[OneShot] We Will You Be My Princess?

Title : We Will You Be My Princess?

(Fanfiction special valentine’s day)

Main Cast : Cho Kyuhyun, Choi Sooyoung, Kwon Ji Yong, Sandara Park, and Others.

Length : Oneshoot

Genre : Romance, Humor*maybe , Happy

Rating : G

***

“Kau sudah mengambilnya? Sini biar kulihat.”

“Itu kuhargai selusin cupcake.” Jawab seseorang dari halaman rumah. “Selusin cupcake? Ya! Itu terlalu berlebihan.” Tukas seseorang tak mau kalah.

“Aku mengambil foto ini untukmu. Aku juga harus melarikan diri dari anjingnya.” Tak tahan mendengar keributan di halaman rumah, Sandara yang kebetulan sedang berkumpul bersama tiga sahabatnya bangkit berdiri dari kursi dan berjalan menghampiri adiknya, Sulli yang sedang berseteru dengan temannya.

“Bagaimana kalau ini seharga lima buah cupcakes?” rengek Sulli.

“Tidak bisa.” Jawab temannya dengan singkat. “Kau menawar terlalu banyak. Kembalikan kalau begitu.” Sambungnya sambil berusaha merebut kembali foto itu dari genggaman Sulli.

“Tidak, Tidak akan kuberikan…. Kau sudah memberikannya padakuuuu…” ucap Sulli.

Ternyata Sandara yang sembari tadi hanya melihat tingkah laku adiknya dari sebuah jendela yang tidak begitu besar itu membuatnya penasaran dan merebut foto itu dari genggaman Sulli.

“Uiih, tampan sekali.” Ucap Sandara sambil memperlihatkan foto tersebut kepada tiga sahabatnya – Minzy, Victoria, dan Jessica. “Pacar Sulli?” tanya Sandara sambil melirik sinis kepada adiknya, Sulli.

“Bukan, dia pacar Wooyoung.” (Author numpang eksis yahh J à abaikan ini! it’s female!) Ucap Sulli sambil menunjukkan telunjuknya ke arah temannya yang tadi sempat berseteru dengan Sulli.

“Aku hanya mengambil fotonya. Aku tidak mungkin menyukainya bahkan mempunyai pacar.” Bela Wooyoung (Sebenarnya sih enggak ^o^ itu hanya fiksi 100 %). Mendengar jawaban dari Wooyoung, Sulli menatap Wooyoung dengan sinis dan kembali menatap Sandara dengan tatapan memohon.

“Kakak, jangan beritahu Eomma, ya.” Ucap Sulli dengan nada memohon.

“Eomma! Sulli! Dia….” Teriak Sandara menggantungkan kalimatnya. Ia sengaja tidak melanjutkan kata-katanya.

“Jangan, Kak. Kumohon.” Ucap Sulli yang tanpa disadari matanya mulai berkaca-kaca.

“Umm… apa kau sudah selesai masak? Sulli lapar.” Teriak Sandara sambil tersenyum sinis dan mengipas-ipaskan foto itu ke arah wajahnya. Plak. Sandara memukulkan puncak kepala Sulli dengan foto itu.

“Tunggu sebentar.” Jawab Eomma dari ruang dapur.

“Jangan terlalu cepat dewasa.” Bisik Sandara pada Sulli sambil memberikan kembali foto tersebut pada Sulli. “Kau juga.” Jawab Sulli seketika sambil menjulurkan lidahnya dan menghambur bersama temannya entah kemana. Melihat tingkah Sulli, Minzy, Victoria, dan Jessica hanya bisa tertawa sambil menggelengkan kepala.

“Ini makanan pencuci mulut.” Ucap Eomma sambil memberikan pudding vanilla kepada Sandara, Minzy, Victoria, dan Jessica. “Terima Kasih,” ucap mereka serempak.

Sandara POV

“Ini bisa membantu pencernaanmu,” lanjut Eomma setelah menaruh makanan itu di atas meja sebelum akhirnya Eomma kembali ke dalam dapur.

“Dara, apa kau akan menjalankan hari Valentine besok tanpa seseorang pria lagi?” tanya Jessica sedikit berbisik. Aku hanya menggeleng tidak tahu.

“Apa kau tidak bosan setiap tahun selalu saja merayakan hari valentine sendirian?” tanya Victoria, ia mulai memakan pudding tersebut.

“Sendirian?” tanyaku penasaran.

“Maksudku, kau selalu saja merayakan hari valentine bersama kami. Tidak pernah merayakannya bersama, kekasihmu.”

“Dia tak punya pilihan. Dengan tampang seperti itu, tak ada yang mau menjadi kekasihnya.” Ucap Sulli menyela tiba-tiba. Perkataannya membuat keempat orang tersebut menoleh tidak percaya kepada Sulli.

“Hey, kau tidak boleh berbicara seperti itu. Itu bukan karena tampang saja.” Tegur Minzy sedikit terkekeh.

“Tapi itu hal pertama yang harusnya dipertimbangkan. Aku beruntung karena aku mirip dengan Eomma. Jika aku terlihat seperti Kakak atau appa aku pasti tidak akan dapat pacar nantinya.” Ucap Sulli dengan genit.

Tidak terima atas perkataannya barusan, aku berusaha untuk menarik rambutnya. Tapi, Sulli begitu lincah untuk menghindar dari seranganku.

“Hey, hentikan. Kalian sudah besar tapi masih saja suka bertengkar! Sulli, jangan bicarakan Appa seperti itu. Jika Appa mengetahuinya, ia pasti sangat sedih.” Ucap Eomma yang ternyata mendengarkan perkataan Sulli barusan. Mendengar Eomma berbicara seperti itu, aku mengangguk setuju sambil menjulurkan lidahku ke arah Sulli.

“Dara, apa kau dan teman-temanmu jadi keluar?” tanya Eomma tiba-tiba. “Iya, Eomma. Kami akan pergi sebentar lagi.” Ucapku. “Sebaiknya kau pergi sekarang. Cuaca terlihat tidak mendukung.” Lanjut Eomma.

