[Part 1] Someone Like You

Someone Like You

Title : [Part 1] Someone Like You

Cast : Cho Kyuhyun | Choi Sooyoung | Jessica Jung | others..

Genre : Romance

Rating G

Length : Series

******

Aku tersaruk-saruk menuju tempat yang menerima jasa Laundry dengan ekspresi muram. Hari ini aku terbebaskan dari berbagai macam kegiatan yang berhubungan dengan pekerjaanku sebagai seorang pelajar dan itu seharusnya bisa membuatku tidur seharian atau bermalas-malasan di apartemenku bukan malah membuatku sibuk untuk membereskan seisi apartemenku.

Kalau saja Donghae merayakan malam pergantian tahun di London bukan di Seoul dan memilih untuk tinggal sementara di apartemenku aku tidak akan melakukan hal yang merepotkan seperti ini. Aku hanya bisa mendesah pasrah.

Flashback POV

Seseorang telah mengusik tidurku dengan menarik selimut afghan sangat tebal yang menyelimuti tubuhku dengan rapat. Mau tak mau aku terbangun dari tidurku yang cukup nyenyak.

“Sudah kubilang berkali-kali padamu jangan ganggu tidurku, Heechul.” ucapku dengan nada lemas dan mata yang masih terpejam. Ia tidak menjawab.

Sepintas otakku yang bisa dibilang pas-pasan mulai bekerja, mengingat-ingat sesuatu. Tolol memang, berpikir dalam keadaan antara sadar dan tidak sadar. Aku baru menyadari kalau Heechul sudah tiga hari berada di Kota Paris atau lebih tepatnya ia sedang berlibur, jadi aku hanya seorang diri di apartemenku.

Seketika aku bangkit terduduk di ranjang untuk memastikan seseorang yang telah mengusik tidurku itu bukan perampok atau pemerkosa yang masuk ke dalam apartemenku karena aku lupa mengunci pintu depan. (?)

“Ya! Hyung, kau membuatku takut saja!” gerutuku kesal pada seorang pria di hadapanku. Pria itu bernama Donghae, ia adalah saudaraku. Donghae bisa dibilang saudara kandungku karena kami satu ibu tapi beda ayah.(?)

“Kau tidak banyak berubah, ya.” Ucapnya sambil memandang sekeliling kamarku.

“Kapan kau datang?” aku tak menggubris perkataannya barusan.

“Baru saja.” Jawabnya singkat.

“Kyu, lihat kamarmu! Tidak ada bedanya sama kapal pecah.” Ucapnya sambil membereskan beberapa barang yang berceceran di lantai.

“Well, setidaknya wajahku tidak sama dengan kapal pecah.” Ucapku asal.

“Ah, kau itu hanya mengandalkan wajahmu yang pas-pasan.” Kata-katanya membuat mataku sedikit membelalak.

“Hei, wajahku itu tampan setampan wajah suaminya author.” Kali ini Kyuhyun berkomplotan dengan author. Kyuhyun menambahkan, “Ralat, Hyung. Wajahku itu bisa membuat para wanita jatuh hati.”

“Apa? membuat para wanita jatuh hati padamu? Yang ada para wanita jatuh talak padamu, Kyu. buktinya sampai sekarang kau tidak pernah mempunyai kekasih.”

“A-aku hanya belum menemukan yang cocok untukku, Hyung.” Suaraku defensive, tapi itu benar aku belum menemukan yang cocok untukku.

“Baiklah, Kyu. aku tak ingin berdebat denganmu lagi.” Donghae menggantungkan kata-katanya. “Kau harus membuktikan kalau wajahmu itu benar-benar tampan.” Lanjutnya.

“Bukannya sekarang sudah jelas kalau wajahku itu tampan?” ucapku dengan percaya diri sambil memasang wajah secute yang aku bisa.

“Itu bagimu, Kyu.” ucapnya sangat singkat.

“Oh, baiklah. Apa yang harus kulakukan untuk membuktikannya?” tantangku.

“Baiklah, kau tunggu di sini, Kyu. aku akan mengambil alatnya.” Ucapnya sambil beranjak ke ruang tengah.

“Alat?” gumamku penasaran.

Tak butuh waktu lama, aku melihat Donghae kembali masuk ke dalam kamarku dengan tangan membawa keranjang yang berukuran sedang.

“Apa itu, Hyung?” tanyaku penasaran.

