[Part 1] When Fate Chose an Option

Title: When Fate Chose an Option [Part 1]

Author: Winaasri

Main Cast:

  • Choi Sooyoung (Girl’s Generation)
  • Cho Kyuhyun (SUPER JUNIOR)
  • Kwon Ji Yong aka G-Dragon (BIG BANG)

Genre: Romance, Complicated, Hurt, dll dll (?)

Length: Chaptered~

Disclaimer: This story is really the result of my thoughts and imagination. if there is a common story is beyond my power. and all the characters have different properties from the properties of the original. Please do not plagiarism~ :*

Happy Reading 😀

 

PENDAHULUAN

…….

“Oppa, k-kau masih hidup?”

“Seperti yang kau lihat saat ini,”

“K-kalau kau masih hidup, kenapa kau tidak mengabariku dari dulu? Kenapa Oppa?”

“Mianhae, chagi. Aku ingin memberimu sedikit kejutan.”

“Kejutan? Kenapa kau melakukan itu, Oppa?” Bukannya Yeoja itu senang akan kedatangan namjachingunya, hati yeoja tersebut terlanjur hancur melihat kenyataan yang harus diterimanya dengan bulir-bulir kaca yang turun dari kelopak matanya bagaikan hujan. Yeoja tersebut menangis bukan karena kesalahan yang diperbuat oleh kekasihnya, tetapi ia menangis karena kesalahannya.

Kesalahan yang begitu fatal dan sulit untuk dimaafkan.

****

-WHEN FATE CHOSE AN OPTION-

“Sampai kapan kau akan diam seperti ini, huh? kalau begini caranya cintamu bisa bertepuk sebelah tangan!” ucap seorang namja bernama Kwon Ji Yong kepada Cho Kyuhyun, sahabatnya. Karena mereka sudah bersahabat saat mereka masih kecil, hubungan Ji Yong dengan Kyuhyun sudah seperti kakak-adik. Ji Yong merasa geregetan kepada Kyuhyun yang terus saja memendam perasaannya kepada seorang yeoja yang ia sukai.

“Sampai saatnya sudah tepat.” tukas Kyuhyun singkat dengan ekspresi datar. Tatapan namja tersebut tidak pernah teralihkan oleh sesuatu hal yang kecil saja. Ia terus menatap seorang yeoja yang sedang bercanda ria bersama sahabat-sahabatnya.

“Terserah kau saja, yang penting aku sudah mengingatkanmu akan hal itu! Dan, jika terjadi sesuatu hal pada dirimu atau yeoja tersebut, jangan salahkan aku! Salahkan dirimu sendiri!”

“Kau tak perlu khawatir!” jawab Kyuhyun singkat sebelum akhirnya ia bangkit berdiri dari bangku taman sekolah dan berjalan meninggalkan Ji Yong yang masih tercengang melihat kelakuannya hari ini, tidak seperti biasanya.

“Kau mau kemana?” teriak Ji Yong sambil bangkit berdiri dan berlari mengejar Kyuhyun. Ia kembali menormalkan langkah kakinya begitu sudah menyamai langkah kaki Kyuhyun dan berada di sebelahnya.

“Kembali ke kelas,” Cish! Ada masalah apa sih dia, kenapa dia tak bercerita tentang masalahnya kepadaku? Lihat saja dia! Seperti orang yang tak mempunyai tujuan hidup yang pasti, gerutu Ji Yong dalam hati.

****

Kyuhyun’s Apartement in SEOUL at 22.00 KST

Tidurlah. Tidurlah. Kumohon, tidurlah. Kyuhyun memohon pada dirinya sendiri dengan kedua telapak tangan yang ia tepuk-tepukkan pelan tepat di wajahnya, membuat keheningan yang sempat terjadi di dalam kamarnya sedikit memudar karena suara tepukan itu.

Dengan tubuh yang terbelit selimut yang cukup tebal, Kyuhyun menelengkupkan wajahnya di bantal – berharap kantuk akan menguasainya. Tapi, setelah beberapa menit, dia malah merasa semakin siaga – orang awam pun tahu, bagaimana bisa merasakan kantuk jika menahan napas seperti itu?

Ia pun kembali memutuskan untuk berbaring sejenak, tentu saja dengan keadaan terlentang. Sekarang ia sedikit merasakan kantuk. Dan, kelopak matanya mulai terasa berat. Hanya sedikit menunggu, dan itu mungkin tidak perlu membutuhkan waktu yang lama, ia pasti akan terlelap dan akan terbangun esok paginya.