“Baiklah kalau begitu, kami permisi dulu.” Ucap Minzy dan Jessica sambil bangkit berdiri dan meninggalkan Eomma dan Sulli yang masih berada di ruang keluarga.

“Ayah sedang bekerja, mana mungkin ia tahu.” Ucap Sulli kesal sambil menundukkan kepala. Mendengarnya, Eomma hanya bisa menggelengkan kepala.

***

Kami berjalan menyusuri trotoar.

“Ya! Dara kita mau kemana?” tanya Minzy mengalihkan perhatian kami untuk menggodanya. “entahlah,” ucapku singkat. “Ya! Apa kau tidak bosan untuk menggodaku, ha?” ucap Minzy seketika.

“Ya, Minzy. Kau jangan cemberut seperti itu! kami-kan hanya bercanda,” ucap Victoria saat melihat wajah Minzy yang mulai cemberut. “Betul,” ucap Jessica setuju.

“Dara! Kenapa kau melamun?” suara Minzy begitu mengagetkanku. Sebenarnya aku sedang tidak melamun, pandanganku saat ini beralih ke arah seorang pria yang sedang berhenti mengendarai motornya karena lampu lalu lintas sedang berubah menjadi warna merah.

“Hei, cepatlah.” Ucapku seketika sambil berlari memasuki sebuah toko roti. Toko tersebut mempunyai ruangan yang bisa disebut perpustakaan kecil dan di ruangan itu terdapat jendela yang tidak begitu besar  yang mengarah ke jalanan.

Sementara Minzy, Victoria, dan Jessica memesan makanan, aku tanpa berpikir lagi langsung masuk ke dalam ruangan itu dan langsung duduk manis di depan jendela sambil menatap seorang pria yang tadi sempat mengalihkan pandanganku di jalan. Ia begitu manis dan umm… tampan. Aku terus menatapnya dan tak jarang aku tersenyum sendiri saat melihatnya – itu karena saat ini sedang berkhayal tidak wajar.

“Ayy, aku mengerti , kenapa kau selalu mengajak kami mengunjungi toko ini setiap hari, karena dia.” Ucap Victoria sambil meletakkan makanan yang ia pesan di atas meja. Aku tersadar dari lamunanku.

“Apa maksudmu? Itu bukan karena dia… tapi makanan di sini… sangat enak.” Ucapku santai. Minzy, Victoria dan Jessica langsung menatapku dengan tatapan tidak percaya.

“Aish, kau jangan membohongi kami!” gerutu Jessica. “Ayo,” gumam Minzy kepada Victoria dan Jessica.

“Hey! Kakak kelas! Lihat dia! Dia sangat cantik.” teriak Minzy, Jessica serempak sementara Victoria sibuk memainkan wajahku. Kurasa ia tak mendengarkan perkataan Minzy dan Jessica barusan, aku mendesah lega. “Lihat wajahmu memerah, hahaha.” Goda Jessica, “Lihat! Lihat!”

Dia benar-benar tidak mendengar perkataan Minzy dan Jessica yang sangat memalukan dan itu bisa dibuktikan dengan melihat ia sama sekali tidak menoleh ke arah kami dan pergi begitu saja saat lampu berubah menjadi hijau. “Dia sangat tampan, pantas saja kau tergila-gila padanya.”

“Apa kau sudah gila, Minzy? Tidak kok!” belaku. Mereka hanya tertawa mendengarnya.

***

“Kenapa setiap pelajaran Bahasa Inggris, kalian terlihat muram huh?” ucap Mrs. Lee. “Bergembiralah seperti saat kalian berada di jam istirahat.” Sambungnya sambil membagikan beberapa kertas yang berisi pelajaran bahasa inggris ke semua murid.

“Wuih,” ucapku senang saat menerima kertas tersebut. “Jangan bangga pada diri sendiri, Sandara Park.” Ucap Mrs. Lee saat aku melihat wajahnya dengan tatapan senang.

“Kau hanya pintar dalam pelajaran Bahasa Inggris. Tapi dipelajaran lain… SO BAD.” Ucap Mrs. Lee membuatku tampak kikuk dan merengut kesal.

“Baiklah, kali ini kita akan mempelajari kosa kata baru dan tata bahasa.” Ucap Mrs. Lee sambil berjalan kembali ke depan “dari lirik lagu”. Ternyata, kertas tersebut hanya berupa beberapa lirik lagu bertema cinta. Sungguh memuakkan.

“Anak-anak. Dari kata ‘Inspiration’ huruf A diubah menjadi E, maka menjadi ‘Inspire’.” Ucap Mrs. Lee menerangkan. “You know? You know?” sambung Mrs. Lee. “Yes,” ucap murid-murid serempak.

Mrs. Lee melihat Minzy dan Victoria sedang berbicara sendiri tanpa memperhatikannya. “Ya! Kau Minzy, apa yang sedang kau bicarakan?” ucap Mrs. Lee geram. “Eh!! Hehehe.” Minzy dan Victoria tampak kikuk.

“Minzy, berdiri! You’re the inspiration. Apa artinya?” tanya Mrs. Lee. Tatapannya begitu mengerikan. Minzy tampak bingung karena dia tidak bisa dalam pelajaran Bahasa Inggris. Ia menoleh ke arahku meminta bantuan. “Artinya!!?” ucap Mrs. Lee tak sabaran.

Aku menuliskan artinya di atas kertas dan memperlihatkan pada Minzy. Minzy membacanya, “Ohh, artinya kau adalah inspirasiku.” Ucap Minzy kepada Mrs. Lee.

“Benar, kau adalah inspirasiku.” Ucap Mrs. Lee sambil memandang ke luar kelas. Saat itu juga, Mr. Kim kebetulan sedang lewat depan kelasku. Mr. Kim menatap Mrs. Lee dan tersenyum kepada Mrs. Lee. Mrs. Lee dengan cepat langsung berkicau tidak jelas.

“Kau adalah inspirasiku…. Benar. Itu adalah hal yang harus kita punya… bahkan aku juga… aku cinta..” Mrs. Lee menghentikan kata-katanya saat melihat murid-muridnya menatapnya. “Sit Down, Minzy.” Ucap Mrs. Lee.