“Ini? ini tumpukan pakaian kotor milikmu.”

“Buat apa itu, Hyung?” lagi-lagi dan tak bosan-bosannya aku bertanya.

“Kau harus mencuci semua pakaian kotormu itu.” ia menyodorkan keranjang itu padaku, mau tak mau aku harus melakukannya karena aku sudah berjanji.

“Nee, baiklah. Aku membutuhkan sedikit waktu untuk membersihkan tubuhku.” Aku beranjak ke kamar mandi sementara Donghae sibuk membereskan apartemenku. Setidaknya bagianku ini lebih ringan.

Selesai membersihkan tubuhku dan berpakaian aku langsung bergegas menuju tempat yang menerima jasa laundry dengan membawa keranjang yang berisi pakaian kotor dan gitar. Aku sengaja membawa gitar karena menunggu cucian itu tidak membutuhkan waktu yang sangat sebentar dan aku tidak mau menghabiskan waktuku untuk melihat cucian yang berputar-putar di mesin cuci.

Flashback POV end

‘Sungguh menyebalkan’ gerutuku dalam hati saat memasukkan pakaian kotor milikku ke dalam mesin cuci dan menuangkan sabun cuci ke dalamnya.

Aku menunggu cucianku di ruang tunggu yang sengaja disediakan di sana. Sambil menunggu cucianku, aku memainkan gitar yang kubawa dan menyanyikan beberapa lagu. Sebenarnya aku sangat suka bermain piano daripada bermain gitar. Tapi aku tak mungkin menggotong-gotong piano ke sana kemari jadi, aku terpaksa membawa gitar.

Aku mengalihkan pandanganku ke pintu depan saat melihat seorang wanita dengan tangan yang membawa keranjang berisi pakaian kotor. Sesaat aku tersadar kalau wanita itu cukup manis dan wajahnya pun tidak membosankan.

Sebenarnya pakaianku sudah jadi (baca : tercuci bersih dan terlipat rapi *di seterika). Tapi aku sengaja berlama-lama di tempat laundry untuk memerhatikan wanita itu. sesekali wanita itu melihat ke arahku karena ia merasa sedang diperhatikan. Reflex aku langsung mengalihkan pandanganku ke gitar yang daritadi berada di pangkuanku dan mulai memainkannya.

Wanita itu masih memperhatikanku dan tersenyum lalu ia mulai membereskan pakaiannya dan bergegas ke luar dan pulang. Aku memukul-mukul kepalaku, “Kenapa aku tidak mengajaknya berbicara dan hanya memerhatikannya dari jauh? Bahkan namanya saja aku tidak tahu.” Gerutuku kesal.

Aku bangkit dari kursiku dan berjalan tersaruk-saruk untuk mengambil pakaianku.

“Permisi, apa kau tahu wanita tadi?” tanyaku ramah pada seorang wanita yang menjaga tempat itu.

“Wanita?” tanyanya penasaran.

“Iya, wanita yang baru saja keluar.”

“Oh, wanita itu bernama Choi Sooyoung, hampir setiap hari ia ke sini.” Ucap wanita itu sambil tersenyum lalu meninggalkanku.

‘Choi Sooyoung.’ gumamku pelan berusaha mengingat-ingat sambil mengambil keranjang milikku dan bergegas keluar tempat laundry dan pulang. Sebelum keluar dari tempat itu, aku menemukan sebuah kain panjang yang berwarna ungu dan berbentuk persegi panjang *selendang tergeletak di lantai.

Aku mengambil kain itu dan memandangnya sejenak, “Kurasa ini milik Sooyoung.” aku yakin dengan kata-kataku barusan karena aku melihat ia membawa kain ini dan kurasa ia tak sengaja menjatuhkannya.

Aku berpikir sejenak, bagaimana caranya mengembalikan kain ini? aku saja belum mengenalnya bahkan aku tahu namanya saja bukan dari Sooyoung sendiri. tak butuh waktu lama aku langsung tersenyum selebar mungkin, “Aku tahu caranya.” Ucapku sambil menyelentikkan jariku.

***

“Hyung, aku pulang.” ucapku dengan nada sedikit keras saat membuka pintu apartemenku. Tidak ada jawaban dari Donghae.

Donghae tidak ada di dalam kamarnya saat aku mengintip ke dalam kamarnya untuk memastikan. Aku turun ke dapur saat perutku berbunyi. Donghae sudah menyiapkan sarapan untukku.