…. jika terjadi sesuatu hal pada dirimu atau yeoja tersebut, jangan salahkan aku! Salahkan dirimu sendiri!

Kalimat itu mendadak terngiang di pikirannya. Apa maksud dari perkataan itu? Memangnya apa yang akan terjadi padanya – dan diriku? Mendadak pikiran Kyuhyun mulai berkelana, mencoba mengartikan kalimat yang diucapkan Ji Yong siang tadi.

Terjadi sesuatu – padanya dan diriku? Dengan mata terpejam, Kyuhyun terus mengulangi pertanyaan itu dalam benaknya, berharap ia bisa mengerti makna dari kalimat itu. Tapi, siapa sangka dengan tak kunjung datangnya ‘arti’ kalimat yang diucapkan Ji Yong, Kyuhyun akan terlelap karena terbawa suasana kamarnya yang begitu hening dengan iringan suara pergerakan jarum jam yang terdengar seperti lagu ninabobo? Dan, makna yang terkandung dalam kalimat itu biarlah tetap menjadi misteri dan biarkan waktu yang akan menjawabnya.

***

“…. Kyuhyun-ah! Kyuhyun-ah! Apa kau berniat untuk absen ke sekolah, ha? Kyuhyun-ah, bangunlah!” suara itu – suara Eomma Kyuhyun sudah tidak lagi terdengar samar-samar, menandakan Kyuhyun sudah sedikit kembali ke dunia nyata. Ia sedikit kesal dengan Eomma-nya yang sudah merusak suasana paginya.

Setelah memastikan anak lelakinya – Cho Kyuhyun sudah sepenuhnya kembali ke dunia nyata – setidaknya ia tak perlu repot-repot lagi membuang energinya hanya untuk membangunkan Kyuhyun, karena Eomma-nya sangat yakin Kyuhyun tidak akan bisa lagi melanjutkan tidurnya setelah dibangunkan – Eomma Kyuhyun kembali turun ke dapur, melanjutkan kegiatan memasaknya yang sempat tertunda.

Walaupun sinar matahari yang sangat menyilaukan mata dan terasa panas jika mengenai kulit yang terbuka sudah menyorot lewat jendela-jendela kamar yang sengaja dibuka oleh Eomma Kyuhyun – menandakan hari sudah mulai menjelang siang. Kyuhyun sengaja berdiam diri untuk beberapa menit sebelum ia benar-benar akan dibuat ‘sibuk’.

“…. Kyuhyun-ah! Cepatlah bersiap-siap!” samar-samar terdengar suara teriakan Eomma Kyuhyun dari bawah. Tak mau mendengar teriakan Eomma-nya lagi, cepat-cepat Kyuhyun meluncur turun dari tempat tidurnya yang tinggi dan turun ke dapur dengan gontai, sedikit terhuyung-huyung karena kantuknya belum sepenuhnya hilang.

“Kyuhyun, Eomma sudah mempersiapkan keberangkatanmu ke California. Eomma juga sudah memberitahukan hal ini kepada Paman Youngbae, malah dia menawarkan diri untuk menjemputmu di bandara California. Tanpa berpikir lagi, Eomma langsung mengiyakan tawarannya – itu kulakukan supaya uang simpananmu tidak akan habis hanya untuk membayar taksi.”

Kyuhyun mendongak dari mangkuk serealnya. Dengan wajah yang mengernyit, dipandanginya wajah Eommanya yang berada di seberangnya, memasang ekspresi bingung. Cukup butuh waktu yang lama untuk mencerna maksud dari perkataannya. “Apa tidak bisa ditunda untuk sementara waktu, Eomma?”

“Ditunda? Bukankah melanjutkan sekolah di California adalah impianmu?” Eomma Kyuhyun keheranan. “Cho Kyuhyun, kau harus memberikan alasan yang masuk akal untuk Eomma. Eomma tidak mau kehilangan semua tabungan Eomma dengan cuma-cuma hanya karena membatalkan keberangkatanmu. ”

Kyuhyun diam sejenak, mencari kata-kata yang tepat – ia tidak mau hanya karena memberikan alasan yang menyimpang jauh dari kata ‘masuk akal’, Eomma-nya akan memajukan tanggal keberangkatannya ke California.