Teng..Teng..Teng…

Bel jam istirahat pertama sudah berbunyi dan Mrs. Lee menyudahi pelajarannya. Seperti biasa, aku, Minzy, Victoria, dan Jessica bersantai di bangku taman sekolah.

“Ya! Namanya Kwon Ji Yong, teman-temannya selalu memanggil Ji Yong. Dia murid baru di kelas 11.” Ucap Victoria sambil menyeruput habis minuman yang ia beli di kantin tadi.

“Apa itu benar?” tanyaku semangat. Victoria hanya menjawabnya dengan anggukan.

“Lihat! Dia begitu terkenal.” Tunjuk Jessica ke arah seberang lapangan. Memang, ia begitu terkenal di sekolahku. Tidak sedikit wanita yang menyukainya. Ia begitu ahli dalam bidang olahraga terutama olahraga basket.

“Ya! Ternyata kalian di sini!! aku sudah mencari kalian dari tadi.” Ucap Mrs.Lee mengagetkan kami berempat. “Lihat aku,” sambungnya.

“Temui aku di ruang guru besok. Ok?” ucap Mrs.Lee padaku, Minzy, Victoria, dan Jessica sebelum akhirnya Mrs. Lee bergegas untuk meninggalkan kami. “Bu Guru,” tanya minzy, ia tampak bingung. Tak seperti biasanya Mrs. Lee membutuhkan kami.

“Jangan bilang-bilang. Ini tawaran terbatas. Mengerti?” ucap Mrs.Lee dan pergi meninggalkan kami yang masih dibuatnya bingung.

“Eh, ngomong-ngomong. Ji Yong itu mempunyai masa lalu yang cukup buruk.” Ucap Victoria memecahkan keheningan yang sempat terjadi. “Itu tidak benar, kan?” Tanyaku tak percaya.

“Entahlah, aku juga tidak mempercayainya,” ucap Victoria sambil menaikkan sedikit bahunya dan menggelengkan kepala.

“Eh, aku ingin mengajak kalian mampir ke rumahku untuk mengerjakan tugas sekolah bersama-sama. Apa kalian mau?” ucapku. Hampir setiap malam kami selalu mengerjakan tugas sekolah di rumahku. Kadang-kadang kami juga mengerjakan tugas sekolah di rumah Minzy.

“Baiklah, Dara. Aku juga ingin menunjukkan sesuatu padamu.” Ucap Jessica sambil bangkit berdiri dari bangkunya. “Apa?”, “Sudah, nanti malam saja.” Ucap Jessica. Ia menarik lenganku dan menyeretku kembali ke dalam kelas karena bel sudah berbunyi.

***

@Pulang sekolah – lapangan parkir

“Tunggu! Aku mempunyai ide yang sangat cemerlang.” Ucap Minzy tiba-tiba, mau tidak mau kami harus menghentikan langkah kami karena ulah Minzy, yang seenaknya saja berhenti berjalan.

Minzy menarik tangan Jessica untuk mendekat dan Minzy membisikkan sesuatu di telinga Jessica. Jessica kemudian tersenyum sambil menyelentikkan tangannya. “Ya! Ia pasti pernah memimpikannya,” lanjut Jessica, sesekali ia menoleh dengan tatapan evilnya ke arahku.

Aku mencolek-colek lengan Jessica penasaran. “Ada apa sih, Jess?” tanyaku penasaran. Jessica menoleh dan berbisik di telingaku. “Kau harus pulang bersama Ji Yong Oppa.”

“Maksudnya?” tanyaku semakin bingung. Apa yang dimaksud oleh Jessica dan Minzy adalah Ji Yong harus mengantarku pulang ke rumah?

“YA! Kau ini… tak perlu kujelaskan kau juga pasti sudah mengerti!” ucap Minzy dan Jessica serempak. “Tapi… bagaimana caranya?” tanya Jessica tiba-tiba. Perkataannya barusan membuat harapanku seketika menjadi pupus.

“Kita bilang saja pada Ji Yong Oppa kalau motorku sedang rusak.” Usul Victoria, kurasa ia mendengarkan apa yang tadi dibisikkan oleh Jessica. “Aish, itu tidak mungkin! Saat dia akan mencoba nyalakan mesinnya… dia akan tahu.” Gumam Minzy.

“Eh! Itu Ji Yong Oppa.” Teriak Jessica. “Dia ada di sana!”

“Mana? Mana?” tanyaku sambil memandang ke segala arah. Ji Yong berjalan ke arah motor hitam yang diparkir di tempat parkiran yang memang sudah disediakan oleh sekolah. “Dara, kau harus menghampirinya selagi ada kesempatan!” ucap Victoria sambil mendorong tubuhku maju beberapa langkah.

“Tapi, motornya kan sedang tidak rusak!” gumamku sedikit panic. “Ya kalau begitu. Victoria berikan kuncinya padaku.” Ucap Jessica.

“Ini,” ucap Victoria sambil menyerahkan kunci motornya kepada Jessica. “Lalu, akan kau apakan kunci itu?” tanyaku penasaran. “Aku akan menghilangkannya.” Ucap Jessica santai.

“Caranya?” tanya Minzy. Tanpa berpikir panjang lagi, Jessica dengan santainya membuang kunci tersebut entah kemana. “Aish!” teriakku, Minzy, dan Victoria serempak. “Bagaimana? Sudah hilangkan?”

“Ya! Kau ini terlalu pintar, Sica.” Gerutuku kesal. Bagaimana jika ini tidak berhasil dan kunci tersebut sudah terlanjur hilang? Aku hanya bisa mendesah kesal.

“Sudah cepatlah susul dia.” Tukas Jessica sambil mendorong tubuhku. Aku memberanikan langkahku untuk menghampirinya. Apa yang harus kulakukan setelah itu? aku harus merengek? Berpura-pura sedih? Ya! Itu tidak mungkin. Aku sama sekali tidak pandai berakting.

Aku menghentikan langkahku saat mendapati Choi Sooyoung, gadis yang menurutku lumayan manis itu berjalan menghampiri Ji Yong. Apa yang akan dia lakukan? Pikirku. “Seperti dugaanku,” ucapku dengan sinis saat melihat Choi Sooyoung yang sedang berjalan menghampiri Ji Yong itu tiba-tiba ia terjatuh karena kakinya terkilir.