Aku duduk di salah satu kursi logam dan mulai menggayang roti bakar yang masih agak panas. Kurasa Donghae baru saja keluar apartemen.

“Aku pulang.” ucap seseorang saat membuka pintu depan, seseorang itu adalah Donghae. Ia menghampiriku yang masih terduduk manis di dapur.

“Kau dari mana saja?”

“Aku tadi pergi ke toko buku.” Ucapnya sambil duduk di sebelahku dan mulai memakan roti bakar yang masih tersisa.

“Hyung, kenapa kau tidak menungguku sebentar? Aku juga ingin ke sana untuk membeli sesuatu.”

“Maaf, Kyu.” ucapnya pelan dengan nada meminta maaf. “Kau-kan paling tidak suka jika ke toko buku.”

“Baiklah, aku ingin mengajakmu ke toko buku.” Ucapku sedikit cemberut. Ia hanya menggangguk pelan.

***

“Kyu, semua itu buat apa?” tanyanya sedikit terkejut saat melihatku membeli satu pack kertas HVS, 3 buah spidol, perekat kertas (Baca: lem), pengukur kertas (Penggaris) dan beberapa buah bolpoint berwarna.

“Untuk mendapatkan sesuatu, Hyung.” Ucapku sambil menyodorkan beberapa jumlah uang yang tertera di mesin kasir.

“Mendapatkan sesuatu? Apa itu tugas sekolahmu?” tanyanya penasaran. Aku menggeleng cepat dan tersenyum evil.

“Lalu?”

“Lihat saja nanti.” Jawabku singkat, “Oh ya, Hyung. Kali ini aku yang menyetir ya?” pintaku dengan nada memohon.

“Baiklah.” Ucapnya, tanpa ba bi bu aku langsung menyeretnya masuk ke mobil dan langsung menderu pergi ke suatu tempat.

“Kita mau ke mana lagi?” tanyanya penasaran. Aku tidak menjawab pertanyaannya dan hanya tersenyum.

Aku membelokkan mobil pelan-pelan dan memarkirnya di depan sebuah bangunan rumah yang tidak terlalu besar tapi terlihat anggun dengan tumbuhan yang menjalar di dinding-dinding rumah tersebut. Pintu depannya diapit oleh benda berbentuk bujur sangkar sempurna yang ternyata jendela besar.

“Mau apa kita ke sini, Kyuhyun?” Tanya donghae, kali ini ia sangat penasaran.

“Aku akan menyewanya.” Jawabku singkat sambil membuka pintu depan yang ternyata tidak terkunci.

Donghae mengikutiku masuk ke rumah, kami sama-sama terdiam.Ruangan itu cukup besar dan berwarna dark red, beberapa meter dari ruangan ini, terdapat dinding yang hampir seluruhnya terbuat dari kaca.

“Kedengarannya menarik.” Gumamku.

“Wow, Kyu. apa kau akan menyewa untuk perayaan tahun baru?”

“Iya, tapi setelah urusanku selesai dulu baru kita akan merayakannya di sini.” Ucapku sambil mengelilingi penjuru ruangan.

“Urusan?” ia menatapku dengan tatapan penasaran.

“Well, aku tidak ingin merayakan tahun baru tanpa seorang kekasih.”

Donghae mengernyitkan kening berusaha mencerna kata-kataku. “Maksudmu, kau ingin melakukan sesuatu untuk menarik perhatian wanita yang kau incar?” ia menambahkan. “Jadi sekarang kau sudah mempunyai wanita?” lanjutnya.

“Belum, aku lagi berusaha untuk mendapatkannya, Hyung.” Ucapku dengan yakin.

“Oh, baiklah.” jawabnya singkat. “Apa aku boleh mengundang beberapa teman saat perayaan pergantian tahun besok?” nadanya memohon. Aku hanya mengangguk pelan.

“Aku butuh beberapa dekorasi.” Ucapku pada diriku sendiri.

Donghae mendengarkan perkataanku barusan dan menjawab, “Masalah dekorasi serahkan padaku, Kyu. wanitamu pasti menyukainya.” Ucapnya dengan semangat 45. Memang Donghae sangat ahli bila berhubungan dengan kata Dekorasi.

