee, tapi Mrs. Kelly tidak masuk mengajar, jadi ini jam kosong.” Ucapnya sambil menyeretku ke kantin.

Donghae melepaskan tanganku saat kami berada di konter makanan.

“Kau pesan apa, Kyu?” tanyanya, matanya masih asyik melihat menu makanan.

“Aku pesan Hite saja.” Ucapku pada Donghae, “Ahjumma, aku pesan Hite satu.” Kataku pada Ahjumma.

“Ini Hitenya. Donghae, kau pesan apa?” Tanya Ahjumma itu.

“Ehm aku? Ehm…… aku pesan Cookies Pokapoka Chip saja sama Paliseream – Raspberry White Chocolate.” Ucap Donghae, sementara matanya masih sibuk memilih.

“Nee, tunggu sebentar.” Ucap Ahjumma itu lagi.

“Hei, Donghae… apa itu yang namanya Naomi?” tanyaku.

“Hah? Mana.. mana..” kata Donghae serentak. Matanya jelalatan ke kanan, ke kiri, dan berulang kali

“Itu…” aku menunjuk ke arah meja nomor enam.

“Ya, itu dia, wanita incaranku.” Kata Donghae.

Aku menoleh kaget dan menatap Donghae tak percaya. “Wanita incaranmu?”

“Iya, Ia sudah memenuhi Kriteriaku.” Ucapnya sambil mengambil pesanannya dan mengajakku duduk di salah satu meja yang di sediakan oleh kantin.

“Bukannya, kau menyukai Sandara?”

“Sandara? Ia kalah manis dengan Naomi.” Ucap Donghae tersenyum manis.

“Sudah kuduga ini bakal terjadi!.”gerutuku, mulutku mengerucut miring.

“Nee, sudahlah.” Donghae menepuk-nepuk punggungku. “Aigo, aku harus pergi.” Ucapnya lalu beranjak pergi.

“Eh, kau mau ke mana?” teriakku. Tapi Donghae hanya diam saja.

“Hai, Kyuhyun.” Ucap seseorang di belakangku. ‘Oh.’ Pikirku, mungkin ini alasannya Donghae meninggalkanku.

Aku membalikkan badan untuk menatapnya, “Hai, Victoria. Kau tidak pelajaran?” tanyaku dengan malas.

“Aku meminta izin Tn. Lee ke kamar mandi, tapi aku melihatmu di sini dan kuputuskan untuk menghampirimu sebentar.” Kata Victoria.

“Oh….” Aku mendesah kesal, kenapa Victoria tidak menghilang saja dari kehidupanku?

“Eh, Kyu. aku harus kembali ke kelas.” Kata Victoria sambil melambaikan tangan padaku, “Jangan lupa seusai sekolah.” Teriaknya dan menghilang dari hadapanku.

Seusai sekolah? Astaga, aku lupa kalau seusai sekolah Victoria akan mampir ke rumahku. Aku mengacak-acak rambutku yang sudah kutata rapi.

Tidak sengaja aku melihat Naomi sedang memperhatikanku. Tak lama kemudian Naomi menyadari kalau aku telah memergokinya yang sedang menatapku langsung mengalihkan pandangannya ke makanannya.

Aku mendesah. Entah keberanian itu datang dari mana, aku menghampiri Naomi. Naomi masih memandangi makanannya yang di atas meja, jadi ia tak tahu kalau aku menghampirinya.

“Hai,” Sapaku.

Mendengar suaraku, Naomi mendongak kaget, “Eh, Maaf.” Naomi menundukkan mukanya.

“Maaf? Untuk apa?” tanyaku, aku berusaha menahan tawa saat melihat muka Naomi berubah menjadi merah padam.

Naomi masih terdiam, “Tak ada salahnya kan jika menatap orang lain?” ucapku, mendengar perkataanku barusan, Naomi mengembangkan senyum di wajahnya.(?)

“Oh ya, perkenalkan, aku Cho Kyuhyun.” Aku mengulurkan tanganku.

Naomi masih menatapku dengan tatapan tidak percaya, kemudian ia menerima uluran tanganku. “Aku Choi Naomi.” Ucapnya pelan.

“Apa kau anak baru di sini?” tanyaku, sambil meneguk Hite-ku yang belum kunjung habis.

“Nee, aku baru seminggu di sini.” Jawab Naomi, ia menyunggingkan senyum manisnya.

Benar kata Donghae, ia sangat manis. Rambut hitam pendek Naomi yang mengikal di sekeliling wajah mungilnya, ia juga memakai kacamata, tampak kontras dengan ekspresinya. Sekilas wajahnya mengingatkanku pada seseorang. Seseorang yang tidak akan pernah kulupakan.

“Teenng…. Teenng…. Teenng…”

Mendengar suara lonceng tanda sekolah usai berbunyi, Naomi langsung bangkit berdiri. “Kyuhyun, aku permisi ke kelas dulu.”

“Oh, Nee… aku juga ingin kembali ke kelas.”

Naomi melambaikan tangannya kepadaku, aku membalas lambaiannya dan tersenyum. “Oh, ya senang bisa berkenalan denganmu.” Ucapnya, nadanya sedikit keras dan hilang ditelan kerumunan siswa-siswa yang mulai berhamburan di koridor sekolah.

Entah kenapa, aku merasa nyaman jika berada di samping Naomi, kenyamanan yang sempat hilang, kenyamanan yang sama persis saat aku berada di samping Sooyoung.

Aku mendesah, dan beranjak pergi menuju kelas untuk mengambil tasku yang kutinggalkan di sana. Aku mengambil tasku dan mempersiapkan mental sebelum beranjak ke lapangan parkir.

Aku berjalan lambat-lambat menembus kerumunan orang, mengingat saat aku bertemu Victoria…

Flashback POV

Aku terkejut saat melihat Orangtua-ku duduk di sofa ruang tengah, menungguku.

“Eomma? Appa? Kalian kok bisa ada di sini?” aku meluncurkan pertanyaan bertubi-tubi.

“Duduklah dulu, Kyuhyun. Ada yang ingin Eomma dan Appa bicarakan.” Kata Eomma, aku pun menurutinya dan duduk di seberang.

“Ada apa kalian ke sini?” tanyaku pelan.

“Kau dari mana saja, Kyuhyun.” Tanya Appa, tidak menggubris pertanyaanku.