Melihat Choi Sooyoung yang terjatuh, Ji Yong tidak tinggal diam. Ia turun dari motor. “Oih, ada apa dengan kakimu?” tanya Ji Yong kepada Choi Sooyoung sambil membantunya berdiri. “Mungkin kakiku terkilir,” jawab Choi Sooyoung. “Ayo. Kuantar kau pulang.” Ji Yong menawarkan diri sambil menuntun Choi Sooyoung ke motornya dan menderu pergi.

Aish, apa dia lulusan dari sekolah drama? Kenapa Ji Yong terlalu memercayainya? Oppa, kau memang sangat polos terhadap wanita.

“Apa kau baik-baik saja?” tanya seseorang yang entah kapan sudah berada di sampingku. “Eh, oh aku tidak apa-apa.” ucapku kepada seorang pria yang bernama Cho Kyuhyun. Aku mengetahui namanya dari bet nama  yang tertempel pada seragamnya

“Oh, apa kau mau kuantar pulang?” Cho Kyuhyun menawarkan diri. Aku menggelengkan kepala dengan cepat, “Tidak, aku tidak mau merepotkanmu.” Tolakku. “Tidak apa-apa.” ucap Cho Kyuhyun sambil mengambil tas milikku dan menaruhnya di dasbor motornya. Aku tidak bisa berbuat apa-apa dan aku tidak mungkin akan menolaknya karena aku tersadar kalau kunci motor Victoria belum ditemukan. “Baiklah,” ucapku sambil naik ke atas motornya. Ia memberikan helmnya kepadaku sebelum pergi.

***

“Apa rencanaku berhasil?” bisik Minzy, ia memelankan suaranya karena takut Mrs. Lee akan menghukumnya kembali.

“Berhasil apanya!” gerutuku kesal mengingat kejadian kemarin. “Maksudmu? Tidak berhasil begitu? Aish, percuma saja pengorbananku kemarin.” Decak Minzy, suaranya kali ini tidak lagi pelan.

“Lalu, siapa yang mengantarkanmu pulang kemarin?” tanya Minzy penasaran. “Cho Kyuhyun.” Ucapku singkat.

“Cho Kyuhyun?” tanya Victoria dan Jessica bebarengan, rupanya mereka mendengarkan pembicaraanku dengan Minzy. “Bagaimana ini?” rengekku pada ketiga sahabatku. “Memangnya ada apa?” tanya Jessica penasaran. Mau tak mau aku harus menjelaskan kejadian kemarin pada mereka.

Flashback POV

Selama perjalanan kami sama-sama terdiam seperti tidak terjadi apa-apa pada kami. Tidak mungkin jika aku tiba-tiba mengajaknya berbicara seperti kami sudah kenal saja.

“Umm, Sandara…” gumam Kyuhyun pelan sementara ia sedang mengendarai motornya. Dan, bagaimana ia bisa tahu namaku? Aku saja baru tahu jika di sekolahku ada yang bernama Cho Kyuhyun. “Ya?”

“Dari semua gadis yang kusukai bahkan kupacari..” Kyuhyun tidak melanjutkan kata-katanya. “Ada apa? kenapa kau menceritakannya padaku?”

“Hanya satu oranglah yang paling menyakitkan untuk direlakan. Aku sudah lama ingin mengungkapkan perasaanku padanya tapi, entah mengapa hal itu begitu sulit.” Mendengar penjelasan yang keluar dari mulutnya barusan membuat hatiku sedikit miris. Aku merasa bersalah telah berbicara seperti tadi. Yang bisa kulakukan sekarang hanyalah menundukkan kepalaku.

“Aku hanya bisa mengawasinya dari jauh. Hanya itu yang bisa kulakukan hingga saat ini. walaupun banyak wanita yang lebih cantik darinya, posisinya saat ini tidak bisa tergeserkan.” Sambungnya, suaranya terdengar parau. Cih, disaat seperti ini saja ia masih bisa merendahkan orang yang ia suka.

“Siapa dia?”

“Oh ya. Aku Cho Kyuhyun, sudah tiga minggu aku berada di sini dan… kau pasti mengenal Kwon Ji Yong? Ia sahabatku dan kami sudah saling kenal saat kami masih balita.” Ia tak menggubris pertanyaanku barusan jadi, dengan terpaksa aku harus menelan kembali pertanyaan yang ingin kutanyakan padanya.

Belum sempat aku berbicara, ia berkata. “Kita sudah sampai. Apakah itu rumahmu?” tanyanya. “I-iya, itu rumahku. Umm,… jika kau ingin mampir tak perlu sungkan-sungkan.” Ucapku menawarkan sambil tersenyum.

“Aku akan mampir jika kau sedang mempunyai cadangan daging yang banyak di dalam kulkasmu.” Perkataannya barusan membuat mulutku yang entah kapan sudah menganga tidak percaya. Daging?

“Aish, kau pasti bercanda.” Ucapku terkekeh. “Ne,” jawabnya singkat. Aku baru menyadari kalau raut wajahnya kali ini sedikit membuatku merinding.

“Baiklah, kalau begitu. Sampai bertemu besok, Cho Kyuhyun.” Ucapku sambil membungkukkan badanku sebelum akhirnya aku membalikkan badan dan bergegas pergi.

“Ya! Sandara Park..” ucap Kyuhyun memanggil namaku, aku menghentikan langkahku dan membalikkan badan ke arahnya. “Ada apa?” tanyaku.

“Umm.. Do you wanna be my girlfriend?”

“Oh, t-tapi bukankah k-kau…”

“Ya! Gadis yang kumaksud tadi adalah kau, Sandara Park. Apa jawabanmu?”  aku hanya bisa terdiam.

“Jika tidak dijawab sekarang, tolong dipikirkan sekali lagi.” Ucapnya. Mungkin itu merupakan ucapan permisi karena setelah ia mengucapkannya, ia langsung pergi dari hadapanku.