“Baiklah, Hyung. Terima kasih kau mau membantuku.” Aku tersenyum

“Nee, lagipula ini demi masa depanmu.” Donghae sedikit terkekeh.

“Maksud masa depan?” kali ini aku benar-benar tidak bisa mencerna kata-katanya.

“Ya! Apa kau akan hidup tanpa pasangan hidup?” Tanya Donghae dengan logat seperti orang tua yang menceramahi anaknya. Aku menggeleng cepat.

“Kalau begitu aku akan mengurus yang lainnya.” Aku menepuk pelan bahu Donghae.

Kyuhyun POV end

***

Sooyoung POV

“Apa itu kau, Sooyoung? kau sudah pulang?” Tanya seseorang saat mendengar pintu depan apartemen terbuka.

“Ya! Ini aku Sooyoung.” jawabku sambil menaruh keranjang dan mulai memindahkan pakaian ke dalam lemari.

“Sooyoung, setelah kau selesai dengan pekerjaanmu segeralah ke dapur dan sarapan bersamaku.” Ucap seorang wanita yang tengah sibuk memasak.

“Baiklah, Jess.” Jawabku singkat pada wanita itu yang bernama Jessica, lebih tepatnya Jessica Jung. Kami sudah berteman sejak kecil dan kini kami tinggal bersama.

“Jess, apa kau melihat kain milikku?” tanyaku padanya saat menyadari kain itu tidak ada pada tempatnya.

“Kain? Selendang warna ungu itu bukan?” tanyanya.

“Iya, kau tahu di mana selendang itu?” tanyaku lagi. Nadaku kali ini agak keras supaya Jessica bisa mendengar suaraku walaupun aku berada di lantai dua.

“Tidak. Bukannya tadi kau bawa saat hendak mencuci pakaianmu di tempat laundry?” ucapnya sambil meluncurkan sepotong Omelet ke piring putih.

Aku berusaha mengingat-ingat sesuatu dan mencerna kata-kata yang baru saja diucapkan oleh Jessica. “Oh,” gumamku pelan. Mungkin selendang itu tertinggal di tempat laundry tadi.

Aku bergegas turun ke dapur saat perutku sudah mulai tidak sabaran.

“Bagaimana? Selendang itu sudah ketemu?” tanyanya lagi saat mendapati diriku sudah duduk manis di meja makan. Aku hanya menggeleng cepat dan mulai menggayang omelet buatannya.

“Mungkin tertinggal di tempat laundry. Besok akan kucari.” Ucapku, aku menambahkan. “Omong-omong ini sangat enak.”

“Siapa dulu yang memasaknya.” Ucapnya memuji diri sendiri. aku hanya tersenyum melihat tingkahnya.

“Sooyoung, apa kau akan merayakan malam pergantian tahun tanpa seorang kekasih lagi?” ucapnya memecah keheningan yang sempat terjadi. Lagi-lagi aku hanya menggangguk.

“Sooyoung, apa aku perlu mencarikan seorang pria untukmu?” ucapnya.

Aku menggeleng cepat. “Aku tidak mau menyukai seorang pria karena keterpaksaan.” Ia hanya terdiam saat mendengar perkataanku barusan.

“Jess, kau tidak perlu mengkhawatirkan diriku. Aku hanya belum menemukan yang cocok untukku dan kau tahu kalau aku itu tidak secantik dirimu.” Ucapku berusaha menghiburnya.

Seketika tawanya meledak dan membuatku sedikit terkejut, “Cantik kau bilang? Kau itu cantik dan manis, Sooyoung. wajahmu saja tidak membosankan. Tidak sepertiku.”

Mendengar perkataannya aku sedikit menundukkan kepala saat aku merasakan wajahku seketika berubah menjadi merah padam.

“Oh, ya. Tadi aku bertemu dengan seorang pria.” Ucapku pelan menahan malu. Jujur saja, aku tidak pernah berbicara tentang seorang pria pada siapa pun.

“Sooyoung, apa yang terjadi pada dirimu?” tanyanya terkejut.

“Aku baik-baik saja.” Jawabku tak mengerti. Memang apa yang terjadi pada diriku? Tanyaku dalam hati.

“Well, kau tidak pernah membicarakan kepada siapa pun tentang… pria yang kau sukai.”

“Entahlah.” Kali ini aku tak bisa berkata apa-apa selain mengucapkan kata-kata itu dan menundukkan kepala.

“Apa kau menyukainya?” tanyanya lagi.