“Aku baru saja dari rumah sakit, Appa.” Kataku sambil menundukkan kepala.

“Rumah sakit? Apa kau terluka?” Tanya Eomma, nadanya seketika berubah khawatir.

“Tidak, tapi Sooyoung.” kataku berusaha datar.

“Apa yang terjadi pada Sooyoung?” Eomma dan Appa sedikit terkejut.

“Sooyoung….. Sooyoung meninggal.” Suaraku sangat parau kali ini, menahan air mata yang mulai merebak di mataku.

Eomma dan Appa hanya terdiam. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Kalau Eomma dan Appa bisa berbuat sesuatu untukku, mereka akan melakukan apa? membangkitkan kembali Sooyoung?

“Kyuhyun, Eomma tahu kalau perasaanmu lagi hancur…” kata Eomma berusaha menenangkan. Aku hanya terdiam.

“Tapi, Eomma ingin kau menjalin hubungan dengan Victoria.” Kata Eomma, mendengarnya aku mendongakkan kepala dan menatap Eomma dengan tatapan tidak percaya.

“Eomma, aku tidak bisa melakukan itu.” Ucapku lirih.

“Tapi, Kyuhyun. Eomma tidak mau kau begini terus. Eomma hanya ingin memberikan yang terbaik untukmu.”

“Tidak, Eomma. Aku tidak mau. Itu semakin membuatku kacau.” Nadaku sedikit keras.

“Kyuhyun….” Ucap Appa dan Eomma.

Aku mendesah, “Baiklah, kalau itu yang kalian inginkan. Akan aku turuti.” Kataku lemah.

“Baiklah, temui ia besok di Roti Boy, pukul Sembilan.” Kata Eomma. Aku hanya menggangguk pasrah.

“Baiklah kalau begitu, Eomma dan Appa pulang dulu.” Kata Eomma lalu pergi meninggalkanku sendiri dengan perasaan dan keadaanku yang sangat kacau.

***

Kalau ini bukan permintaan Eomma dan Appa, aku pasti akan menolak semua ini. Sampai kapan pun, keberadaan Sooyoung di hatiku tak akan bisa tergantikan oleh siapa pun, begitu juga dengan Victoria.

Aku melangkah masuk ke Roti Boy dan duduk di salah satu meja. Melihat kedatanganku, seorang pelayan menghampiriku.

“Ada yang bisa saya bantu, Tuan?” tanyanya sambil menyodorkan daftar menu.

Aku mengambil daftar menu itu dan mulai memilih, “Aku pesan Roti Boy-nya satu samaa….Coca-Cola.”

“Ini saja?” Tanya pelayan itu.

“Ya.” Aku sedikit mendesah.

“Saya ulangi lagi, Roti Bo…” pelayan itu belum menyelesaikan kata-katanya, aku sudah memotongnya, “Tidak perlu.” Ucapku kesal.

“Baiklah, Ditunggu ya tuan.” Jawab pelayan itu, kemudian meninggalkanku yang terlihat bodoh.

“Hai, Kyuhyun.” Ucap seseorang, dari suaranya saja sudah memecahkan telinga.

“Oh..” aku membalikkan badanku , “Victoria?”

“Ya, ini aku, maaf sudah menunggu lama.” Katanya, nadanya minta maaf tapi menurutku nadanya terdengar licik.

“Nee…” ucapku malas.

“Kata Eomma dan Appa-mu, kita…” Victoria belum menyelesaikan kata-katanya sudah di potong oleh seorang pelayan itu. Aku harus berterima kasih kepada pelayan itu.

“Ini, pesanannya, Tuan. Ehm…. Nyonya mau pesan apa?” tanyanya ramah.

“Aku? Aku pesan Jus Strawberry saja.” Ucap Victoria.

“Baiklah, di tunggu.” Kata pelayan itu dan nyelonong pergi meninggalkan kami.

“Oh ya, Kyuhyun. Aku membawakan ini untukmu.” Ia menyodorkan sesuatu yang sangat asing, ia menambahkan. “Aku harap kau suka, oppa.” Aku tersentak.

“Sejak kapan kau memanggilku oppa?” tanyaku sinis.

“Sejak hari ini, dan sejak kita mulai menjalin hubungan.” Jawabnya santai, ia mencondongkan tubuh ke seberang meja untuk menciumku.

“Apa yang kau lakukan?!.” Bentakku, Aku mendorong tubuhnya dengan tegas. banyak mata yang tertuju pada kami.

“Kyu…” ucap Victoria lirih. Aku mendesah kesal.

“Maafkan aku, Victoria. Aku harus pulang.” Aku bangkit berdiri dan berjalan meninggalkan Victoria.

Flashback POV end.

***

Aku berjalan menuju Volvo-ku, mataku melihat sekeliling lapangan parkir untuk memastikan sesuatu, ‘Victoria tidak ada di lapangan parkir’ pikirku. Seketika aku mempercepat jalanku.

Seseorang memanggilku saat aku akan membuka pintu pengemudi. ‘Victoria’ gumamku sedikit mengerang, dengan terpaksa aku membalikkan badan.

“Hai, Kyu. maaf aku terlambat.” Benar dugaanku, itu Victoria – Sumber bencana.

“Oh, tidak apa-apa.” aku sedikit tersenyum.

“Baiklah,” katanya, ia berjalan melewatiku untuk membuka pintu penumpang. Aku membuka pintu pengemudi dan langsung menderu pergi menuju rumahku.

***

Victoria menghampiri rak di bawah televisi berukuran besar dan mulai mengamati judul-judul film yang aku punya. Victoria tampak bingung akan mulai dari mana.

Sementara Victoria sibuk memilih film yang akan ditonton, aku memutuskan untuk ke dapur dan membuatkan sesuatu untuk dimakan, selain membuat makanan, aku juga menghindarinya.

Aku kembali ke ruang keluarga, masih melihat Victoria yang sibuk memilih film yang akan ditonton.

“Ini,” Kata Victoria, “Nyalakan dan kita bisa menonton film.”

Victoria bersantai di sofa sambil menikmati film yang ia pilih dan bersandar di bahuku. Aku berusaha menghindar tapi ia malah mempererat pelukannya.

“Lepaskan aku,” nadaku sedikit sinis.

“Tidak, tidak mau. Kau kan kekasihku.” Ia semakin mempererat pelukannya. Aku sedikit mengerang.