Flashback POV end

“Hah? Cho Kyuhyun?” teriak Minzy, Victoria, dan Jessica serempak. “Ya! Kalian berempat silahkan keluar dari kelas ini!!” ucap Mrs. Lee geram.

“Ya! Ada apa dengan kalian, ha?” bisikku kesal pada Minzy. “Bagaimana bisa?” bisik Victoria tak percaya. Aku tidak menggubris perkataan Victoria karena tatapan mematikan Mrs. Lee sekarang tertuju padaku. Aku hanya bisa meringis tidak jelas. “Tunggu apa lagi? Silahkan keluar dan jangan ikut pelajaran bahasa inggris.”

Teng…teng..teng..

“Ya! Beruntunglah kalian! Dan.. jangan lupa untuk menemui saya di ruang guru.” Ucap Mrs. Lee sambil membereskan buku miliknya di atas meja dan pergi meninggalkan kami. “Celaka! Kita pasti akan mendapatkan point.” Gumam Jessica.

“Bagaimana denganmu? Kau jawab apa?” tanya Minzy memecah keheningan. Ternyata ia masih saja merasa penasaran. “Tidak kujawab.” Jawabku singkat sambil berjalan di koridor menuju ruang guru. “Apa yang harus kulakukan, Minzy.” Rengekku.

“Kyuhyun adalah teman baik Ji Yong, jika kau melakukan hal yang gegabah Ji Yong pasti akan marah padamu. Lagi pula ini adalah kesempatanmu untuk mendekatinya dengan menjadi pacar Cho Kyuhyun. Jadi bersabarlah.” Usul Victoria. Kurasa usulnya kali ini ada benarnya, jadi tak ada salahnya jika harus bersabar.

“Ngomong-ngomong, kenapa kemarin malam kau tidak datang ke rumahku?” tanyaku. “Mian, kemarin aku mendadak sakit perut.” Ucap Jessica sedikit meringis.

“Mrs. Lee..” ucapku sesampainya di ruang guru dan menghadap ke meja Mrs. Lee. “Oh, kalian terlambat.” Ucapnya dengan tatapan yang tidak mengenakan. “Kalian tidak jadi kupilih.” Sambung Mrs. Lee.

“Baguslah,” ucap kami senang saat mendengar perkataan dan bergegas pergi dari sini. “Eh, tunggu, tunggu.” Ucap Mrs. Lee menghentikan langkah kami. “Aku hanya bercanda,” lanjutnya.

“Mrs. Lee, kami.. ingin bilang bahwa…” aku merasa tidak enak pada Mrs. Lee jika aku harus mengucapkannya. Sebenarnya kami keberatan jika diharuskan untuk mengikuti kegiatan-kegiatan sekolah.

“kalian adalah murid yang kucari selama ini. kalian begitu sempurna dan pintar.” Puji Mrs. Lee. Ia sangat aneh kali ini dan sangat aneh jika ia memuji kami sebagai murid pintar karena itu jauh terbalik dari fakta. “Mrs. Lee apa yang kau katakan?” tanya Minzy. “Ya, apa Mrs. Lee membutuhkan sesuatu?” tanya Jessica. Sementara Victoria saat ini sedang bersusah payah menahan tawa.

“Umm… Aku…” Mrs. Lee menggantungkan kata-katanya. “Aku ingin tahun ini kalian menjadi anggota perpustakaan karena menurutku hanya kalian yang cocok.” Sambungnya.

“Ha?!?”

“Aku tidak butuh ‘Ha?!?’. Aku hanya butuh kalian.” Tukas Mrs. Lee. “Bagaimana bisa kami yang terpilih?” tanya Jessica. “Umm… aku hanya merasa kalian saja yang cocok. Tugas kalian hanya menjaga perpustakaan saja.”

“Tapi, Mrs. Lee…” ucapku.

“Kumohon, kalian pasti bisa!” pinta Mrs. Lee. “Baiklah, kami akan mencobanya.”

***

@Pulang sekolah.

“Dara, bagaimana jawabannya? Apa kau sudah memikirkannya?” ucap Kyuhyun tak sabaran. “Umm… aku tidak yakin dengan apa yang ada dibenakku saat ini.” ucapku ragu-ragu. “Mungkin jawaban itu tidak seperti yang kau bayangkan.” Sambungku.

“Aku tidak mengerti.”

“…”

“Apa kau mencoba untuk melucu?” tanyanya sedikit terkekeh. Aneh. Disaat seperti ini bisa-bisanya ia tertawa, apa itu lucu?

“Kau ini! Hfft, tidak salahnya jika mencoba, bukan?” kataku pelan. Bisa kupastikan wajahku memerah saat mengucapkannya.

“Apa itu berarti kau….” Kyuhyun tidak melanjutkan kata-katanya tapi aku sudah mengetahui maksudnya. Aku mengangguk pelan.

“Ya! Akan kuantar kau pulang ke rumah.” Ia menawarkan diri.

“Maaf, aku tidak bisa. Aku sudah ada janji dengan Jessica, Minzy, dan Victoria.” Ucapku sedikit tidak enak. Belum ada semenit dia menjadi namjachinguku, aku sudah berusaha untuk menghindarinya.

“Oh, baiklah. Sampai ketemu besok.” Ucap Kyuhyun sambil melambaikan tangannya.

***

Selamat tinggal kelas 8 selamat datang kelas 9 ^o^!!

@Perpustakaan sekolah

Sudah seminggu aku, Jessica, Minzy, dan Victoria menjadi anggota perpustakaan….

Dan selama itulah

Ia selalu berada di sini.. meminjam buku tapi ia tak pernah membacanya..

Tatapannya selalu fokus menatap jendela…

Entah apa yang sedang ia lihat…. Ia tak pernah mengalihkan pandangannya dari jendela…

Ingin sekali aku menghampirinya tapi, aku tak bisa….

Tatapannya begitu berbeda….

***

“Ya! Kenapa kau terlihat murung? Kau seharusnya bersyukur karena seseorang yang selalu kau puja itu hampir setiap hari mengunjungi perpustakaan.” Ucap Jessica sambil menepuk pelan bahuku sementara ia sedang sibuk merapikan rak-rak buku.