“Tidak, aku tidak mungkin menyukainya.” Aku tampak kikuk.

“Aish, kau tidak perlu mengelak lagi, kelihatan dari matamu.” Aku tidak menggubrisnya dan langsung meninggalkannya sendiri di dapur. “Kau mau kemana?” tanyanya dengan nada sedikit keras.

“Kamar.” Jawabku singkat.

‘Kenapa aku bisa sebodoh ini?’ tanyaku dalam hati saat melewati beberapa anak tangga. Aku menghentikan jalanku saat akan melewati anak tangga terakhir dan menghembuskan napas kesal dan kembali berjalan memasuki kamarku.

Aku menghempaskan tubuhku di atas ranjang yang empuk, sesekali aku memandang langit-langit kamarku yang berwarna light yellow. Sosok pria tadi sulit dienyahkan dari kepalaku. Entah mengapa dengan sosok pria yang masih terbayang di dalam pikiranku mampu membuat hatiku sedikit tenang. Aku tidak pernah merasakan hal ini sebelumnya.

“Apa dia juga menyukaiku?” pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulutku, seketika aku langsung membungkam mulutku dengan kedua telapak tanganku.

‘Tidak. Apa yang kau pikirkan, Sooyoung? dia tak mungkin menyukaiku. Toh, jika ia ternyata menyukaiku pasti hanya sebagai teman.’ Pikiranku seketika menjadi kacau. Aku berusaha tenang untuk menjernihkan kembali pikiranku tapi gagal total. Aku mengacak-acak rambutku dan memejamkan mata.

Aku terlalu lelah untuk tidak cepat-cepat pergi tidur. Tak butuh waktu lama aku sudah tertidur dan sosok pria tadi, aku berhasil mengenyahkannya dari kepalaku untuk sementara. Setidaknya itu sudah cukup bagiku.

***

Aku terbangun dari tidurku. Malas-malasan aku membuka mataku dan bangkit terduduk setelah sepenuhnya kembali ke dunia nyata. Sesekali aku menguap sambil mengusap-usapkan kedua telapak tanganku dengan lembut di mata.

Aku menyipitkan mata berusaha melihat jam dinding yang hanya beberapa langkah saja dari pintu kamarku dalam keadaan gelap gulita yang sekarang ini sedang berlangsung di kamar.

Pantas saja keadaan di luar kamar sangat sunyi senyap, ucapku dalam hati saat mengetahui jarum jam dinding tersebut masih menunjukkan pukul sembilan malam.

Aku bangkit dan merapikan rambutku, turun ke dapur saat perutku sudah berbunyi tak sabar.

“Kau sudah bangun, Sooyoung?” Tanya Jessica saat mendengar langkah kakiku yang sedikit mengeluarkan bunyi ketika menuruni beberapa anak tangga.

“Nee,” jawabku singkat.

“Apa kau lapar? Aku sudah menyiapkan makanan untukmu. Kau tidur lama sekali.” Ucapnya dengan pandangan fokus ke arah televisi di depannya.

Tidur selama dua belas jam membuat perutku begitu kelaparan. Tanpa berpikir lagi, aku langsung mengambil Kimchi – Jessica yang membuatnya – dan memakan habis kimchi itu.

“Sudah sering aku memberimu makanan.” Ucap Jessica di balik sofa ruang tengah. Aku hanya terkekeh mendengarnya.

“Bukannya kau sudah tahu kalau aku tidak bisa memasak.” Ucapku sambil mencuci piring di bak cuci piring.

“Sama sekali?” tanyanya.

“Kecuali memasak air.” Aku berjalan ke ruang tengah dan duduk di sebelahnya. “Kurasa, aku bakal terjaga sampai pagi.” Lanjutku.

“Siapa suruh kau tidur.” Ucapnya sambil tertawa terbahak-bahak. Aku hanya mendesah.

“Temani aku, ya.” Nadaku memohon sambil memasang tampang melasku.

“Tidak, kau ingin membuat aku menjadi insomnia?” ia menolak mentah-mentah ajakanku, mendengarnya aku mencemberuti layar televisi.

“Kau mau kemana?” tanyaku saat mendapati Jessica bangkit berdiri dari sofa dan mulai menaiki beberapa anak tangga.

“Kamar.” Jawabnya singkat. aku hanya mendesah kesal.