Sesekali aku memaki-maki Victoria dalam hati, bahkan aku juga pernah mengutuknya saking kesalnya.

“Ddrrttttt….. Drrrttt… Drrttt…”

“Handphone-mu bunyi tuh.” Gerutuku.

“Oh….” Ia merogoh handphone-nya di dalam tas sekolahnya.

“Halo?” ucapnya, suaranya sungguh memuakkan.

Aku tak tahu apa yang dibicarakan, tapi aku justru harus berterima kasih pada seseorang yang meneleponnya saat Victoria berkata, “Baiklah, aku akan ke sana.” Lalu ia memutus hubungan dan meletakkan ponsel-nya di tas sekolahnya.

“Kyuhyun, maafkan aku.” Nadanya minta maaf.

“Untuk apa kau minta maaf?” kali ini nadaku terdengar riang.

“Kurasa aku harus pergi. Maaf aku tak bisa menemanimu.” Ucapnya lirih.

“Oh, pergilah kalau itu sangat penting. Kau tak perlu repot-repot menemaniku, Victoria.” Aku tersenyum evil, lalu mengantarnya ke ambang pintu.

“Kyu,” ucapnya.

“Apa lagi? Nanti kau bisa terlambat.” Ucapku tidak sabaran.

“Kyu, kau sangat perhatian.” Ucap Victoria tersenyum. Tiba-tiba ia merengkuh wajahku, ia berjinjit dan menciumku dengan lembut. Inilah yang aku takuti dari seorang Victoria, *Serangannya*.

“Victoria, lepaskan aku.” Kataku tegas sambil mendorong tubuhnya membuat ia terenyak ke belakang.

“Baiklah, aku pergi dulu.” Ia melambaikan tangan padaku, berlari kecil dan memberhentikan taksi yang kebetulan lewat.

“pergilah selamanya.” Gerutuku

Kyuhyun POV end

***

Naomi POV

Aku terbangun dari tidurku.

Aku sengaja berlama-lama di tempat tidurku yang hangat selama beberapa menit. Sudah cukup berlama-lama di tempat tidur, aku bangkit dan sedikit menguap, turun ke dapur.

Ayahku masih terlelap dalam tidurnya saat aku mengintip ke dalam kamarnya untuk memastikannya. Kali ini aku yang akan membuatkan sarapan, dan aku membuat panekuk. Memang selama ini ayah yang selalu membuatkan sarapan.

Ayahku sudah duduk manis di kursi saat aku akan menghidangkan panekuk ini di meja makan.

“Ayah, sudah bangun?” tanyaku sementara aku meletakkan sepiring panekuk di depannya.

“Iya, dan aku terbangun karena aroma panekuk yang kau buat ini, …N-Naomi.”

“Ayah, biasakanlah dirimu dengan nama itu.” Kataku memohon.

“Tapi, tak semudah itu aku akan terbiasa dengan namamu.” Ucap ayahku, mulai melahap panekuknya.

Aku menatap ayahku dengan penuh harapan, “Ayah…” nadaku memohon.

“Oh, Baiklah, Naomi.” Ayahku mencemberuti panekuknya dan menggerutu tidak jelas.

“Ayah, baru begitu saja sudah dianggap berat.” Kataku, meringis sambil bangkit berdiri.

“Mau kemana kau, Naomi?” tanyanya.

“Bersiap-siap ke sekolah, ayah.” Kataku, menuju kamar mandi.

Setelah mandi, aku mengenakan satu setel pakaian yang sudah kusiapkan, aku berjalan ke ruang tengah dengan menenteng tas sekolahku.

“Ayah, aku harus berangkat sekolah.” Kataku.

“Baiklah. Ngomong-ngomong apa kau akan menggunakan kacamata itu terus?”tanyanya.

“Well, aku hanya ingin tampil beda kok.” Aku meringis, selain ingin tampil beda, aku juga mempunyai tujuan lain.

“Kalau begitu berangkatlah, Naomi.” Ayahku mulai terbiasa mengucapkan nama itu.

***

Aku memarkirkan mobilku di lapangan parkir seperti biasa.

“Hai, Naomi.” Seseorang memanggilku saat menutup pintu pengemudi mobilku. Aku membalikkan badan.

“Oh, Kyuhyun.” Ucapku. “Ada apa?”

“Tidak ada apa-apa, hanya kebetulan lewat dan bertemu denganmu.” Ia mengeluarkan senyum favoriteku.

Aku hanya terdiam, “Naomi, hari ini kau mengikuti kelas apa?” Tanya Kyuhyun(?).

“Bahasa inggris, Mrs. Kelly.” Ucapku.

“Nee, kalau begitu, kau duduk di sebelahku saja.” Ia menawarkan diri. Aku cukup tersentak saat mendengarnya.

“Duduk di sebelahmu? Aku… aku merasa tidak enak sama Victoria.” Ucapku pelan.

“Victoria? Anggap saja ia tak pernah ada.” Kyuhyun berusaha menghiburku.

“Oh, baiklah.” Aku tersenyum, ia mengulurkan tangan dan aku membalas uluran tangannya, menuju ke kelas.

Kelas kali ini lebih cepat berlalu. Mungkin waktu tidak mendukungku saat aku sedang bersama seseorang yang paling berharga dalam hidupku. Bahkan aku masih bisa mengingat dengan jelas saat memperjuangkan sesuatu untuk mendapatkan kembali seseorang yang sempat hilang, seseorang yang paling berharga dalam hidupku.(???)

“Naomi, temani aku ke kantin.” Rengek Kyuhyun.

“Aish, kau ini, Kyu.” gerutuku.

“Apa itu berarti kau mau?” tanyanya, nadanya memohon. Aku hanya mengangguk pelan. Lalu, ia menyeretku menuju kantin.

“Naomi, kau mau pesan apa?” tanyanya, aku masih sibuk dengan daftar menu.

“Ahjumma, aku pesan Orange Juice dua.” Ucap Kyuhyun pada Ahjumma itu.

“Loh, aku kan belum memesan apapun.” Tanyaku.

“Kali ini aku akan menraktir-mu.” Ucap Kyuhyun, lalu menambahkan. “Jadi, aku yang memesan.” Ia tersenyum evil.

“Oh, baiklah.” Aku memutarkan bola mataku.