“Siapa?” tanyaku setengah sadar. “Kwon Ji Yong,” jawabnya singkat.

Sebenarnya aku sudah tahu kalau Ji Yong-lah yang selalu berkunjung ke sini dan ia pasti akan meminjam buku dan menduduki bangku paling pojok. Tapi dia sama sekali tidak akan membaca buku yang ia pinjam, tatapannya selalu mengarah ke jendela. Seperti sedang memikirkan sesuatu.

“Bagaimana tidak terlihat murung? Ia sedang menunggu seseorang, dan orang itu belum datang juga.” Ucap Minzy. “Mungkin ia terlambat.” Ucap Victoria.

“Kurasa Ji Yong menyukaimu, Dara.” . “Ya! Kau ini jangan asal bicara. Tak mungkin Ji Yong Oppa akan menyukaiku, apalagi saat ini Cho Kyuhyun sudah menjadi namjachinguku.” Tukasku kepada Jessica.

“Kau tidak mulai menyukai Cho Kyuhyun kan?” tanya Minzy. “Tentu saja. Aku kan hanya menuruti perintah kalian saja.” Ucapku pelan.

“Kurasa perkataan Jessica ada benarnya.” Gumam Victoria. “Kau masih ingat dengan perkataanku waktu lalu, kalau Ji Yong Oppa mempunyai masa lalu yang cukup buruk? Jadi, tak mungkin ia selalu ke sini jika tidak ada alasannya.” Sambungnya.

“Alasan?”

“Ya! Bukan Ji Yong namanya kalau ia menjadi kutu buku.”. “Apalagi jika kuperhatikan saat ia di sini, ia tak pernah membaca buku yang ia pinjam, pasti ia menatap ke luar jendela.” Ucap Jessica sok tahu.

“Entahlah, aku tidak ingin memikirkan itu sekarang.” Ucapku sambil bangkit berdiri dan berjalan menghampiri bangku yang biasa ia tempati. Aku terduduk di bangku sebelah dan menaruh kepalaku di atas meja dan menatap bangkunya. Di tempat inilah ia duduk termenung, entah apa yang ia renungkan.

Seketika pikiranku mendadak kacau, bayangannya tiba-tiba muncul. Bayangan saat ia sedang menatap jendela itu dengan tatapan kosong. “Apa yang kau lakukan di sini?” tanya seseorang mengagetkanku. Aku langsung terduduk tegap sambil mengerjapkan mata berkali-kali. Itu dia, Kwon Ji Yong.

“Oh, a-aku…. Sedang membersihkan tempat ini dan karena aku merasa lelah jadi kuputuskan untuk beristirahat di sini.” ucapku salah tingkah. Tak jarang aku menyadari kalau aku begitu bodoh. Kenapa alasan yang tidak masuk akal itu yang hanya terpikirkan olehku?

“Oh, begitu.” Jawabnya datar.

“K-kau terlambat.” Ucapku tanpa sadar.

“Apa kau menungguku?” tanyanya dengan tatapan curiga. Aduh, memangnya apa yang barusan kukatakan sampai-sampai ia berbicara seperti itu? Oh, Sandara Park k-kau…

Aku menundukkan kepala sambil menggaruk bagian belakang leherku. Aku bisa merasakan wajahku sedang memerah. Aigo, apa yang harus kulakukan? Meninggalkan tempat ini? itu tidak mungkin karena ia berdiri menghalangi jalan. tidak mungkin aku akan berlari di atas meja itu membuat reputasiku di matanya akan menjadi jelek.

“Dara-ah, maaf aku terlambat.” Ucap Kyuhyun saat memasuki ruang perpustakaan dan berlari kecil menghampiri kami. “Oh, Jiyong apa yang kau lakukan di sini? tak biasanya.” Ucap Kyuhyun sambil menatap Ji Yong. “Oh, Sparkyu. Aku hanya ingin membaca saja. Memangnya salah jika aku berada di sini?”

“Tidak, hanya saja… kau kan tidak suka membaca buku.” Tukas Kyuhyun. “Itu kan dulu.” Jawab Ji Yong singkat.

“Dara, apa kita jadi menonton? Ji Yong apa kau mau ikut bersama kami?” tanya Kyuhyun.

“Tidak, kalian saja yang pergi. Jika aku ikut bersama kalian, aku pasti akan mengganggu acara kalian….” Ucap Ji Yong, pandangannya mulai tertuju pada buku yang ia bawa. “Baiklah kalau begitu, Dara ayo kita berangkat. Kita sudah terlambat.” Ucap Kyuhyun berpamitan kepada sahabatnya, Ji Yong dan langsung menarikku ke lapangan parkir. Aku hanya bisa pasrah saat diseret oleh Kyuhyun ke lapangan parkir. Saat itu aku teringat pada ucapan Victoria. Aku tak boleh melakukan hal yang gegabah.

“Dara, hari ini aku senang karena bisa pergi denganmu. Biasanya kau selalu sibuk saat aku akan mengajakmu berkencan.” Ucap Kyuhyun sambil melepaskan ikatan helmnya yang masih kupakai dan melepaskannya.

“Mian, Oppa. Kau tahu sekarang aku sangat sibuk karena Mrs. Lee yang menempatkanku sebagai petugas perpustakaan.”

“Ya Dara, aku hanya bercanda jadi kau jangan cemberut seperti itu lagi. Aku akan menjemputmu besok.” Pamit Kyuhyun sebelum ia meninggalkanku.

***

@Sekolah – jam istirahat pertama.

“Siapa dia? Tampan sekali. Dia tampan seperti Ji Yong Oppa.” Ucap Choi Sooyoung kepada Tiffany, sahabatnya saat Kyuhyun berjalan melewatinya. “Dia Cho Kyuhyun dan kudengar-dengar ia sekarang berpacaran dengan Sandara Park.” Jawab Tiffany.

“Sandara Park?” . “Dia memang tampan sekali. Tapi, sangat di sayangkan jika ia berpacaran dengan Sandara.” Ucap Tiffany.

“Dia seharusnya memilih gadis cantik seperti kita, bukannya memilih gadis yang buruk itu.” ucap Choi Sooyoung dengan nada yang cukup keras. Ia berusaha mengompor-ngomporiku ketika aku, Minzy, Jessica, dan Victoria berjalan melewatinya.