Sebenarnya Kyuhyun sama sekali tidak merasa keberatan jika Eomma-nya sudah mempersiapkan keberangkatan dirinya ke California dengan matang – karena kebaikan paman Yongbae, Eomma-nya hanya tinggal mengurus keberangkatan Kyuhyun saja. Sedangkan untuk urusan sekolah dan lain-lain, Paman Youngbae-lah yang mengurusnya. Jadi, tak heran jika Eomma-nya sering mengingatkan Kyuhyun untuk rajin belajar supaya tidak mengecewakan pamannya yang baik hati itu.

“Eomma tahu kan kalau aku belum menyelesaikan sekolahku di sini. Jadi, kalau Eomma menyuruhku berangkat ke California dalam jangka waktu yang dekat ini, apa tidak nanggung? Toh, hanya tinggal beberapa bulan saja, kok.” ucap Kyuhyun meyakinkan.

Alasan itu tidak sepenuhnya bohong. Toh, sekolahnya akan selesai dalam beberapa bulan kedepan, tapi, bukan itu alasan utamanya. Tapi, karena Kyuhyun tidak pandai berbohong, bahkan pada dirinya sendiri, sebesar apa pun usahanya untuk meyakinkan Eomma-nya dengan alasan yang sepenuhnya tidak benar dan tidak bohong itu, bau kebohongan pasti akan tercium oleh Eomma-nya.

“Apa itu alasan kau ingin menunda keberangkatanmu ke California?” merasa Eomma-nya sedikit curiga, cepat-cepat Kyuhyun membenarkan pertanyaan Eomma-nya dengan menganggukkan kepala yakin.

Eomma-nya tidak langsung percaya begitu saja. Dengan cermat menelaah gelagat Kyuhyun terhadap kata-kata selanjutnya. “Dulu kau selalu merengek untuk segera pindah ke California, tidak mempedulikan sekolahmu di sini –“ Eomma-nya berhenti berbicara seraya memandangi Kyuhyun, sementara yang dipandangi hanya mampu menundukkan kepala – sudah tidak bisa mengelak lagi. “Eomma tahu kau berbohong.”

Mendengar Eomma-nya mengatakan seperti itu, Kyuhyun semakin tidak bisa berkutik bahkan mengelak kesimpulan Eomma-nya saja tidak berani – yang hanya bisa dilakukan Kyuhyun saat ini hanya menelan ludah dengan suara keras. “M-mianhae, Eomma.”

Eomma Kyuhyun mendesah. “Kau harus mengatakan alasan itu dengan jujur. Jika tidak – Eomma akan melarangmu ke sekolah dan hari ini juga Eomma akan mengirimmu ke California.”

“MWO!!”

***

Kyuhyun’s School at 11.00 KST

Breathing space in garden…

“Ji, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?”

“Bertanyalah,”

“Apa kau tahu makna yang terkandung dalam kalimat ‘jika terjadi sesuatu hal pada dirimu atau yeoja tersebut, jangan salahkan aku! Salahkan dirimu sendiri!’ Aku tak bisa mengartikannya tapi – aku mulai merasakan ‘sesuatu’ akan terjadi padaku dan mungkin akan terjadi juga pada yeoja itu, karena…. ‘sesuatu’ itu juga ada kaitannya dengan yeoja tersebut.”

Ji Yong tidak langsung menjawab – ia malah memejamkan mata. Entah apa yang ia pikirkan. “Aku sama sekali tidak mengerti apa yang kau bicarakan, Hyung. Siapa yeoja itu? Apa yang kau maksud adalah Sooyoung? Memangnya, apa yang akan terjadi?”

“Ssstt!” desis Kyuhyun, memandang sekeliling untuk memastikan tak ada yang mendengar perkataannya barusan. “Ji, kau ini berpura-pura tidak tahu atau kau benar-benar tidak tahu?”

Tak ada jawaban. “Ha, baiklah akan kujelaskan semuanya padamu, Ji. Yeoja yang kumaksud tentu saja Sooyoung, memangnya aku pernah menceritakan yeoja lain padamu selain Sooyoung?” Ji Yong hanya menggeleng tanpa sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. “Dan, tadi pagi Eomma kembali membahas tentang keinginanku bersekolah di California.” lanjut Kyuhyun, nadanya terdengar berat.