“Naomi, kau mengingatkanku pada seseorang.” Ucap Kyuhyun tiba-tiba, saat aku sedang menikmati Orange Juice milikku.

“Seseorang? Siapa?” tanyaku.

“Seseorang itu adalah Sooyoung.” mendengar perkataannya barusan membuatku terbatuk.

“Kau kenapa, Naomi?” Tanya Kyuhyun – khawatir.

“Oh, aku hanya tersedak.” Ucapku.

“Oh, lain kali hati-hati.” Ucapnya, lalu membelai rambutku hati-hati. Aku merindukan belaian ini.

“Ngomong-ngomong, si Sooyoung itu sekarang di mana?” tanyaku.

“Sooyoung… sudah tiga tahun ia meninggal.” Nadanya mulai parau.

“Meninggal?” tanyaku sangat singkat dan jelas.

“Ya, karena penyakitnya.” Ucapnya lirih.

“Apa… apa kau masih tidak bisa melupakannya?” tanyaku pelan, butuh perjuangan untuk mengucapkan kata-kata itu.

“Tidak, aku tidak akan melupakannya, aku… aku masih menyayanginya.”  Ucap Kyuhyun, memandangi Orange Juicenya yang tinggal setengah gelas.

“Begitu,” jawabku singkat sambil meminum Orange juice-ku. “Lalu, kenapa kau berpacaran dengan Victoria?” tanyaku lagi.

“Itu…. Aku berpacaran dengannya karena keterpaksaan.” Ceplos Kyuhyun, ia langsung membungkam mulutnya dengan kedua telapak tangannya.

“Keterpaksaan?” aku berusaha mencerna kata-katanya.

“Nee… kalau bukan karena kemauan Eomma dan Appa-ku aku tidak akan menjalin hubungan dengannya.” Ucapnya. Kali ini, aku tidak bisa mengatakan apa-apa.

“Hei, Kyuhyun.” Seseorang menepuk bahu Kyuhyun, aku dan Kyuhyun mendongak kaget.

“Oh, SeungHyun.” Ucap Kyuhyun. “Sini, bergabunglah.” Kyuhyun menarik kursi untuk SeungHyun.

“Thanks.” Ucapnya, ia memandangku dengan tatapan mencurigakan, aku langsung mengalihkan pandanganku ke Orang juice milikku.

“Ini, siapa, Kyu?” Tanya SeungHyun penasaran. “Oh, ini perkenalkan Naomi, Choi Naomi.” Kata Kyuhyun, nadanya kali ini terdengar sedikit ceria.

“Oh, aku Choi SeungHyun.” Ia mengulurkan tangan, aku menerima uluran tangannya. “Choi Naomi.” Jawabku singkat.

“Oh ya, Naomi. Seusai sekolah nanti kau mau tidak pergi bersamaku ke toko buku?” Tanya Kyuhyun bersemangat.

“Seusai sekolah? Baiklah, kebetulan ada yang ingin aku beli.” Aku menerima ajakannya. Sementara SeungHyun sibuk memakan habis kimchi miliknya.

“Kau ikut tidak, SeungHyun.” Tanya Kyuhyun. SeungHyun mendongak dan menatap Kyuhyun, “Tidak, aku tidak mau mengganggu kalian kencan.” Ucapnya sedikit terkekeh dan memakan kembali kimchi-nya.

Aku sedikit tersenyum melihat tingkah SeungHyun dan meminum habis Orange Juice-ku sementara Kyuhyun dan SeungHyun beradu mulut.

“Kalau begitu, aku kembali ke kelas dulu.” Aku bangkit berdiri, seketika SeungHyun dan Kyuhyun berhenti beradu mulut. “Sampa ketemu nanti.” Ucapku pada Kyuhyun, melambaikan tangan pada SeungHyun dan Kyuhyun.

“Kyu,” ucap SeungHyun dengan pelan, saat aku sudah beranjak pergi dan hilang di telan kerumunan siswa-siswa yang lain.

“Apa?” Tanya Kyuhyun, ia ikut memelankan suaranya.

“Apa kau tidak merasa aneh pada Naomi?” tanyanya, Kyuhyun sedikit tersentak mendengar kata-kata yang di ucapkan SeungHyun barusan.

“Maksudnya?” ucap Kyuhyun tidak mengerti, SeungHyun mendesah kesal.

“Hfftt…. Nanti kau akan tau sendiri pada waktunya.” Ucap SeungHyun, mengerutkan kening.

“Aku tidak mengerti maksudmu.” Ucap Kyuhyun, ia ikut mengerutkan kening. “Aigo!” ucap SeungHyun.

Ia bangkit berdiri dan meninggalkanku yang masih terduduk manis di bangkuku, “Aku ke kelas dulu, Sampai jumpa.” Teriaknya. Aku hanya terdiam, aku masih memikirkan perkataan SeungHyun sampai akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke kelas.

Naomi POV end

***

Kyuhyun POV

Aku bergegas ke lapangan parkir saat Lonceng tanda usai sekolah berbunyi. Aku berjalan sambil mendengarkan MP3 dengan Headset yang menancap di MP3 dan terpasang manis di telingaku, aku juga mengemut permen lollipop yang aku beli di kantin.

Aku menghentikan jalanku saat melihat dua wanita yang sedang asyik bercanda, lalu aku menyunggingkan senyumku dan menghampiri wanita itu.

“Naomi,” teriakku memanggilnya, ia menoleh ke belakang dan tersenyum.

“Apa kita jadi pergi ke toko buku?” tanyaku saat aku sampai di tempat Naomi berdiri. (?) entah keberanian dari mana, aku menyubit pipinya dengan lembut.

“Naomi, aku pulang duluan ya.” Ucap seorang wanita yang bernama Park Bom.

“Nee, sampai ketemu besok, unnie.” Ucap Naomi, ia melambaikan tangannya.

“Naomi? Jadi tidak kita ke toko buku?” tanyaku tak sabaran, ia menatapku dengan matanya yang indah, ia memiliki mata seindah mata Sooyoung.(?)

Ia hanya tersenyum, dan mengangguk pelan. Aku mengulurkan tanganku dan menggenggam tangannya, dan pergi dari lapangan parkir dengan mengendarai Volvo-ku.

***

“Naomi, kau mau beli buku apa?” tanyaku, matanya sibuk memilih buku, sementara mataku sibuk memperhatikannya.