Benar ucapanku, aku terjaga dari tidur sampai esok pagi. Aku masih termenung di depan layar televisi walaupun hanya warna biru yang memenuhi layar televisi tersebut.

“Sooyoung, kau tidak tidur sampai pagi?” Tanya Jessica saat menuruni beberapa anak tangga dan menghampiriku. Aku hanya menggeleng lemas.

“Hari ini aku saja yang akan melaundry pakaian-pakaian kotor kita.” Ucapnya sambil masuk ke dapur dan mengaduk-aduk isi kulkas. Ia menghampiriku dan memberiku satu botol Yoghurt.

“Tidak, biar aku saja.” Aku menolak mentah-mentah dan menggeleng cepat. Ia hanya menatapku dengan tatapan tak mengerti.

“Aku ingin mencari selendangku.”

“Baiklah, kalau itu maumu.” Ia mendesah kesal dengan tatapannya yang berubah menjadi tatapan peduli. “Oh, aku ingin mengajakmu pergi ke toko buku nanti siang.” Lanjutnya.

“Kenapa kau mengajakku? Tidak biasanya, kemana Heechul?” aku meluncurkan bertubi-tubi pertanyaan. Tidak biasanya ia mengajakku pergi.

“Heechul?” ia berusaha mencerna kata-kataku, “Oh, Sooyoung, Heechul dan aku hanya sebatas kaka-adik, tidak lebih.” Ucapnya dengan yakin.

“Oh ya?”

“Ya, kalau selama ini kami berdua sangat dekat, itu karena aku butuh teman curhat.” Lanjutnya santai. Ekspresi wajahnya pun tenang bagaikan malaikat.

Aku hanya menggangguk pelan sambil memutar bola mataku dengan raut evilku.

“Sica, aku mau ke tempat laundry.” Ucapku sambil bangkit berdiri selama dua detik, lalu menghambur ke kamar.

Aku melemparkan tubuhku ke tempat tidur. Aku lelah – belum tidur sama sekali sejak aku terbangun dari tidurku tadi – tapi aku tahu aku tidak bakal bisa tidur. Isi kepalaku terlalu ruwet. Berbagai pikiran berkecamuk di benakku.

Aku separo terlonjak dari tempat tidur saat pikiranku mulai memikirkan sosok pria itu lagi. Aku berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhku yang sedikit berkeringat – akhir-akhir ini cuaca di Seoul sangat panas dan aku sudah tidak sabar untuk bertemu pria itu lagi.

Selesai membersihkan tubuh dan berpakaian, aku berjalan mengelilingi penjuru rumah untuk mengumpulkan pakaian-pakaian kotor. Selain membereskan rumah, aku juga ingin berlama-lama di sana.

“Sica, aku berangkat dulu.” Teriakku di ambang pintu depan apartemen.

“Baiklah.” ucapnya, ia tidak berteriak hanya nadanya saja yang agak keras.

Aku sedikit berlari menuju jalan raya – jarak antara bangunan apartemenku dan tempat laundry tidak terlalu jauh, jadi aku memutuskan untuk berjalan kaki saja. Langkah kakiku berhenti tepat di depan tempat laundry tersebut, aku menghirup udara banyak-banyak – menghilangkan gerogi yang saat ini sedang kualami dan membuka pintu depan.

Mataku jelalatan ke kanan, ke kiri, dan ke depan, berulang kali mencari sosok pria kemarin. Aku mendesah kesal saat mendapati dirinya tidak ada di sini.

Aku memberanikan langkah kakiku dan masuk ke ruangan tempat orang-orang mencuci pakaian mereka – ruangan ini penuh dengan mesin cuci yang berjejer rapi hingga membentuk jalan-jalan seperti koridor dengan semacam mesin yang terletak di pojok ruangan, jika tombol yang terdapat di mesin itu ditekan maka akan keluar sabun cair. (???)

Aku menaruh pakaian-pakaian kotorku ke dalam mesin cuci yang terletak di pojokan – ini tempat favoritku. Tak sengaja mataku tertuju pada selembar kertas yang tertempel di tembok tepat di hadapanku dan aku mulai membacanya.

Apa kau kehilangan sesuatu?

Kurasa sesuatu yang kau cari ada padaku…..

Jika kau menginginkannya, kau dapat mengikuti petunjuk yang kuberikan.

. Keluarlah dari tempat laundry ini dan berjalannya ke arah Utara .