“Lalu? Seharusnya kau merasa senang karena keinginanmu itu akhirnya terwujud, bukan bersedih seperti itu.” ucap Ji Yong. Nadanya terdengar seperti nada jijik, terutama saat mengucapkan kata ‘bersedih’. “Oh, yang benar saja! Jika kau akan melanjutkan sekolah di California, bagaimana dengan Sooyoung?”

“Ya, Ji! Jika kau berteriak seperti itu, apalagi kau juga menyebutkan namanya, semua orang akan mengetahuinya! Rahasiaku akan terbongkar begitu saja!”

“Hyung! Kau masih menganggap itu sebuah rahasia? Tak ingatkah kau tentang California, huh? Kau akan pindah ke California, Hyung! Sementara Sooyoung, ia berada di sini. Di Korea Selatan.”

Kyuhyun menarik napas dalam-dalam dan beberapa saat menerawang menatap tanah. Dan begitu ia mendongak, matanya terlihat berbeda, penuh dengan segala kesedihan. “.. Hyung…” kata Ji Yong lirih begitu melihat secercah kepedihan terpancar dengan jelas di matanya – tentu saja Ji Yong akan menyalahkan dirinya sendiri karena ia telah mengatakan hal yang seharusnya tidak dikatakan olehnya. “Maaf… seharusnya aku menghiburmu, bukan malah membuatmu semakin – “

“Ini bukan salahmu, Ji.” Kyuhyun menyela dengan cepat.

“Memang bukan salahku. Salah kita berdua,”

“Well, cukup adil.”

“Omong-omong, kapan kau akan pindah ke California?”

Kyuhyun mengangkat bahunya. “Kapannya aku tidak tahu pasti,” Jawab Kyuhyun, dari nada suaranya terdengar seolah-olah jawaban itu sudah sangat jelas, tidak perlu ditanyakan lagi.

“Bukan itu, ..Maksudku….” Ji Yong tetap menjawab. Mengerti akan kata ‘maksudku’, sejenak Kyuhyun terkekeh geli, “Aku akan menyelesaikan sekolahku di sini dulu.”

Ji Yong tidak langsung menjawab. Ia sedikit tidak mengerti maksud perkataan Kyuhyun karena ia sedikit tidak menyimak saat Kyuhyun berbicara. “Well, masih ada 5 bulan lagi,” ujar Ji Yong seolah-olah itu bukan merupakan sebuah masalah besar. “Hyung, aku mempunyai ide yang sangat cemerlang. Kau pasti tidak akan bisa menolaknya.”

Kyuhyun mengernyitkan keningnya, ia dapat merasakan ini akan menjadi suatu hal yang sangat buruk baginya. “Ide cemerlang?”

Tidak menjawab, Ji Yong langsung menyeret Kyuhyun entah ke mana. Dengan ekspresi wajah yang begitu yakin – seakan- akan ekspresi wajah yakin itu memperlihatkan sang pemilik wajah sangat siap untuk berperang, berperang untuk memihak kebaikan – Ji Yong terus menyeret Kyuhyun meninggalkan taman tanpa mempedulikan bertubi-tubi pertanyaan yang Kyuhyun luncurkan ke Ji Yong. Pertanyaan-pertanyaan yang diucapkan dengan kalimat yang berbeda, namun hanya memiliki satu makna yang sama, maka tak heran jika semua pertanyaan itu bisa terjawabkan dengan satu jawaban saja.

Dengan terpaksa Kyuhyun kembali menelan salah satu dari sekian banyak pertanyaan yang sudah berada di ujung bibirnya ketika ia menyadari Ji Yong sudah berhenti berjalan – bahkan tangannya sudah tak lagi menggenggam tangan Kyuhyun.

Kyuhyun memandangi Ji Yong sejenak, tetapi Ji Yong tetap acuh dengan pandangan lurus ke depan. Wajahnya berseri-seri; dengan mata cokelatnya bersinar-sinar, seperti menatap sesuatu di depannya. Melihat ekspresi Ji Yong yang sangat tidak wajar, cepat-cepat Kyuhyun mengalihkan pandangannya dan melihat sekeliling.

Dia baru menyadari kalau dirinya dan Ji Yong sudah berada di koridor sekolah yang cukup sepi – mungkin karena jam istirahat sudah habis; tapi Kyuhyun tidak mendengar bunyi bel tanda jam istirahat sudah usai. “Ji, kau sedang mengkhayal? sebaiknya kita kembali ke kelas saja.”

“Kembali ke kelas? Tidak. Hyung, kesempatan tidak akan terulang lagi, cukup sekali. Maka dari itu, kita harus mencobanya, meskipun hasilnya tidak sesuai dengan yang kita harapkan.”