“Kyu, bukankah kau menyukai ini?” tanyanya serentak, ia menunjuk pada sebuah buku yang berjudul Romeo and Julliete (?). mataku langsung tertuju pada buku itu.

“Bagaimana kau tahu kalau aku suka Romeo and Julliete?” tanyaku, setahuku orang yang tahu aku menyukai Romeo and Julliete kan hanya Sooyoung, bagaimana ia bisa tahu? Pikirku.

“Eh…. Aku… aku hanya menebak saja kok,” ucap Naomi, raut wajahnya terlihat seperti orang ketakutan. Ia menambahkan. “Banyak orang yang suka pada Romeo and Julliete, jadi aku berpikir kalau kau juga suka.” Ia memaksakan senyumnya.

“Oh, iya aku memang suka itu.” Aku sedikit mendesah, tapi aku masih merasa curiga pada Naomi. Seketika aku teringat pada perkataan SeungHyun waktu lalu.

Aku masih berdiam diri di antara rak-rak buku yang berjejer rapi dan memikirkan sesuatu, sementara Naomi masih sibuk menjelajahi dari satu rak buku ke rak buku yang lain.(?)

“Kyu,..” suara Naomi menyadarkan lamunanku, dan menghampirinya, “Ada apa?” tanyaku penasaran.

“Apa itu Victoria?” tanyanya. Ia menunjukkan jari telunjuknya ke arah rak-rak yang berisi majalah-majalah.

“Nee, ayo kita menghampirinya.” Ajakku, aku sengaja mengajak Naomi untuk menghampirinya supaya Victoria merasa cemburu dan memutuskanku.

“Victoria?” tanyaku, nadaku sengaja aku buat terkejut. Ia menoleh ke arah kami dan sedikit terkejut saat melihatku menggenggam tangan Naomi.

“Kyu, a-apa yang kau lakukan?” ucapnya serentak, aku melihat matanya tertuju pada tanganku yang menggenggam tangan Naomi. Aku hanya terdiam, menunggu sesuatu yang aku nantikan dari dulu.

“Victoria, Sayang?” ucap seseorang, memecah keheningan yang sempat terjadi.

“Ryeowook?” Seruku dan Naomi bersamaan. Tidak bisa dipercaya, Ryeowook dan Victoria? Pikirku. Kalau begitu saatnya berakting, aku tersenyum evil.

“Ryeowook? Apa yang kau lakukan di sini? Dan kenapa kau memanggilnya sayang?” aku meluncurkan begitu banyak pertanyaan, dan aku sengaja memasang ekspresi terkejut di wajahku.

Mendengar pertanyaan yang keluar dari mulutku, Victoria berusaha memberikan penjelasan dan mulai membuka mulutnya untuk berbicara, tapi aku memotongnya. “Ow…. Jadi begini ceritanya? Berpacaran diam-diam tanpa sepengetahuanku?” nadaku ketus.

“Kyu, bukan beg..” Victoria belum menyelesaikan kata-katanya,telapak tanganku sudah mendarat dengan mulus di wajah Victoria dan meninggalkan memar berwarna merah.

“ Mulai detik ini, kau bukan kekasihku lagi.” Ucapku dengan nada tegas, aku tidak ingin memandang Victoria dan mengalihkan pandanganku pada Naomi yang berusaha menahan tawa.

Mendengar perkataanku yang begitu jelas dan tidak perlu diragukan lagi, air mata Victoria mulai merebak di matanya dan mengalir deras di pipinya.

“Naomi, ayo kita pulang.” Aku menyeret Naomi dan menjauh dari hadapan Victoria dan Ryeowook. Tawa Naomi seketika meledak saat kami sudah cukup jauh dari hadapan mereka.

“Kau kenapa tertawa?” tanyaku kesal, “Apa tadi itu lucu?” ucapku dengan sinis.

“Aktingmu sangat bagus.” tawanya semakin meledak, dan membuatnya terbungkuk-bungkuk. Aku tersenyum melihatnya bahagia, entah bagaimana bisa aku seperti berada di samping Sooyoung.

“Kyu, kau harus menraktirku.” Ucapnya, berusaha mengatur napasnya yang tidak teratur dan menghentikan tawanya.

“Traktir? Baiklah aku akan menraktirmu.” aku langsung menyeretnya masuk ke dalam mobil dan menderu pergi menuju sebuah bar.

***

“Kau mau pesan apa, Naomi?” tanyaku saat berada di konter bar (?), nadaku sedikit keras berusaha mengalahkan suara musik yang begitu mengguncang telinga. *bayangin aja bar.nya yg di high-high ato last farewell.

“Terserah,” ucap Naomi sedikit berteriak. “Baiklah kalau begitu,” ucapku sedikit berteriak.

Sementara menunggu Soju yang aku pesan, aku memperhatikan Naomi. Matanya jelalatan ke penjuru bar. Aku tersenyum saat melihat wajahnya yang mungil.

“Ini, Soju yang anda pesan, Tuan.” Kata seorang pelayan bar itu, aku langsung meneguk habis satu gelas yang ia berikan dan aku meminta tambah.

“Kyuhyun, kau sudah menghabiskan tiga botol Soju,” Teriaknya memberitahuku. Aku sudah mabuk berat saat meneguk satu gelas Soju lagi.

Aku mendongakkan kepalaku untuk menatap wajahnya, aku tersenyum dan merancau tidak jelas. “Rak Na Dek Ngo,” ucapku dan tertawa tidak jelas.

“Kyu, kita harus pulang.” Ucapnya pelan, aku belum sempat menjawab dan mengiyakan ajakannya, aku sudah jatuh pingsan. (?)

Kyuhyun POV end

***

Naomi POV.

Aku melihat Kyuhyun sudah dalam keadaan mabuk berat dan merancau tidak jelas di tengah keramaian.

“Kyu, kita harus pulang.” Ucapku pelan, aku masih menunggunya untuk mengiyakan ajakanku, aku tidak mungkin akan merangkul dan menuntunnya tanpa seizin Kyuhyun. Ia sudah jatuh pingsan sebelum mengiyakan ajakanku (?).

‘Arrgghhh…’ gerutuku. Aku mengacak-acak rambutku. Kenapa ia selalu merepotkanku saja? Pikirku.