*Cho Kyuhyun*

“Cho Kyuhyun?” aku mengerutkan kening, lalu aku tersenyum.

“Memangnya aku sepolos itu untuk kau bohongi, Cho Kyuhyun?” tanyaku – berbicara sendiri. aku tidak sebodoh yang kau kira, omelku pada diri sendiri.

Tanpa berpikir lagi, aku mengepalkan tangan membuat kertas itu menjadi buntalan tak berarti, lalu melemparkannya ke dalam tempat sampah yang hanya beberapa langkah dari mesin cuci yang saat ini kugunakan.

Dengan cepat aku menaruh pakaianku ke dalam keranjang yang sudah tercuci bersih dan tentu saja sudah dikeringkan dan bergegas pulang. pikiranku kali ini sangat kacau dan ruwet, seperti segerombolan lebah. Berisik dan sesekali mereka menyengat.

Aku mempercepat jalanku menuju apartemenku. Kami bisa pergi malam ini untuk menghilangkan isi kepalaku yang ruwet, walaupun hanya ke toko buku.

“Sica! Aku pulang.” teriakku sambil menutup pintu depan dan menguncinya. Tak ada jawaban.

Apa ia meninggalkanku? Apa aku terlalu lama melaundry pakaian, membuatnya menunggu lama dan ia memutuskan untuk meninggalkanku sendiri? bertubi-tubi pertanyaan memenuhi kepalaku yang semakin ruwet saja.

Aku langsung menghambur ke kamarnya untuk memastikan. Ia tidak ada di dalam kamarnya saat aku memasuki kamarnya yang begitu rapi.

Kudengar Handphoneku berdering beberapa menit kemudian.

“Halo?” Tanya seseorang di seberang. Suaranya waswas, seperti mengharapkan perminta maafan dariku. “Sooyoung, ini aku, Sica!”

“Ada apa?” jawabku datar.

“Sooyoung, maafkan aku. Aku tidak memberitahukanmu terlebih dahulu.”

“Seharusnya kau mengirimku pesan singkat.” aku agak kesal.

“Sooyoung…” suaranya berubah drastic.

“Lupakan, Jess.” Jawabku. “Mungkin kau ada urusan mendadak yang tidak ada hubungannya denganku.”

“Akan aku ceritakan nanti.” Ucap Jessica sebelum akhirnya ia memutuskan hubungan. Aku hanya bisa menghembuskan napas kesal.

***

ToBeContinued

*lagi-lagi author minta maaf karnaa SB belum bisa di post karna belum jadi-jadi ! sebagai gantinya aku sengaja ngepost ff ini.

Cerita ini udah lama di buat *mungkin sudah bertahun-tahun dan author lagi inget sama cerita ini dan berniat ngepost di blog ini. dan ini asli hasil pemikiranku sendiri -,-“. Sebelum ngepost, ff ini sempet di edit jadi KyuYoung Ver. Dan mungkin hasilnya tidak terduga (Hancur). Dan masalah titlenyaa ….. itu lagunya JB (dan kayaknya judulnya sama ceritanya enggak ada hubungannya, tapi…. Tauk ah)

Dan setidaknya, sehancur-hancurnya cerita ini dan segarink-garinknya, kalian mau memberi sedekah sedikit *comment.

Dan kalian bisa request buat lanjutannya (Someone Like you – part 1) ^o^ *bilang aja author lagi ngadat otaknya -,-“*

Iklan

17 thoughts on “[Part 1] Someone Like You

    • Aiyo ! makasih commentnya Chingu !
      author ga bisa ngasih tau cara ngedeketinnya disini because… ntar part selanjutnya jdi enggak seru 😀
      *kayak part selanjutnya seru aja*
      baiklah… ditunggu lanjutannyaaaa

  1. Annyeong annyeong
    Mianhamida… q lpa ma blog ini, tw2 udh da FF2 bru 😦
    berhubung q ngantuk, komen pndk gpp?? =.=
    prologx pnjng, hrsx d jdi’n part 1 aja. i’m curious, update soon 🙂

    sekian gomawo

  2. cie kyuyoung sama2 ada hati nih aturan jdul’a laundry love secara kejadian’a di tmpt laundry hehe…jgn2 jes itu pacar’a donghae ntar mereka yg jodohin kyuyoung ya..lanjutan’a jgn lama2 ya chingu..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s