“… Tapi, bagaimana dengan Choi Seongsaenim? Jika dia mendapati bangku kita masih kosong, ia akan – “

“Sekalipun Choi Seongsaenim memberikan hukuman, kita tetap harus mencobanya.” sela Ji Yong dengan cepat.

Kyuhyun ternganga mendengarnya. Benar-benar hal buruk! Seharusnya aku menolak saat ia menyeretku untuk melakukan hal gila ini! Kyuhyun ppabo, bagaimana bisa kau tidak mengetahui ini semua? Kau kan sudah lama mengenalnya, mengenal seorang namja yang selalu mengenakan beberapa setel pakaian yang sangat mengerikan jika dipandang, tentu saja kebiasaan namja bernama Ji Yong itu tidak dalam bidang fashion saja, bahkan dalam kehidupan sehari-harinya saja selalu melakukan hal-hal gila yang sangat menantang – terlalu gila jika dilakukan oleh seorang manusia yang tidak pernah bahkan untuk mencoba hal-hal aneh saja tidak ingin.

Ji Yong tertawa, suaranya yang cempreng bergemerincing; membahana di sepanjang koridor, membuat beberapa pasang mata yang berlalu-lalang di koridor tempat ia berdiri menatapnya dengan ekspresi yang berbeda-beda. “Hyung, kau pasti akan menikmati semua rencanaku meskipun kita akan menerima hukuman dari Choi Seongsaenim.”

“Ish, kau ini… benar-benar seorang manusia yang penuh dengan kegilaan!”

“Yeah, aku memang penuh dengan kegilaan, tapi setidaknya semua wanita di seluruh penjuru sekolah selalu melirik ke arahku jika berpapasan denganku.”

Kyuhyun mendengus. “Huh, mereka melirikmu juga karena style pakaianmu yang kelewat gila.”

“Hyung, kau harus mempersiapkan mentalmu,” Ji Yong mengganti topik pembicaraan, nadanya tetap ringan. Membuat Kyuhyun bergidik (?) ngeri – tentu saja bukan karena Ji Yong berkata seperti itu, tetapi karena perubahan aura Ji Yong yang tidak wajar. “M-memangnya ada a-apa?” gumam Kyuhyun pelan, sedikit terbata-bata.

Tidak menjawab, Ji Yong malah mendorong tubuh Kyuhyun ke depan dengan sekuat tenaga, membuat si pemilik tubuh mau tak mau terdorong maju beberapa langkah. “E-eh, apa yang kau lakukan!”

“Mendorongmu,”

“Hei, bocah yang tidak tahu sopan santun! Kau berani mendorong orang yang lebih tua darimu, huh?”

“Cepatlah, Hyung! Marahnya nanti saja, bahkan kau boleh mendorongku balik. Ini kesempatan emas bagimu untuk menyatakan perasaanmu pada Sooyoung!”

“Aku tidak ingin menuruti perka – MWO!!! MENYATAKAN P-PERASAANKU PADA S-SOOYOUNG?”

Ji Yong mencibirkan bibirnya, “Hyung, jika kau berteriak seperti itu, Sooyoung bisa kabur entah ke mana.” “Bagaimana? Kau mau? Jika tidak, biar aku saja yang menyatakannya!” sambung Ji Yong, sedikit berargumen dengan melangkahkan kakinya – hendak menghampiri Sooyoung yang tengah duduk santai di depan kelasnya.

“A-apa?” pekik Kyuhyun, sedikit terlonjak. “Tidak, tidak.. aku mau kok!” Kyuhyun langsung berlari menyusul Ji Yong.

“Apa? aku tidak mendengarnya,” ucap Ji Yong dengan salah satu telapak tangannya yang ia tempelkan di telinganya, membentuk sebuah corong dan sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Kyuhyun.

“Aku akan melakukannya.”

“Nah, begitu kan enak didengar. FIGHTING, Hyung!” Ji Yong melangkahkan kakinya ke belakang lalu berhamburan ke salah satu tiang bertembok penyangga koridor – bersembunyi – yang berada tidak jauh dari tempat Kyuhyun berdiri saat ini. Sesekali Ji Yong menyembulkan kepalanya, menatap Kyuhyun seraya menyemangati dengan mulut yang ia komat-kamitkan(?) tanpa suara.