“Naomi?” seseorang memanggilku, aku membalikkan badan, “SeungHyun?” aku cukup terkejut melihat SeungHyun di bar.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya, nadanya cukup keras. Aku tidak menjawab pertanyaannya, mataku kembali tertuju pada Kyuhyun yang sudah tepar di atas meja.

“Apa yang terjadi pada Kyuhyun?” tanyanya lagi saat melihat Kyuhyun tepar di atas meja.

“Ia mabuk berat dan pingsan, kau bisa membantuku?” tanyaku pada SeungHyun.

“Apa yang bisa aku bantu?” tanyanya lagi, lagi dan lagi menawarkan diri. “Bantu aku membawanya pulang,” ucapku. SeungHyun merangkul dan menuntun Kyuhyun sementara aku mengikutinya dari belakang dan pergi meninggalkan bar.

Aku dan SeungHyun mengantar Kyuhyun pulang ke rumahnya. SeungHyun merebahkan tubuh Kyuhyun di ranjang dan menghampiriku.

“Naomi, aku pulang dulu.” Ucap SeungHyun, aku hanya mengangguk pelan dan mengantarnya ke ambang pintu. Ia berjalan ke mobilnya dan menderu pergi saat aku melambaikan tangan.

Aku kembali ke kamar Kyuhyun dan mendapatinya tertidur lelap. Aku mulai melepaskan sepatu dan jaket yang ia kenakan. Sesekali aku tersenyum melihatnya, sudah lama aku tidak melihatnya seperti ini.

Aku menghampiri lemari pakaian yang hanya beberapa langkah di sisi kanan pintu kamar dan mengaduk-aduk isi lemari untuk mencari selimut. Aku menyelimuti tubuhnya dengan selimut setelah aku mendapatkan selimut itu di lemari.

Setelah menyelimuti tubuhnya, tanganku membelai keningnya dengan lembut beberapa kali dan menempelkan bibirku ke puncak kepalanya.

“Kyuhyun, aku harus pulang.” Bisikku di telinganya, entah ia mendengarkanku atau tidak, aku tidak terlalu memikirkannya. Kyuhyun menggenggam erat tanganku saat aku akan membalikkan badan dan bergegas untuk keluar kamar.

“Kyu, aku harus pulang, ini sudah larut malam.” Ucapku lagi, aku tidak tahu apakah Kyuhyun mendengarkan aku.

“Sooyoung, k-kau jangan tinggalkan aku.” Ia menarikku dan mendekapku di dadanya. Ia memelukku lebih erat lagi dan menambahkan. “Aku tidak ingin kehilangan kau lagi.” Ucapnya lirih.

“Kyu, pikiranmu sedang kacau.” Ucapku berusaha melepaskan pelukannya tapi gagal total. “Dan… dan aku bukan Sooyoung.” dustaku.

“Aku sangat yakin kalau kau itu Sooyoung.” ucapnya lirih, aku mendongakkan kepalaku untuk melihat wajahnya.

“Kyu….” gumamku, air mataku mulai mengalir deras membuat wajah dan kemeja Kyuhyun sedikit basah.

“Sooyoung, a-aku tidak mempunyai kekuatan untuk meninggalkanmu,” ucap Kyuhyun. Nadanya kali ini sangat parau.

“Kyu.. kalau begitu kau jangan meninggalkanku.” Nadaku tak kalah paraunya dengan nadanya. Aku mempererat lenganku yang melingkar di tubuhnya.

“Tapi kau jangan meninggalkanku lagi, bahkan menjauh dariku.” Ia memohon, aku hanya menggangguk pelan dan ia mulai membelai lembut rambut pendekku.

Keheningan kali ini terjadi lebih panjang, ia berhenti membelai rambutku dan aku bisa merasakan napasnya yang sudah kembali teratur. Aku kembali mendongakkan kepalaku untuk melihat wajahnya, ia sudah tertidur lelap.

Aku mendesah kesal saat mengetahui ia hanya mengigau saja, ya ia hanya mengigau tentang Sooyoung. Selama ini aku selalu berharap lebih padanya.

Aku melepaskan pelukannya dan beranjak pergi meninggalkan rumahnya. Aku terpaksa berjalan kaki pulang ke rumah karena teringat pada mobilku yang aku tinggalkan di lapangan parkir sekolah. Untung saja rumahku hanya beberapa blok dari rumah Kyuhyun.

Naomi POV end

***

Kyuhyun POV

Aku diam tak bergerak waktu terbangun pada saat SeungHyun merebahkan tubuhku di ranjang dan menjaga agar desah napasku tetap teratur.

Aku sengaja tidak membuka mata saat Naomi mulai melepaskan sepatu dan jaket yang kukenakan. Bahkan saat ia menyelimutiku, aku masih tetap terpejam.

Tangannya mulai membelai lembut di keningku beberapa kali dan mengecup puncak kepalaku. Aku bisa merasakan belaiannya, belaian yang sempat menghilang, yang selama ini kunanti-nanti.

“Kyuhyun, aku harus pulang.” Bisiknya di telingaku. Suara itu, suara yang aku kenal. Ya itu suara Sooyoung, aku tidak mungkin salah. Aku menggenggam erat tangannya saat ia akan membalikkan badan dan bergegas untuk keluar dari kamarku. Aku tidak ingin kehilangan ia lagi. (?)

“Kyu, aku harus pulang, ini sudah larut malam.” Ucapnya lagi, aku hanya terdiam karena merasa nyaman jika bersamanya.

“Sooyoung, k-kau jangan tinggalkan aku.” aku menariknya dan mendekapnya di dadaku. Aku memeluknya lebih erat lagi dan menambahkan. “Aku tidak ingin kehilangan kau lagi.” Ucapku, entah mengapa nadaku terdengar lirih.

“Kyu, pikiranmu sedang kacau.” Ucapnya berusaha melepaskan pelukanku tapi gagal total. “Dan… dan aku bukan Sooyoung.” dustanya.

“Aku sangat yakin kalau kau itu Sooyoung.” ucapku lirih, aku melihat ia mendongakkan kepalanya untuk melihat wajahku di sela-sela bulu matanya.

“Kyu….” gumamnya, aku bisa merasakan kemejaku sedikit basah. Aku melirik pada Sooyoung dan melihat air matanya yang sudah mengalir deras di wajahnya

“Sooyoung, a-aku tidak mempunyai kekuatan untuk meninggalkanmu,” ucapku dengan nada yang parau.