“Kenapa kau berkata seperti itu?!” tukasku tidak terima atas perkataannya barusan. “Karena itu kenyataannya!” ucap Choi Sooyoung tak mau kalah. “Sudahlah, jangan dengarkan dia, Dara.” Gumam Minzy berusaha menenangkanku.

“Kurasa ia menjadi pacar Cho Kyuhyun karena keterpaksaan. Kau tahu? Ia hanya menyukai Kwon Ji Yong dan dengan menjadi pacar Cho Kyuhyun ia bisa mendekati Kwon Ji Yong.” Ucap Tiffany dengan raut wajah evilnya.

“Licik sekali. Fany, sebaiknya kita pergi dari sini.” ajak Choi Sooyoung. “Hmm… kita bisa menjadi buruk jika terlalu lama di sini.” Ucap Fany sambil meninggalkan kami.

“Apa yang mereka katakan memang benar. Aku sudah membohongi Cho Kyuhyun.” Ucapku. Air mataku sudah tidak bisa dibendung lagi. “Aku memang gadis yang sangat buruk.”

“Sandara… i-itu tidak benar.” Gumam Jessica.

“Hiks, aku memang jahat.”

***

“Dara-ya, besok aku akan datang menjemputmu saat berangkat ke sekolah.” Ucap Kyuhyun saat ia menghentikan motornya di depan rumahku. “Oppa tidak perlu menjemputku lagi.” Ucapku. Aku tidak berani untuk menatap wajahnya.

“Apa kau sibuk?” tanyanya. “Tidak. Maksudku adalah tolong jangan dekati Sandara lagi.” Aku menghela napas lega setelah mengucapkan kata-kata yang memang ingin kuucapkan dari dulu. “Ada apa denganmu? Apa salahku?”

“Oppa, dari dulu aku tak pernah menyukaimu dan aku tidak pernah setuju menjadi pacarmu.”

“Jadi, apa artinya selama ini?”

“Mianhae, Oppa.”

“Dara….” Gumam Kyuhyun. Aku tidak tahan jika harus berada di sini terlalu lama. Itu akan membuatku tersiksa. “Kenapa kau melakukannya padaku?” . “Mianhae Oppa, Mianhae.”

***

Setelah pelajaran Matematika, aku menuju ruang perpustakaan dan berjalan melewati koridor-koridor sekolah sendiri karena Minzy, Jessica, dan Victoria ingin ke kantin terlebih dahulu. Sebenarnya mereka mengajakku ke kantin tapi, hari ini aku sedang tidak ingin melakukan sesuatu. Tadinya aku sempat berpikir untuk absen menjaga perpustakaan tapi aku membatalkan niatku itu.

Klek.

Ia sudah ada di sana, seperti biasa di tempat biasa. Ji Yong sudah terduduk manis di bangku paling pojok dekat jendela. Matanya sibuk menatap buku yang ia pinjam.

Aku bergegas ke tempatku sembari menunggu ketiga sahabatku. Aku kembali menatap Ji Yong yang saat ini ia sudah tidak lagi menatap bukunya melainkan menatap ke luar jendela. Entah keberanian dari mana, aku menghampirinya.

“Kenapa kau selalu menatap ke luar jendela?” tanyaku to the point. “Apa aku harus menjawabnya?” . “A-aku…” aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Pertanyaannya sungguh sulit untuk dijawab.

“Dari sini kau bisa melihat dengan jelas orang yang kau sayangi.” Ucapnya sambil terus menatap ke luar jendela. Aku sama sekali tidak mengerti apa yang ia katakan. “Aku tidak mengerti.” Jawabku singkat tapi itu benar.

“Kau bisa melihatnya dengan jelas dari jarak yang cukup jauh.” Aku semakin dibuatnya bingung. Aku menatap ke luar jendela. Yang kulihat hanya sekelompok siswa putri yang sedang bermain basket. “siapa orang yang kau sukai?” pertanyaan itu meluncur dengan sendirinya, aku langsung membekap mulutku.

Ji Yong tidak menjawab pertanyaanku. Bodoh memang jika aku harus bertanya seperti itu kepadanya. “Dia… dia berbeda dengan gadis lainnya. Dia mempunyai bakat yang tidak semua gadis memilikinya.” Ucapnya sambil terus menatap ke luar jendela.

“Apa gadis itu Choi Sooyoung?” tanyaku. hanya Choi Sooyoung-lah satu-satunya gadis yang mempunyai bakat yang menurutku sedikit berbeda dari banyak gadis yang ada di sekolah ini. “Apa aku harus menjawabnya?” tanya Ji Yong. Kali ini ia sedang menatapku.

“Aku harus pergi.” Jawabnya datar sambil bangkit berdiri dan pergi meninggalkanku yang masih terpaku. Aku kembali melihat sekelompok siswa putri yang sedang bermain basket. Choi Sooyoung tampak lincah dan lihai saat bermain. Tidak seperti aku, lemah terhadap apapun.

“Dara, apa yang kau lakukan di situ?” tanya Minzy dari ambang pintu. “Oh, aku hanya ingin melihat cuaca hari ini saja.” Ucapku sambil berjalan dan menghampiri Minzy. “Oh, apa benar kau sudah putus dengan Cho Kyuhyun?” bisik Jessica memastikan, raut wajahnya begitu meyakinkan. Aku hanya menggangguk pelan.

“Pantas saja si Choi Sooyoung berbuat ulah lagi.” Gerutu Victoria. “Apa maksudmu?” tanyaku dan Jessica serempak. “Ya! Saat Cho Kyuhyun sedang mengendarai motornya menuju lapangan parkir, Choi Sooyoung berpura-pura terkilir dan terjatuh. Mau tidak mau Cho Kyuhyun membantunya dan mengantarkannya pulang. kalau aku dengar-dengar dari sahabatnya, Tiffany. Ia dan Cho Kyuhyun sedang menjalin hubungan.”