Muak melihat tingkah laku Ji Yong, akhirnya Kyuhyun memberanikan melangkahkan kakinya ke arah Sooyoung yang sedari tadi masih terduduk santai di depan kelasnya, malah Kyuhyun baru menyadari bahwa Sooyoung tengah sibuk melihat dan membaca sebuah komik ketika jaraknya dengan Sooyoung hanya tinggal beberapa langkah saja  – walaupun begitu, Sooyoung belum menyadari keberadaan Kyuhyun yang sedang ‘dalam perjalanan’ ke arahnya. Kyuhyun mulai merasakan langkah kakinya yang semakin lama semakin berat untuk dilangkahkan. Entah grogi atau kakinya yang memang sudah tidak bisa lagi untuk digerakkan, dia sama sekali tidak tahu penyebabnya.

Oh, ayolah, Kyu… ini bukan pertama kalinya kau menyatakan perasaanmu pada seseorang yang kau sukai! Kyuhyun mengembuskan napas sekuat mungkin sebelum ia menghadapi apa yang akan ia hadapi nanti. “H-hai,”

Sooyoung mendongak dari buku komik yang sedang ia baca, keningnya terlihat mengkerut dipenuhi guratan-guratan bingung, sementara matanya menatap Kyuhyun yang saat ini tengah berdiri tegap di hadapannya dengan tajam. “Hai,” jawab Sooyoung akhirnya. “Ada apa?”

“Tidak apa-apa. k-kebetulan aku lewat sini dan – melihatmu tengah asyik membaca. Apa aku salah jika menyapamu? ” Kyuhyun berusaha keras untuk menjaga nadanya supaya tetap terdengar santai dan tidak kaku, tetapi sepertinya gagal total.

“Oh, tidak, sama sekali tidak salah. Omong-omong kau sedang – well, kurang enak badan? Wajahmu terlihat pucat.”

Kyuhyun tidak bisa berkutik. Ia mengalihkan pandangannya ke arah Ji Yong yang tengah meringkuk memunggungi tiang bertembok itu, tubuhnya bergerak-gerak tidak menentu dengan kedua telapak tangan yang ia gunakan untuk membungkam mulutnya. Sialan, ia malah menertawaiku! Kyuhyun menggertakkan giginya dengan kasar. Entah rasa canggung, malu, atau rasa kesal yang sedang menyelimuti dirinya saat ini.

“Maaf, aku tidak bisa berlama-lama di sini. a-aku harus pergi,”

Pergi? Dengan cepat, Kyuhyun menoleh dan mendapati Sooyoung sudah tidak lagi terduduk. Beginikah hasilnya? Bahkan, aku belum sempat berkenalan dengannya – siapa tahu ia belum mengenalku – apalagi menyatakan perasaanku padanya. Tapi, apa yang bisa kuperbuat? Melarangnya pergi? Apa langsung berteriak ‘Sooyoung, saranghae’? Pilihan terakhir tidak mungkin kulakukan, apa kata orang nanti jika aku melakukannya? Tapi aku juga tidak bisa melarangnya pergi! “Oh, baiklah. sampai ketemu nanti!” ucap Kyuhyun dengan berat hati.

Sooyoung hanya tersenyum simpul, lalu berjalan meninggalkan Kyuhyun yang tengah menatap kepergiannya dengan tatapan sendu dan pasrah – tentu saja Sooyoung tidak menyadari tatapan sendu itu. “Eh!” tanpa disadari, Kyuhyun berteriak memanggil Sooyoung. Sooyoung menghentikan setengah langkahnya dan berbalik menghadap Kyuhyun. “Ada apa?”

“Kalau boleh tahu – siapa namamu?”

“Choi Sooyoung. Kau boleh memanggilku Sooyoung,”

“Well, aku Cho Kyuhyun,” Kyuhyun memperkenalkan dirinya dengan canggung, tapi Kyuhyun berusaha tersenyum supaya kecanggungan itu tidak terlalu terlihat.

Sooyoung hanya tersenyum simpul – senyum yang sangat otentik terkuak di wajahnya, tapi Kyuhyun tidak menyadarinya. “Baiklah kalau begitu, aku harus pergi,” Sooyoung melambaikan tangannya dan berlari kecil masuk ke dalam kelasnya.