“Kyu.. kalau begitu kau jangan meninggalkanku.” Suaranya pecah. Ia mempererat lengannya yang melingkar di tubuhku. Aku sedikit tersenyum.

“Tapi kau jangan meninggalkanku lagi, bahkan menjauh dariku.” Nadaku memohon, Sooyoung hanya menggangguk pelan dan aku mulai membelai lembut rambut pendeknya.

Kali ini kelelahan telah mengusik momen ini, momenku bersama Sooyoung. aku terlalu lelah untuk tidak memejamkan mata. Tak butuh waktu lama aku sudah tertidur dan menghentikan belaian tanganku di rambutnya.  Aku sedikit bahagia walau hanya bisa berbaring di sini bersama Sooyoung.

Kyuhyun POV end.

***

Naomi POV

“Tookkk… Tookkk.. Tookkk.”  Ketukan pelan di pintu kamarku membuat aku terbangun dari tidurku.

“Naomi, bangunlah ini sudah pagi. Kau bisa terlambat sekolah.”  Suara ayahku membangunkanku.

“Iya, Ayah. Aku  akan turun sebentar lagi.” Aku sedikit berteriak, “Tunggu aku di bawah.” Lanjutku. (?)

“Cepatlah, kau bisa terlambat.” Kata ayahku lagi.

Aku bangkit dari ranjang dan bergegas menuju kamar mandi. Setelah membersihkan tubuhku dan berpakaian, aku turun ke ruang makan dan mendapati ayahku yang sedang menikmati Omelet bikinannya.

“Hai, Ayah.” sapaku, aku duduk di seberangnya dan mulai menyantap Omelet yang ia buat untukku. Ia hanya terdiam dan mendesah kesal.

“Bisa tidak kalau aku memanggilmu Sooyoung saja?” tanyanya waswas, kulirik ayahku dengan tatapan tidak percaya. “Well, nama itu terdengar aneh bahkan untuk diucapkan.” Lanjut ayahku.

“Sudah kuduga ini bakal terjadi.” Gerutuku pada diri sendiri membuat keningku berkerut.

“Sooyoung?” tanyanya lagi. Aku tidak menjawab.

Kali ini keheningan yang terjadi jauh lebih panjang, “Baiklah.” Aku menjawab pertanyaan ayahku.

Terdengar ketukan cepat di pintu depan.

Aku menghembuskan napas kesal saat berjalan untuk membukakan pintu. Aku terkejut saat mengetahui SeungHyun-lah yang bertamu dan membuatku terdiam sejenak.

“Sooyoung, itu siapa?” teriak ayahku dari ruang makan dan itu membuatku mati gaya. (?)

“Sooyoung? apa maksud semua ini?” Tanya SeungHyun, ekspresinya terkejut. Aku hanya terdiam.

“Ehm.. SeungHyun a-aku tidak..” aku belum menyelesaikan kata-kataku, SeungHyun menyeretku keluar rumah dan hanya sempat menyapa ayahku sekilas dari balik bahuku.

“Sebenarnya apa yang terjadi di sini?” desaknya padaku saat kami berada di mobilnya.

“K-kenapa kau bisa ada di sini?” tanyaku, suaraku sedikit gemetaran.

“Apa aku harus menjawabnya?”  Tanya SeungHyun lagi.

“Ya, kau harus menjawabnya.” Ucapku sedikit mendengus,

“Kau bahkan belum menjawab pertanyaanku.”

“Kau bahkan tidak menyapaku hari ini.”

“Hai,” sapa SeungHyun, ia terkekeh melihat tingkahku. “Sekarang ceritakan.” Kali ini raut wajahnya sangat serius.

Kali ini aku tidak bisa berbuat apa-apa. “Sebenarnya… waktu itu aku belum meninggal.” Aku menghembuskan napas.

“Maksudmu belum meninggal? Apa Eunhyuk berbohong?” tanyanya penasaran, ia menatap mataku tapi aku mengalihkan pandanganku supaya tidak bertatapan dengan SeungHyun. Jujur aku takut dengan tatapannya.

“T-Tidak, ia tidak berbohong.”belaku.

“Lalu? Apa yang terjadi?” desaknya.

Flashback POV

…..

Kyuhyun menoleh ke belakang saat pintu ruang operasi terbuka dan Dr. Hyukjae keluar dari ruangan. Ia langsung menghampirinya.

“Bagaimana keadaan Sooyoung?” Tanya Kyuhyun tak sabar.

“Operasinya berhasil…” Eunhyuk tidak melanjutkan kata-katanya, mendengarnya, Kyuhyun merasa lega.

“Hanya saja, Sooyoung tidak bisa diselamatkan.” Lanjut Eunhyuk.

Tubuh Kyuhyun terkulai jatuh ke lantai *posisi duduk. SeungHyun menghampirinya dan menepuk pundaknya. Sementara Donghae hanya bisa menatap Kyuhyun dengan tatapan peduli.

“Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi tuhan berkata lain.” Lanjut Eunhyuk dan meninggalkan mereka.

“Kyuhyun, sebaiknya kita harus pulang.” Kata Donghae, ia membantu Kyuhyun bangkit berdiri lalu menyeretnya pulang. Saat itu Kyuhyun hanya bisa pasrah, hatinya sudah mati rasa.

Donghae dan Kyuhyun sudah beranjak pergi dari rumah sakit, sementara SeungHyun masih berada di rumah sakit.

“SeungHyun, sebaiknya kau pulang. Ini sudah larut malam.” Ayahku menepuk pundak SeungHyun, suaranya sangat parau.

“Tapi….” Ucap SeungHyun, suaranya melemah.

“Sudahlah, sebaiknya kau pulang.” Ayahku memohon, ia merasa tidak enak pada SeungHyun.

“Baiklah, saya permisi dulu.”  Ia membungkukkan badan membentuk sudut 90 derajat, lalu pergi meninggalkan ayahku sendiri di koridor rumah sakit.

Sementara itu….

Eunhyuk kembali masuk ke ruang operasi untuk membereskan kembali peralatannya. Seorang suster memanggil namanya saat ia masih sibuk membereskan peralatan yang ia gunakan.

“Ada apa?” tanyanya pada suster itu.