Keesokan harinya……

“Dia belum datang,” gumamku sedikit pelan saat masuk ke ruang perpustakaan. “Apa kau tadi mengatakan sesuatu, Dara?” tanya Minzy, rupanya ia mendengarkan gumamanku barusan. Aku langsung menggelengkan kepala dengan cepat.

Cklek.

“K-kau kesini lagi?” tanyaku pada Ji Yong saat ia berjalan menghampiriku. ‘cepat, katakanlah apa yang sebenarnya sudah terjadi. Apa kau ingin melihatnya patah hati karena Choi Sooyoung?’ batinku dalam hati.

“Dara, umm… aku ingin menyatakan perasaanku pada…” Ji Yong belum menyelesaikan kata-katanya, aku sudah memotongnya. “Oppa, kau tidak boleh menyatakan perasaanmu padanya, ia tidak baik untukmu.” Ucapku sedikit terisak. Ji Yong hanya menatapku dengan tatapan bingung sekaligus sedih sebelum akhirnya ia pergi meninggalkanku.

“Apa yang aku lakukan? Kenapa aku bersikap egois padanya?” ucapku pelan sementara air mataku mengalir deras tak kunjung berhenti ini sungguh mengganggu.

“Dara… kau mau kemana? Bukankah kita hari ini harus menjaga perpustakaan?” tanya Jessica. Ia tampak bingung karena melihatku berlari meninggalkan ruangan ini. aku tidak menjawab pertanyaannya, itu tidak mungkin karena pasti mereka tahu kalau aku sedang menangis.

Kudorong seseorang yang menghalangi jalanku dan berlari sekencang-kencangnya sambil menundukkan kepala. Kemana dia? Pikirku dalam hati sambil terus berlari. Koridor sekolah tampak penuh karena ini jam istirahat, tak ada celah sedikit pun diantara tubuh-tubuh yang saling berhimpitan.

Kudorong mereka dengan marah, melawan tangan-tangan yang balas mendorongku. Kudengar seruan-seruan kesal dan bahkan jerit kesakitan saat aku berjuang menerobos kerumunan. Aku nyaris menangis lega saat menemukannya. “Ji Yong Oppa!” teriakku sia-sia. Kerumunan ini terlalu berisik, dan suaraku terengah-engah karena lelah. Tapi aku tak bisa berhenti berteriak.

Itu benar-benar Ji Yong. Ji yong berdiri tak bergerak sperti patung – memunggungiku, hanya beberapa meter dariku.  “Oppa, maafkan aku. Tidak seharusnya aku bersikap egois padamu. Dan… aku ingin bilang sesuatu padamu.” Aku menghela napas sesaat dan berkata, “Aku sangat menyukaimu. Aku sudah menyukaimu selama 2 tahun. Dara… menjadi pacar Kyuhyun Oppa, menjaga perpustakaan walaupun di luar jadwal… hanya untukmu. Tapi sekarang aku sadar bahwa hal yang harus kulakukan dari dulu adalah… tidak menghalangimu untuk….” Aku belum melanjutkan kata-kataku, Ji Yong sudah memelukku.

“Sandara Park, We will you be my princess?” bisiknya tepat di telingaku. Aku melepaskan pelukannya ingin meminta penjelasan. “K-kau? Apa maksudmu? Bukankah kau menyukai…” lagi-lagi Ji Yong memotong perkataanku. “Aku menyukaimu, Sandara Park.”

“Hal yang harus kulakukan dari dulu adalah bilang padamu secara langsung bahwa aku mencintaimu.”

“T-tapi, bukankah kau..” . “Ikut aku,” ucap Ji Yong sambil menyeretku kembali ke ruang perpustakaan. “Coba kau duduk di sana dan aku akan duduk di tempat yang biasa kau duduki.” ucap Ji Yong sambil menunjukkan jari telunjuknya ke arah bangku yang biasa ia tempati. Aku hanya menurutinya sambil berjalan ke bangku itu dan duduk di sana.

“Sekarang coba kau menatap jendela, apa yang kau lihat, Sandara Park?” tanyanya. Aku menuruti apa yang ia perintah. Aku menatap jendela dan aku dapat melihat dengan jelas bayangannya yang terpantul di jendela ini.

“J-jadi..”

“Iya, aku selalu memandangmu dari jendela itu. Hanya itulah yang bisa kulakukan untuk dapat melihatmu.”

“Oppa…” ucapku sedikit terharu.

-The End-

Heish, akhirnya author bisa nyelesaiin bahkan ngepost ff cacat ini …… mian, author belum bisa nyelesaiin Someone like you, we will stay together, sweet beginning (tanggungannya author banyak bener -,-“) karena otak author lagi ngadat, macet, buntu, konslet semua jadi satu….

Oh ya, bagi yang sudah baca ff ini walopun enggak seneng blas kuharap kalian mau meninggalkan komentarnya di sini… aku bakal terima kok saran dan kritik anda ^o^ (tapi jangan ngebash)

Baik segini dulu ^o^ cuap-cuapnya… untuk ffku yang lain insyaallah bakal bisa di post minggu depan, ke~~ author harap kalian ga pernah bosan mengunjungi blog ini dan…. Tinggalkan komen anda ^o^

Iklan

7 thoughts on “[OneShot] We Will You Be My Princess?

  1. . Annyeong xD
    . Daragon. Yeayy~
    . Syoo agak dikit Antagonis yah u.u

    . Bdw, ini terinspirasi dr A Little Crazy Things Called Love kan, ya? U.u. Aaaaaaa Kak Shone sama Nam, eh? Jdi OOT -,-

  2. “Iya, aku selalu memandangmu
    dari jendela itu. Hanya itulah
    yang bisa kulakukan untuk dapat
    melihatmu.”
    suka klimat yg ini wkekeke. . . . . . >.<
    Daragon couple so swit :3

  3. chingu, ff ini kenapa sama kaya film thailand yang judulnya “crazy little thing called love” ya? tapi kalau ini alurnya agak diacak, tapi mian kalau salah, hehe –“v
    gomawo ffnya! cerita hampir sama kaya film favoritku, hehe
    ffnya jjang! daebak! ^^ walaupun aku sedikit sedih karna perannya sooyoung eonnie, wkwk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s