Melihat Sooyoung sudah tidak lagi berada di luar kelas, Ji Yong langsung keluar dari tempat persembunyiannya dan berlari kecil menghampiri Kyuhyun yang sedari tadi masih berdiam diri. “Bagaimana, Hyung? Kau sudah menyatakan perasaanmu padanya? Lalu, ia juga memiliki perasaan yang sama padamu?”

“Menurutmu? Apa menurutmu dengan melihat keadaanku yang kurang baik ini aku berhasil menjalankan ide cemerlangmu itu?” Kyuhyun berbalik bertanya sebelum akhirnya ia membalikkan tubuhnya ke belakang kemudian berjalan meninggalkan Ji Yong yang masih tercengang mendengar perkataan Kyuhyun.

Apa rencanaku tidak berhasil? Padahal aku sudah merencanakannya dengan matang, bahkan menurut Lee Chaerin, sahabat dekat Sooyoung, rencana ini akan menghasilkan hasil yang begitu memuaskan – kebetulan ia juga ikut campur tangan atas rencana ini, bahkan bisa dikatakan ini adalah rencana kami berdua, malah sudah direncanakan dari setahun yang lalu, hanya saja untuk melaksanakan rencana ini belum ada waktu yang tepat. “Hyung, kan kita masih punya banyak waktu. Mungkin ini bukan saatnya!”

“Atau mungkin aku dan Sooyoung tidak berjodoh,”

“Kau tidak boleh berkata seperti itu, Hyung! Bagaimana jika menjadi kenyataan? Hyung, jodoh itu sepenuhnya ada di tangan kita dan semua itu juga tergantung dengan cara bagaimana kita menjalaninya.”

“Kalau hanya berbicara seperti itu aku juga bisa, Ji. Sudahlah, aku sedang tak ingin membahasnya la –“

“Kyuhyun!”

Ji Yong dan Kyuhyun saling pandang. “Kyu, bukankah itu suaranya Sooyoung?” tanpa menunggu lama mereka berdua langsung membalikkan tubuh secara bersamaan, dan ternyata benar kalau suara itu memang suara Sooyoung.

“Ada apa?” tanya Kyuhyun ragu-ragu begitu melihat ekspresi Sooyoung begitu berbeda dengan yang tadi.

“Bolehkah aku….,”

“Apa?”

“Kyuhyun, a-aku menyukaimu.”

ToBeContinued

~ Semacam Epilog~

“Eomma tahu kan kalau anak laki-laki Eomma adalah seorang pria yang normal? Eomma juga tahu kan kalau anak Eomma bernama Cho Kyuhyun mempunyai banyak karisma dan ketampanan yang begitu luar biasa? Lalu, apa tidak aneh jika putra Eomma sama sekali tidak mempunyai seorang – pendamping hidup?”

“A-apa maksudmu? Eomma tidak habis pikir, mengapa kau begitu percaya diri, huh?” Eomma Kyuhyun berusaha mati-matian menahan tawanya yang ingin meledak seketika saat mendengar pengakuan putranya. “Apa kau sedang menyukai seseorang?”

Kyuhyun hanya diam – selain merasa malu saat Eomma-nya bertanya seperti itu, ia juga merasa shock. Bagaimana bisa Eomma-nya mengatakan kata ‘huh’? Ini kali pertamanya mendengar Eomma-nya berkata seperti itu, jadi tak heran jika Kyuhyun merasa shock. Memang tak ada salahnya jika Eomma Kyuhyun berkata seperti itu, hanya saja….. terdengar seperti – seperti sedang bersenandung!

“Baiklah, Eomma akan menunda keberangkatanmu hingga kau lulus SMA. Tapi, jika selama tenggat waktu yang Eomma berikan kau masih belum mempunyai seorang kekasih, Eomma tidak akan menunda keberangkatanmu lagi meskipun kau memohon sambil bersujud di hadapan Eomma. Ini kulakukan karena Eomma sayang padamu.”

***

annyeong… cukup sekian duyuu… aku tunggu comment kalian 😀

Iklan

5 thoughts on “[Part 1] When Fate Chose an Option

  1. Daebak!!!

    #Lirik Readers lainnya

    Kok sepi? Gak ada yang coment??

    Ini keren,tapi aku kurang ngerti waktu diawal.Bahasanya huahhh daebak banget ^^

    Kayaknya kyu oppa CANGGUNG banget >.<
    Dan oh,no !
    Kenapa soo eon yang jadi ngutarain perasaannya.Ya! Jjinja pabo namja! #lirik kyu sekilas

    Tapi,lanjut!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s