“Maaf jika saya mengganggu anda, tapi saya bisa merasakan denyut nadinya.” Kata seorang suster itu sambil memegang pergelangan tanganku dan sedikit menekannya.

“Apa kau bercanda?” ucapnya serentak, ia langsung menghampiri Suster itu dan memastikannya dengan menekan pergelangan tanganku. (?)

“Kau benar, aku harus memberitahu hal ini terhadap keluarganya.” Ucap Eunhyuk, ia langsung bergegas ke luar ruangan. (?)

“Tn. Choi?” ucapnya pelan. Mendengar ada yang memanggilnya, ayahku membalikkan badan dan bangkit berdiri saat mengetahui kalau yang memanggilnya adalah Dr. Hyukjae.

“Ada apa, Dr. Hyukjae?” nadanya sangat parau.

“Tn. Choi sebenarnya… S-Sooyoung masih hidup.” Ucap Eunhyuk dan mendesah.

Mendengar perkataan Dr. Hyukjae aka Eunhyuk, ayahku membelalakkan matanya selebar mungkin dan menjatuhkan tubuhnya ke lantai. Sesekali ia mengucapkan kata syukur. (?) *woo

….

Flashback POV

“Pantas saja…” ucap SeungHyun menggerutu tak jelas.

“Kenapa?” tanyaku penasaran, kali ini aku memberanikan diriku untuk menatap matanya.

“Tidak ada acara pemakaman.” Ia mengerucutkan bibirnya.

“K-Kau mengharapkanku mati?” tanyaku, aku sedikit terkekeh.

“Tidak, aku tidak seperti itu. Asal kau tahu saja, walau tampangku menyeramkan tapi hatiku seperti Hello Kitty.” Ucapnya. Kata-katanya membuat tawaku meledak tak karuan.

“Kenapa kau baru muncul sekarang?” tanyanya lagi.

“Kau tahu, tidak semudah yang kau pikirkan untuk muncul kehadapan masyarakat.” Suaraku tercekik, tawaku kembali meledak.

“Apa menumbuhkan rambut termasuk salah satu alasannya?” tanyanya, ia membelai lembut rambutku untuk memastikan kalau rambutku asli. Aku hanya mengangguk.

“Dan… kenapa kau mengganti namamu?” tidak bosannya ia bertanya terus.

“Itu karena Kyuhyun.” Kata-kata itu keluar dengan sendirinya dari mulutku.

“Kyuhyun?”

“Ya, karena saat itu aku mengetahui kalau Kyuhyun sedang menjalin hubungan dengan Victoria.” Ucapku lagi, aku memandang kaca mobil dan melihat pemandangan di luar. Ia hanya terdiam.

“Aku tidak ingin merusak keadaan.” Lanjutku seperti meyakinkan sesuatu.

“Kau tidak pernah berubah, Sooyoung.” ejek SeungHyun.

“Oh ya, kenapa kau bisa kemari?” tanyaku.

“Oh, aku hanya kebetulan lewat saja dan sempat teringat pada mobilmu yang kau tinggal di lapangan parkir. Maka dari itu, aku ingin mengajakmu berangkat sekolah bersama.” Ia menawarkan diri.

“SeungHyun, aku sudah sering merepotkanmu.” Nadaku minta maaf.

“Tak apa-apa.” ucapnya dan menderu pergi menuju sekolah.

Sooyoung POV end.

Kyuhyun POV

Saat kelas Bahasa Inggris berakhir, aku langsung menuju ke Perpustakaan. Entah kenapa aku sedang tidak ingin ke kantin dan hatiku selalu menyuruhku bergegas ke perpustakaan.

Aku berjalan lambat-lambat di antara rak-rak buku yang menjulang tinggi dan mencari sesuatu yang menarik. Tanganku mulai mengaduk-aduk mencari sesuatu di deretan buku-buku yang tertata rapi.

Tak sengaja, mataku melihat sosok wanita yang kukenal di sela-sela rak buku itu. Aku langsung menghampiri wanita itu dan menyapanya.

“Hai, Sooyoung.” ucapku. Aku sangat bahagia bisa menyebut nama itu lagi.

Ia menoleh kaget. “Kyuhyun?” ia menatapku dengan tatapan tidak percaya.

“Tenanglah, Soo. Aku sudah menyadari kalau kau itu Sooyoung saat kita berada di kamarku.” Aku tersenyum lebar saat mengucapkan kata-kata itu.

“Apa kau akan membenciku, Kyu?” tanyanya waswas.

“Membencimu? Bukankah kemarin malam aku sudah berjanji tidak akan meninggalkanmu bahkan menjauhimu saja aku tak bisa.” Ucapku. Sooyoung hanya terdiam dan mulai meneteskan air mata.

“Soo, apa kau menangis bahagia?” tanyaku sedikit khawatir, aku menariknya dan mendekapnya di dadaku. Lagi-lagi Sooyoung hanya menggangguk.

“Sooyoung, aku tidak akan menanyakan apa yang terjadi padamu selama tiga tahun ini atau bagaimana ini bisa terjadi. Aku sudah cukup bahagia bisa bersamamu lagi.” Ucapku, tanganku membelai lembut rambutnya dan mengecup puncak kepala Sooyoung.

“Selama ini aku selalu berharap bisa kembali ke pelukanmu lagi.”  Ia semakin mempererat lengannya yang melingkar di pinggangku.

Aku melepaskan pelukanku dan menjauhkan tubuhnya sementara tanganku sibuk merogoh sesuatu di dalam kantong jaket yang kukenakan.

“Sooyoung, apa kau mau mengenakan cincin ini lagi?” tanyaku berharap. Hanya butuh satu menit ia menggangguk setuju dan aku memakaikan cincin itu ke jari manisnya.

The End

Gimana ceritanya? Enggak nyambungkan?

Harap maklum yaaa…. Bikinnya aja asal-asalan ^o^

Maaf juga kalo ceritanya gak masuk akal atau apalah… hehe ^o^ sama kalo ada tulisannya yang salah.

Yasud.. seperti biasa aku tunggu Comment + likenya.

Gomawo !!!

Iklan

17 thoughts on “[Vol. 2] Love Story

  1. uwah… ternyata soo belom meninggal… kirain kyu bkln sm vic. untung gak jd hahah. soo mati suri y. tp bener2 soo.beruntung bs hidup lg. jd bs bersatu sm kyu ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s